GP Ansor: Fahri Hamzah Tak Mengerti Sejarah Islam

Senin, 30 Juni 2014 | 20:52 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Nusron Wahid
Nusron Wahid (Istimewa)

Jakarta - Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid, menilai Anggota Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Fahri Hamzah tak memahami sejarah Islam hingga menganggap Jokowi Sinting karena akan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Nusron, Jokowi jauh lebih baik karena menebar kebaikan-kebaikan yang sifatnya inspiratif seperti Hari Santri, Hari Inovasi Nasional, Hari Buruh dan lain-lain. Itu jauh lebih baik daripada menebar janji kekuasaan dan kursi menteri kepada semua pendukungnya.

"Lagian dengan memberikan Hari Santri Nasional itu, apakah mengganggu produktivitas bangsa Indonesia? Saya kira lebih banyak manfaatnya dari pada mudharatnya," kata Nusron di Jakarta, Senin (30/6).

"Fahri itu orang tidak tahu dan memahami sejarah Islam. 1 Muharram itu hari sakral, sebab hari itu merupakan momentum hijrah."

Menurutnya, hijrah itu seharusnya tak hanya dimaknai simbolik sebagai perjalanan dari Makkah menuju Madinah. Tapi juga revolusi mental dari substansi hijrah yang dikontekskan dengan keadaan di Indonesia. Yakni Hijrah dari pemerintahan yang korup menuju pemerintahan yang bersih.

"Termasuk hijrah menuju akhlakul karimah," imbuhnya.

Dia melanjutkan usulan para kyai dan santri yang diamini Jokowi menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional merupakan momentum hijrah menuju akhlakul karimah bangsa Indonesia yang dipelopori para santri.

Hal itu sebagaimana dulu para santri KH Hasyim Asy'ari yang memelopori perang melawan sekutu pada 10 Nopember, kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

"Kalau gagasan itu dianggap sinting, berarti yang menganggap sinting adalah bahlul dan sontoloyo, dan tidak bisa memaknai hijrah dalam konteks santri di Indonesia," tegasnya.

Nusron mengaku Fahri adalah teman dan sahabatnya. Namun karena Jokowi yang diserahi mandat dari kyai dan santri untuk memperjuangkan Hari Santri Nasional, kemungkinan Fahri menjadi sewot sebab Jokowi bukan calon presiden yang dia dukung.

"Mungkin saja dia sewot dan jealous (cemburu). Janganlah di bulan puasa menilai gagasan orang dengan kebencian. Lebih baik banyak ngaji di bulan puasa," kata Nusron.

Lebih jauh, Nusron menilai tidak mengakui hari santri berarti sama saja tidak mengakui peranan santri dalam menciptakan pembangunan karakter dan nasional Indonesia, yang nasionalis, religius dan akhlaaqul karimah.

Sebelumnya, Anggota Tim Sukses pasangan Prabowo-Hatta, Fahri Hamzah menyebut Joko Widodo sinting. Sebutan itu dilontarkan Fahri menanggapi janji Jokowi untuk menetapkan 1 Muharram sebagai hari santri nasional.

"Jokowi janji 1 Muharam hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" Tulis Fahri melalui akun twitternya @Fahrihamzah.

Soal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional muncul saat Jokowi berkampanye ke Pondok Pesantren Babussalam, Malang, Jawa Timur, Jumat (27/6). Para santri dan kyai meminta Jokowi menandatangani perjanjian kesepakatan untuk memperjuangkan Hari Santri Nsional itu.

Pimpinan Pondok Pesantren Babussalam Kyai Haji Thoriq Bin Ziyad menyatakan capres yang mau memperjuangkan hari santri nasional berarti telah memperjuangkan seluruh santri dan ulama. Jokowi, yang mengenakan peci hitam langsung menyanggupi permintaan tersebut.

"Saya menyanggupi permintaan menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai hari santri nasional. Itu wajib diperjuangkan," kata Jokowi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon