Ketika Seorang Nasrani Bangun Dini Menyiapkan Sahur, Itulah Toleransi

Sabtu, 12 Juli 2014 | 23:05 WIB
SA
B
Penulis: Shesar Andriawan | Editor: B1
Acara malam perpisahan SabangMerauke batch 2
Acara malam perpisahan SabangMerauke batch 2 (BeritaSatu.com/Shesar Andriawan)

Jakarta - Sebagai seorang Nasrani, bangun dini hari untuk menyiapkan sahur jelas bukan rutinitas tahunan Mary Sutanto. Itu adalah sebuah anomali.

Anomali itulah yang dijalani Mary selama dua minggu ini. Mary dan keluarga tergabung dalam program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia bernama SabangMerauke.

Tentu bukan sebagai peserta, melainkan sebagai Famili SabangMerauke (FSM) yang menjadi keluarga bagi Anak SabangMerauke (ASM).

Program ini sudah berjalan selama dua tahun. Di tahun pertama, ada 10 ASM dari penjuru Nusantara yang mendapat kesempatan. Tahun ini jumlahnya lebih banyak yaitu 15 ASM yang mana semuanya adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama.

Sejak 28 Juni lalu keluarga Mary mendapat anggota baru, Yasmin Athirah siswi kelas VIII SMPN Banda Aceh. Keberadaan Yasmin lah yang membuat Mary rela bangun antara pukul 2 sampai 3 dini hari untuk menyiapkan sahur.

"Saya sudah terbiasa, dulu kalau ada teman anak saya main ke rumah pas bulan puasa saya juga siapkan sahur. Kalau pas sahur juga saya menemani mereka sampai selesai," ujar Mary yang beragam Kristen Protestan di Jakarta Selatan, Sabtu (12/7).

Mary senang hati menjalani rutinitas itu. Toleransi antar umat beragama bukan barang baru untuknya. Sejak kecil ia sudah terbiasa bergaul di lingkungan yang heterogen.

Ia juga menanamkan hal itu kepada dua anaknya sejak kecil. Bahkan ia mengajak mereka menjadi Kakak SabangMerauke (KSM). Sesuai namanya, KSM bertugas menjadi kakak bagi ASM selama menjalani tiga minggu rangkaian kegiatan SM di Jakarta.

"Mereka mau, bahkan sangat antusias. Sayangnya yang pertama sudah kerja, sedangkan yang paling kecil kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung)," Mary menjelaskan.

Mary menyebut Yasmi sebagai anak yang pendiam. Itulah tantangan baginya untuk membuat Yasmin lebih terbuka. Dan perlahan Yasmin pun menjadi lebih banyak bercerita. Usai menjalani kegiatan ia menceritakannya pada Mary.

Yasmin, berdarah Aceh-Cirebon, sempat punya rasa takut saat tahu akan tinggal dengan keluarga kristen. Ia mengatakan, di Aceh yang mayoritas warganya muslin bergaul dengan warga nonmuslin terasa aneh.

"Sempat takut sebetulnya. Saya memang pernah tinggal dengan Islam Turki yang mereka tidak puasa, jarang sholat. Tapi kalau dengan yang benar-benar beda agama dan kepercayaannya belum," Yasmin bercerita.

"Tapi setelah hampir sebulan tinggal bersama, saya jadi lebih tahu, pikiran saya lebih terbuka. Oh ternyata untuk berteman dengan yang beda agama itu tak masalah, bukan halangan. Kita bisa kok berteman dengan mereka (yang berbeda agama)," tambahnya.

Besok rangkaian kegiatan SabangMerauke batch 2 akan berakhir dan ASM sudah harus pulang ke daerah asal. Mereka akan pulang membawa pengalaman bertemu dengan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, mengunjungi Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Klenteng, dan Kuil Sikh, juga bertemu pasangan juara Olimpiade 1996 Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky.

Mereka akan pulang dengan pemahaman tentang toleransi yang lebih mendalam. Karena di SabangMerauke toleransi tidak bisa hanya diajarkan, tapi juga harus dialami dan dirasakan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon