Said Agil Siradj Minta yang Kalah Pilpres untuk Tidak ke MK

Senin, 21 Juli 2014 | 13:23 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Ilustrasi pilpres yang damai
Ilustrasi pilpres yang damai (Antara/Fanny Octavianus)

Jakarta - Ketua Umum PB Nahdatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj menyatakan dirinya meminta capres yang kalah pada pengumuman 22 Juli 2014 legowo menerima kekalahannya.

Dia menyarankan, capres yang kalah tidak usah lagi memperpanjang polemik dengan membawa ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Harus legowo yang kalah dan yang menang jangan sombong," ujar Said usai acara pengajian di markas DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (20/7) malam.

Said mengatakan, capres dan cawapres harus siap menerima hasil yang akan diumumkan oleh KPU tanggal 22 Juli besok.

"Tidak perlu ke MK, percuma tidak akan efektif," kata Said. "Siapapun yang menang harus kita terima hasilnya."

Pada kesempatan itu, Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar menyatakan bahwa NU dalam sejarahnya selalu menjaga NKRI.

"Tidak pernah dalam sejarahnya NU memberontak," kata Marwan.

Berdasarkan perhitungan oleh sejumlah portal media massa, berdasarkan data rekapitulasi di 497 kabupaten/kota, pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) kemungkinan besar ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pemenang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014.

Pasangan Jokowi-JK unggul atas pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta), dengan meraup 71.107.184 suara (53,19 persen). Pasangan itu unggul di 23 provinsi. Sedangkan Prabowo-Hatta hanya mampu meraih 62.578.528 suara (46,81 persen) dan menang di 10 provinsi.

Pernyataan Said itu dikeluarkan hanya beberapa jam setelah sejumlah elite dan pendukung pasangan Prabowo-Hatta menyatakan pengakuannya atas kemenangan Jokowi-JK.

Pertama adalah putra Amien Rais, Hanafi, yang mem-posting ucapan selamat ke Jokowi-JK di wall Facebook-nya.

"Sebagai generasi muda Partai Amanat Nasional (PAN), kami mengucapkan SELAMAT kepada Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang akan memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam waktu 5 tahun mendatang. Dan kami juga menghaturkan rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya dan rasa hormat kami yang setinggi-tingginya kepada Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Hatta Rajasa yang telah menjaga secara aktif proses demokratisasi negara kita melalui Pilpres tahun ini. Kami berterima kasih pula kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah bekerja keras untuk menjaga dan mengawal proses pemilihan umum yang jujur, bersih dan transparan."

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK, Mahfud MD, juga menyatakan hal senada.

"Pemungutan suara ulang, menurut saya tidak ada gunanya juga. Tidak akan menghilangkan kecurangan-kecurangan itu. Apalagi kalau kecenderungan sudah ada. Nah, pemungutan suara ulang itu menurut hukum sudah lewat waktunya, yaitu 10 hari setelah 9 Juli. Lalu ada kemungkinan penundaan pengumuman sebulan setelah tanggal 9 (Juli), berarti 9 Agustus. Tapi itu juga tidak ada gunanya. Sehingga saya katakan, kalau saya sebagai ketua timkamnas, saya katakan pemilu sudah selesai. Saya kembalikan mandat. Saya sudah tidak berhasil memenangkan Prabowo-Hatta," kata Mahfud, seperti dikutip dalam video wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi.

Belakangan, Mahfud membantah bila dirinya menyatakan hal demikian. Hanya saja, video pernyataannya itu sudah beredar di situs Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=KFaFC1nhgpA&hd=1).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon