Korban Bentrokan di Tiongkok Menjelang Lebaran Hampir 100 Orang

Rabu, 30 Juli 2014 | 19:07 WIB
WS
B
Penulis: Wahyu Sudoyo | Editor: B1
Aparat Kepolisian Tiongkok dengan kendaraan mereka berada dekat Lapangan Tiananmen di Beijing, di mana ratusan pengunjuk rasa tewas dalam bentrokan dengan militer pada tahun 1989.
Aparat Kepolisian Tiongkok dengan kendaraan mereka berada dekat Lapangan Tiananmen di Beijing, di mana ratusan pengunjuk rasa tewas dalam bentrokan dengan militer pada tahun 1989. (AFP PHOTO / GOH CHAI HIN)

Beijing - Bentrokan di Xinjiang, kota yang menjadi tempat tinggal kelompot etnis minoritas Muslim Uighur menyebabkan hampir 100 orang tewas dan terluka. Hal tersebut diungkapkan oleh kelompok yang diasingkan itu, setelah terjadi peristiwa yang disebut pihak berwenang sebagai serangan teror di kantor polisi dan kota itu.

Media resmi pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa puluhan warga sipil dan para penyerang tewas dan terluka dalam serangan oleh kelompok yang membawa pisau dan kapak.

"Petugas polisi menembak mati puluhan orang anggota massa di tempat kejadian," kata kantor berita Xinhua, Rabu (30/7).

Namun Xinhua tidak memberikan rincian jumlah korban dari insiden yang terjadi pada Senin (28/7), sehari menjelang umat Islam Tiongkok berlebaran. Informasi di Xinjiang juga seringkali sulit diverifikasi secara independen.

Portal web pemerintah Xinjiang, Tianshan menggambarkan aksi kekerasan tersebut sebagai serangan teror yang membunuh atau melukai puluhan orang dari kelompok etnis Uighur dan Han.

Han adalah kelompok etnis terbesar di Tiongkok, yang sebagian besar telah bermigrasi ke Xinjiang dalam beberapa dekade terakhir.

Juru bicara Kongres Uighur Dunia Dilxat Raxit, dengan mengutip sumber-sumber lokal Uighur, mengatakan dalam surat elektroniknya bahwa korban tewas dan luka-luka selama bentrokan itu hampir mencapai 100 orang.

Menurutnya, kekerasan itu terjadi ketika Uighur bangkit untuk melawan kebijakan penguasa Tiongkok yang ekstrim bertemu dengan represi bersenjata sehingga mengakibatkan korban tewas dan terluka berjatuhan di kedua belah pihak.

Raxit sebelumnya mengatakan, lebih dari 20 orang Uighur tewas dan 10 orang lainnya luka-luka, sementara total 13 aparat bersenjata Tiongkok tewas atau terluka dan sekitar 67 orang ditangkap.

Kekerasan terjadi di Shache County atau Yarkand dalam bahasa Uighur, kota dekat tepi gurun Taklamakan di bagian Barat wilayah yang luas.

Xinhua mengatakan kejadian bentrokan itu terorganisir dan telah direncanakan.

The Global Times mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan, pihak kepolisian telah mengintensifkan pemeriksaan keamanan di wilayah Kashgar, yang meliputi Yarkand karena ada pekan raya dan bentrokan dengan preman ditemukan memiliki bahan peledak .

Laporan itu mengatakan, beberapa diantara mereka melarikan diri dan kemudian menghasut orang lain untuk menyerang fasilitas pemerintah dan kantor polisi lokal. Media ini menambahkan bahwa mereka juga membajak bis wisata dan menyandera penumpangnya.

Dalam sebuah komentar yang tertera nama penulisnya, Xinhua mengatakan penyerang itu melakukan penghujatan terhadap Islam, agama damai.

"Penembakan mafia oleh polisi ini tindakan tegas dan dibenarkan," katanya menambahkan.

Beijing umumnya menyalahkan separatis dari Xinjiang, karena melakukan serangan teror yang skalanya telah berkembang selama tahun lalu dan menyebar di luar wilayah bergolak dan kaya sumber daya itu.

Di antara insiden paling mengejutkan adalah serangan di pasar Ibu Kota Xinjiang Urumqi pada Mei lalu, yang menewaskan 39 orang dan serangan pisau mematikan di stasiun kereta api Kunming pada Maret, yang menewaskan 29 orang.

Serangan tersebut datang setelah terjadi kecelakaan kendaraan yang menimbulkan kebakaran di Lapangan Tiananmen pada Oktober tahun lalu.

Presiden RRT Xi Jinping, yang mengunjungi Xinjiang pada akhir April memerintahkan tindakan keras setelah terjadi penusukan dan ledakan di stasiun kereta api Urumqi yang menewaskan tiga orang dan melukai 79 orang lainnya pada hari terakhir perjalanannya.

Selama kunjungannya, ia menyerukan strategi menyerang lebih dahulu untuk memerangi terorisme dan menyebut daerah Kashgar sebagai garis depan dalam upaya antiteroris RRT.

Kelompok-kelompok HAM dan analis menuduh kebijakan pemerintah Tiongkok yang menekan budaya dan agama menjadi bahan bakar kerusuhan di Xinjiang, yang berbatasan dengan Asia Tengah.

Pemerintah Tiongkok berpendapat, pihaknya telah meningkatkan pembangunan ekonomi di daerah itu dan telah menjunjung tinggi hak-hak minoritas di negara dengan 56 kelompok etnis yang diakui itu.

Selain itu pemerintah Tiongkok juga telah mengatakan bahwa ekstrimis di Xinjiang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok radikal dari luar negeri, meskipun banyak analis asing yang skeptis dengan menunjuk ketidakpuasan kelompok etnis Uighur.

Bentrokan mematikan yang melibatkan kelompok Uighur, polisi setempat dan aparat keamanan menyatakan hal ini merupakan hal luar biasa.

Bulan lalu, pemerintah daerah itu mengatakan bahwa polisi menembak mati 13 orang setelah mereka mengarahkan kendaraannya ke gedung polisi dan memicu ledakan.

Media pemerintah melaporkan pada Juni tahun lalu setidaknya 35 orang tewas ketika massa yang membawa pisau menyerang kantor polisi, yang dibalas tembakan aparat keamanan. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon