Anggota ISIS Pantas Dihilangkan Hak Sebagai Warga Negara
Senin, 4 Agustus 2014 | 23:02 WIB
Jakarta – Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)-Syiah Jalaluddin Rakhmat menegaskan bahwa anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pantas dihilangkan kewarganegaraannya.
"Mereka yang mendukung ISIS atau bergabung dengan ISIS sudah melanggar UU. Jadi, sepantasnya mereka dihilangkan kewarganegaraannya," ujar Jalaluddin di Galeri Café, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (4/8) saat menghadir konferensi pers bersama dengan tokoh lintas agama dan kepercayaan.
Dalam konferensi pers ini, mereka sepakat menolak keberadaan ISIS di Indonesia.
Jalaluddin mengungkapkan, anggota ISIS tidak layak lagi berada di Indonesia karena mereka berusaha menggantikan Pancasila dengan Al-Quran dan Sunnah.
"Sudah jelas mereka menentang ideologi negara dan orang seperti itu, bukan lagi melakukan kebebasan dalam konteks demokrasi, tetapi mau menggantikan ideologi negara. Saya kira mereka tidak punya hak lagi berada di Indonesia," tutur kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang lolos melenggang ke Senayan mewakili Jawa Barat ini.
Namun, Jalaluddin mendengar bahwa anggota ISIS bahagia jika dihilangkan haknya sebagai warga negara. "Bahkan minta langsung saja diekstradisi, langsung dikirim ke Irak,"katanya.
Pemerintah, menurutnya perlu mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah kelompok yang cenderung bakal menjadi ISIS atau semacam ISIS ini berkembang.
"Ada tanda sejumlah kelompok seperti ISIS, di antaranya mengkafirkan kelompok yang lain dan menyerang umat beragama lain. Itu sudah terjadi di negeri ini."ungkap Jalaluddin.
Jalaluddin menilai bahwa negara selama ini melakukan pembiaran sehingga kelompok-kelompok seperti ISIS terus berkembang.
"Paling tidak, negara jangan membiarkan, tetapi mencegahnya,"harapnya.
Jalaluddin memang optimis bahwa kelompok ISIS tidak dapat berkembang di Indonesia. Hal ini terjadi karena bangsa Indonesia tidak terbiasa dengan tindakan kasar seperti dilakukan ISIS.
"Jadi, dia tidak akan memperoleh pengikut yang banyak di Indonesia. Sebenarnya kelompok-kelompok ekstrem jumlahnya kecil, cuma suaranya gede dan selalu jadi berita,"pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




