Tiongkok dan Korsel Kecam Jepang untuk Kunjungan ke Kuil Yasukuni
Sabtu, 16 Agustus 2014 | 08:07 WIB
Tokyo - Pemerintah Tiongkok dan Korea Selatan mengecam keras tindakan sekelompok anggota parlemen dan anggota kabinet Jepang yang mengunjungi Kuil Yasukuni dalam peringatan berakhirnya Perang Dunia Kedua, Jumat (15/8).
Sebanyak 84 anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi mengunjungi kuil tersebut. Termasuk di antaranya seorang anggota senior dari partai berkuasa Partai Demokratik Liberal (LDP), Hidehisa Otsuji, yang memimpin kelompok itu; Sanae Takaichi, kepala badan penelitian kebijakan LDP, dan Yuichiro Hata, seorang anggota senior dari partai oposisi, Partai Demokratik.
Pada saat yang bersamaan, sebanyak tiga anggota kabinet termasuk Menteri Dalam Negeri Yoshitaka Shindo dan Ketua Komisi Keselamatan Masyarakat Nasional Keiji Furuya, mengunjungi kuil itu.
Furuya mengatakan bahwa ia selalu mengunjungi kuil itu setiap tanggal 15 Agustus sejak menjadi anggota parlemen. Ia mengaku datang untuk menghormati mereka yang gugur demi negara.
Kuil itu didedikasikan bagi orang-orang yang meninggal dalam perang Jepang, termasuk para pemimpin yang dihukum sebagai penjahat perang setelah Perang Dunia Kedua.
Sementara itu, Perdana Menteri Shinzo Abe tahun ini tidak mengunjungi Kuil Yasukuni. Ia diwakili ajudannya, Koichi Hagiuda dari LDP. Hagiuda memberikan persembahan ke kuil itu atas nama ketua LDP Shinzo Abe, Jumat pagi. Hagiuda mengatakan kepada wartawan bahwa Abe memintanya untuk berdoa bagi mereka yang gugur demi Jepang, serta juga bagi perdamaian abadi.
Abe mengunjungi Kuil Yasukuni pada Desember lalu, setahun setelah menjabat sebagai perdana menteri, namun ia tidak pernah mengunjungi kuil itu tiap tanggal 15 Agustus.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengungkapkan ketidaksenangan terhadap kunjungan para pejabat Jepang itu ke Kuil Yasukuni.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa Tiongkok secara tegas menentang aksi-aksi yang menunjukkan sikap Pemerintah Jepang yang salah terhadap masalah-masalah sejarah.
Pernyataan tersebut menyebutkan peningkatan hubungan bilateral yang kuat dan stabil hanya dapat terjadi apabila Jepang secara terbuka menghadapi dan menyesali secara mendalam agresinya di masa lalu serta melepaskan diri sepenuhnya dari militerisme.
Pernyataan itu menyerukan Jepang untuk menghadapi masalah-masalah terkait secara layak dan bertanggung jawab, serta memenangkan kembali kepercayaan dari negara-negara tetangganya di Asia dan masyarakat internasional melalui tindakan nyata.
Namun, Kementerian Luar Negeri Tiongkok tahun ini tidak memanggil duta besar Jepang di Beijing untuk melayangkan protes sebagaimana mereka lakukan pada 15 Agustus tahun lalu. Ketika itu, Tiongkok memanggil duta besar Jepang tak lama setelah Abe memberikan persembahan bagi kuil tersebut dan sejumlah menteri berkunjung ke sana.
Kecaman serupa dilayangkan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan. Mereka mengecam keras keputusan PM Jepang Shinzo Abe untuk kembali memberikan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni.
Dalam sebuah pernyataan, seorang juru bicara kementerian menggarisbawahi bahwa para politisi Jepang seharusnya sadar bahwa hubungan bilateral hanya akan membaik secara stabil dengan menghentikan upaya mereka untuk mengubah sejarah dan menunjukkan penyesalan yang tulus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




