Mahasiswa Usakti Kelilingi 69 Pulau dengan Bahan Bakar Solar Air
Minggu, 17 Agustus 2014 | 21:43 WIB
Jakarta - Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 dimanfaatkan mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) untuk mengelilingi 69 pulau menggunakan kapal nelayan berbahan bakar solar air. Bahan bakar tersebut merupakan hasil inovasi dan penelitian yang dilakukan Usakti.
"Hari ini Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mempersembahkan penghargaan terhadap Universitas Trisakti, yang telah membuat inovasi. Yaitu mengelilingi dan mengibarkan bendera merah putih di pulau terbanyak dengan menggunakan kapal berbahan bakar bio diesel air," kata Deputi Manager MURI, Awan Raharjo, Minggu (17/8).
Atas jerih payah yang sudah diraih, MURI juga mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan bertepatan dengan perayaan HUT RI ke 69.
Menurut Awan, rekor yang ditorehkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri tersebut merupakan rekor baru dan bertaraf internasional.
"Selain mencatat peristiwa-peristiwa yang skalanya nasional atau rekor Indonesia, kami juga mencatat kegiatan-kegiatan dengan rekor dunia, dan setelah kami mensurvey dan mencari-cari informasi, di negeri lain ini belum ada para ilmuwan maupun para pelajar yang mampu menghasilkan inovasi seperti yang sudah dilakukan oleh Universitas Trisakti, oleh karenanya muri mempersenbahkan piagam rekor dunia," ucapnya.
Dosen Teknik Mesin Usakti, Muhammad Hafnan, memaparkan, penelitian mengenai bahan bakar solar air telah dilakukannya dengan melibatkan mahasiswa semenjak tahun 2002.
"Tujuannya adalah untuk mengurangi zat NOX yang berbahaya dan dan asap hitam yang dihasilkan oleh pembakaran solar. Yang membedakan formula penemuan solar air kami dengan yang lainnya adalah bentuknya yang bening dan bersih, serta ketika didiamkan tidak terpisah kembali. Formula inilah yang kita patenkan, dan setelah diujicoba di mesin hasilnya bagus," ungkapnya.
Formula solar air yang dihasilkan oleh Usakti ini merupakan campuran dari 70 persen solar, 20 persen zat adiktif dan 10 persen air. Zat adiktif menggunakan sisa-sisa limbah minyak sawit bekas yang banyak tersedia di indonesia.
"Harganya murah, dengan menggunakan solar air ini, selain lebih hemat, zat NOX yang dihasilkan oleh mesin diesel berkurang hingga 40 persen serta kepekatan asap hitam juga turun hingga 60 persen," ucapnya
Menurut Hafnan, saat ini saja penggunaan solar di Indonesia mencapai 40 juta liter perhari, dengan inovasi solar air, maka dapat menghemat penggunaan solar sebesar 30 persen, atau 12 juta liter perhari.
"Oleh karenanya kami saat ini sedang melakukan penjajakan kerjasama dengan pertamina, dan sedang dalam tahap percobaan uji ketahanan 250 jam dengan pertamina di Lemigas, dan kedepannya kami juga akan terus meneliti agar kandungan airnya dapat diperbanyak," katanya.
Sementara itu, Mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2013 yang tergabung dalam tim riset solar air, Aditya Kristanto, menyebutkan bahwa setelah melakukan perjalanan selama 5 hari menggunakan 2 kapal nelayan dengan bahan bakar solar air yang dilakukan oleh 9 orang mahasiswa Usakti, pihaknya memeriksa kondisi mesin kapal tersebut.
"Setelah kami bongkar dan periksa, kami menemukan bahwa mesin kapal tetap bersih dan tidak ada masalah apapun, ini membuktikan bahwa bahan bakar solar air ini aman untuk dipergunakan," kata Aditya.
Aditya berharap dengan penemuan solar air ini maka dapat membantu mengurangi beban pengeluaran nelayan pasca dikuranginya subsidi solar sebesar 20 persen.
"Setelah kami hitung harga yang harus dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan harga solar biasa, selain itupun penggunaannya lebih irit dibandingkan dengan solar biasa. Suhu mesin juga lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan solar biasa serta lebih ramah lingkungan," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




