XL Rugi Bersih Rp 482,5 Miliar
Kamis, 21 Agustus 2014 | 11:54 WIB
Jakarta – Perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencetak rugi bersih sebesar Rp 482,5 miliar selama enam bulan pertama 2014. Sementara, pendapatan naik 12,7% menjadi Rp 11,5 triliun, dibandingkan semester I – 2013 sebesar Rp 10,2 triliun.
Kerugian XL disebabkan oleh naiknya beban menjadi Rp 11,1 triliun, dibandingkan pada semester I – 2013 sebesar Rp 9 triliun. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, jumlah ini terdiri atas beban infrastruktur sebesar Rp 4 triliun, beban penyusutan Rp 3 triliun, beban interkoneksi dan lainnya sebesar Rp 1,7 triliun.
Selain itu, terdapat beban penjualan dan pemasaran senilai Rp 635 miliar, gaji karyawan Rp 578,1 miliar, beban umum dan administrasi sebesar Rp 335,4 miliar. Sementara, biaya keuangan tercatat sebesar Rp 951,3 miliar, melonjak 114,5% dibandingkan Rp 443,4 miliar pada semester I – 2013. Perseroan juga mengalami peningkatan rugi selisih kurs empat kali lipat, dari Rp 112,8 miliar menjadi Rp 516 miliar.
Meski demikian, tekanan terhadap laba bersih XL sebelumnya sudah diprediksi. Direktur Utama XL Hasnul Suhami pernah mengatakan, kinerja perseroan bakal mengalami tekanan akibat menanggung perusahaan yang baru diakuisisi, PT Axis Telekom Indonesia.
"Sudah pasti kinerja kami akan tertekan akibat menanggung Axis yang masih merugi," kata Hasnul di Jakarta, baru-baru ini.
Sebelum bergabung dengan XL, anak usaha Saudi Telecom Company tersebut tercatat merugi sekitar Rp 7,3 triliun sejak 2009. Axis juga sempat terancam bangkrut dan tidak sanggup membayar pungutan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi sebesar Rp 1 triliun pada 2013.
Namun, XL berharap tekanan laba bersih hanya akan berlangsung sementara. Neraca keuangan perseroan diprediksi membaik dengan adanya tambahan frekuensi 15 MHz pada layanan 2G yang dimiliki Axis.
"Yang pasti, kualitas pelayanan kami akan meningkat dengan bertambahnya spektrum frekuensi," ujar Corporate Communication XL Turina, beberapa waktu lalu.
Saat ini, XL sedang melakukan proses lelang atas 2.000 menara telekomunikasi. Nilai penjualan seluruh menara ditaksir mencapai US$ 500 juta. Sesuai rencana, dana akan dipakai untuk membayar sebagian utang XL.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




