Menkes: Penggunaan Antibiotik Berlebih Dapat Memicu Wabah

Jumat, 22 Agustus 2014 | 01:59 WIB
B
FH
Penulis: BeritaSatu | Editor: FER
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi memberi keterangan pers dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2014 Regional Barat di Jakarta, 1 April 2014.
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi memberi keterangan pers dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2014 Regional Barat di Jakarta, 1 April 2014. (Herman/Beritasatu.com)

Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan penggunaan antibiotik yang berlebihan akan menimbulkan resistensi pada hewan dan manusia yang dapat memicu wabah penyakit karena tidak mempan terhadap vaksin yang ada.

"Jadi suatu waktu kita butuh antibiotik maka sudah tidak mempan. Ini yang kita khawatirkan di dunia karena jumlah antibiotik yang sudah resisten bertambah banyak," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi usai menutup pertemuan Global Meeting on Infectious Diseases di Jakarta, Kamis (21/8).

Masalah itu menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan yang merupakan tindak lanjut dari Global Health Security Agenda (GHSA) dan diikuti oleh perwakilan 37 negara itu.

Untuk beberapa penyakit zoonosis (ditularkan melalui hewan), Menkes mengatakan langkah pertama yang harus dilakukan adalah menahan penyebaran virus pada hewan.

Namun penggunaan antibiotik yang berlebihan pada peternakan hewan telah memicu terjadinya resistensi sehingga sulit untuk menahan wabah pada hewan.

"Oleh karena itu kita menyepakati (dalam pertemuan ini) untuk menyusun rencana aksi bagaimana mengurangi penggunaan antibiotik pada hewan dan manusia," ujar Menkes.

Rencana aksi yang pertama disebut Menkes adalah mengatur regulasi yaitu bagaimana menjaga kesehatan hewan tanpa antibiotik.

"Harus ada aturan jelas dan kita juga buat roadmap (peta jalan) untuk mengurangi antibiotik secara bertahap sehingga penggunaannya rasional," kata Menkes.

Sementara pembahasan utama disebut Menkes adalah dengan menjalin kerja sama antarnegara terkait penanggulangan penyakit menular seperti Ebola dan MERS CoV.

"(Pertemuan) ini maksudnya supaya kita memiliki suatu kerja sama antarnegara untuk mencegah, bukan hanya jumlah pasien dan jumlah kematian di suatu negara tapi juga mencegah jangan sampai negara lain juga menjadi korban," papar Nafsiah.

Kerja sama antarnegara tersebut termasuk bagaimana berbagi info mengenai wabah secepat mungkin, posisi badan PBB seperti WHO dan FAO dalam penanganan bencana kesehatan dan juga bagaimana kerja sama lintas sektor dalam suatu negara seharusnya dijalankan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon