Kebutuhan "Plumbers" Bersertifikat untuk Sediakan Air Bersih di Indonesia Dinilai Mendesak

Selasa, 26 Agustus 2014 | 10:15 WIB
NW
B
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: B1
Air Minum
Air Minum (Boldsky)

Jakarta - Indonesia memerlukan ahli ledeng atau ahli perpipaan (plumbers) bersertifikat untuk mengatasi minimnya ketersediaan air bersih. Kualitas air bukan hanya ditentukan oleh sumbernya, tetapi juga ditentukan dari sistem perpipaan (plumbing) yang sesuai standar kesehatan dan keselamatan.

Senior Vice President The International Association of Plumbing and Mechanical Officials (IAPMO), Ken Wijaya mengatakan, Indonesia membutuhkan standar sistem plumbing untuk pengembangan sistem plumbing yang aman. Standarisasi sistem plumbing, atau dikenal sebagai SNI, dibutuhkan untuk keperluan air bersih, sanitasi, serta pengumpulan dan transportasi air limbah agar tidak mencemari air bersih.

"Presentase air bersih (fresh water) di dunia ini hanya tiga persen, sisanya 97 persen adalah air asin (salt water). Itulah mengapa kita harus menjaga dengan baik dengan sistem plumbing yang terstandarisasi," kata Ken usai penandatanganan nota kesepahaman antara IAPMO, Badan Standarisasi Indonesia, dan dua universitas yaitu Universitas Trisakti dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Jakarta, Selasa (26/8).

Menurut Ken, lebih dari 94 juta orang Indonesia tidak memiliki sanitasi yang memadai. Hal itu menyebabkan kasus diare di Indonesia sangat tinggi, sekitar 121.100 dengan tingkat kematian mencapai 50.000 orang setiap tahun.

"Kami nantinya akan melakukan pelatihan di kedua universitas untuk menyiapkan tenaga kerja teknisi plumbing dengan materi berdasarkan Uniform Plumbing Code atau SNI di Indonesia, untuk memudahkan mahasiswa mengambil sertifikasi plumbing," kata Ken.

Ketua Jurusan Teknik Industri UMJ, Kosasih mengatakan, plumbers yang sudah bersertifikat adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Kontribusi plumbers bagi kesehatan masyarakat sangat besar. Dia mengatakan jika di dalam pipa air mengandung zat-zat tidak baik seperti limbah atau racun, maka akan berdampak kepada kualitas hidup masyarakat khususnya anak-anak.

"Kita perhatikan saja, pipa-pipa kita yang terpasang sekarang oleh PAM (Perusahaan Air Minum) belum sesuai standar. Para pekerjanya juga tidak terstandarisasi, bisa siapa saja mulai dari kuli bangunan, tukang las, tukang pipa, semua bisa," ujar Kosasih.

Menurut Kosasih, kemajuan sebuah negara juga terlihat dari ketersediaan air bersih. Di negara seperti Singapura, warga bisa langsung minum dari air kran.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri Unviersitas Trisakti, Andy Cahyaputra Arya mengatakan, kerja sama dengan IAPMO diharapkan berupa transfer teknologi. "Jika kita punya sistem perpipaan yang baik maka air buangan bisa dikelola dengan baik, sehingga air limbah bisa diubah menjadi air bersih bahkan air minum," kata Andy.

Andy, yang pernah tinggal lama di Jerman, mengatakan warga di negara maju memiliki kualitas hidup lebih baik karena kualitas air yang baik. "Saya mengalami bagaimana di negara yang steril. Air dari kran bisa langsung kita minum, ibaratnya kita mandi dengan kualitas air minum," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon