Kenang 10 Tahun Munir, Canberra Melawan Lupa
Rabu, 3 September 2014 | 15:28 WIBCanberra - Sudah satu dekade, kasus kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib belum juga terpecahkan. Banyak kalangan menilai kasus Munir masih menyisakan banyak misteri. Bagi para aktivis ini, dalang pembunuhan Munir belum terungkap.
Untuk mengenang pembunuhan Munir, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Canberra dan Indonesia Synergi menggelar diskusi di Canberra, Selasa (2/9) waktu setempat. Acara yang dihadiri oleh sekitar 80an orang ini adalah satu dari serangkaian acara bertajuk "Canberra Melawan Lupa".
Dalam diskusi tersebut, aktivis HAM, Usman Hamid lebih membahas Munir dari sisi yang lebih personal. "Di Amerika, Munir adalah Martin Luther King," kata Usman yang juga mantan Sekretaris Tim Pencari Fakta Kasus Munir bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.
Bagi Usman, di balik kesederhanaan dan kebersahajaannya, Munir menyerap dan mewarisi kearifan tokoh-tokoh besar dunia lintas generasi.
"Dia adalah orang yang sangat sopan dan rendah hati, tapi pada saat yang sama juga seperti tak mengenal rasa takut," kenang Usman dalan siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (3/9).
Dari mana keberanian itu muncul? Usman bercerita bahwa suatu ketika Munir pernah berkata "Yang perlu ditakuti adalah rasa takut itu sendiri". Frase yang sama pernah dikatakan mantan Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt, tahun 1933, "The only thing we have to fear is fear itself".
Pada kesempatan itu, Usman juga menjelaskan sisi humanis seorang Munir. "Ia melakukan pembelaan pada siapa saja, tak peduli apapun agamanya," ungkap Usman. "Munir pernah berkata bahwa jika kamu menemukan korban di tempat kerja atau di jalanan, setiap orang memiliki kewajiban untuk memberi pertolongan tanpa menimbang apakah perbuatan itu sesuai dengan Qur’an atau Al-Kitab," lanjut Usman.
Sementara itu, ahli militer dan politik Indonesia ANU, Marcus Mietzner, yang juga hadir sebagai pembicara, menekankan pentingnya perananan Munir dalam sejarah Indonesia mutakhir. "Saya hadir di acara perpisahan Munir menjelang berangkat ke Belanda," kenang Marcus.
Marcus menilai Munir memiliki posisi penting sekaligus unik. Ia bukan hanya aktivis pro-demokrasi dan HAM terdepan yang pernah dimiliki Indonesia modern. "Munir adalah seorang pemikir brillian di masanya," ujar Marcus.
Marcus juga memandang bahwa Munir mengalami pergeseran peran menjelang keberangkatannya ke Belanda. "Jika sebelumnya Munir tampil terdepan membela dan mendampingi para korban pelanggaran HAM, seperti kasus 65, Talangsari, Tanjung Priok, Marsinah, dan penculikan aktivis, saat itu Munir sudah muncul sebagai pencetus ide-ide mendasar untuk Indonesia demokratis dan modern. Dan itu sangat unik," jelasnya.
Ketua Umum PPI Canberra, Shohib Essir, dalam sambutannya, menyatakan bahwa acara ini didasarkan pada tekad untuk menolak melupakan kekerasan yang terjadi di masa lalu. Ia mengajak para hadirin untuk menandatangi petisi kasus Munir yang dibuat Suciwati pada situs www.change.org/Munir sambil menegaskan bahwa organisasi pelajar seperti PPI tidak akan mendiamkan ketidak-adilan.
"Ilmu pengetahuan hadir bukan untuk dirinya sendiri, tapi ia hadir untuk perubahan sosial," demikian Shohib menutup pidatonya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




