Omni Hospital Pulomas Hadirkan Pusat Kemoterapi

Rabu, 10 September 2014 | 15:36 WIB
DM
B
Penulis: Dina Manafe | Editor: B1

Jakarta - Pengobatan kemoterapi pada pasien kanker kerap kali menjadi momok menakutkan yang bisa menghambat proses penyembuhan. Kemoterapi berfungsi menghancurkan sel kanker agar tidak menyebar ke organ tubuh yang lain. Namun, adanya beberapa efek samping, seperti rambut rontok, kulit kering, sariawan dan cepat lelah, membuat pasien menolak pengobatan ini. Efek samping ini hanya bersifat sementara, dan akan hilang begitu kemoterapi dihentikan.

Di sisi lain, jumlah penderita kanker di Indonesia pun terus meningkat. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 jiwa per 1.000 penduduk atau sebanyak tiga juta jiwa.

Meningkatnya antrean pasien kanker untuk rawat inap di Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais pun menunjukkan makin banyaknya kasus ini. Bila sebelumnya antrean hanya 100 pasien per hari, di 2014 ini meningkat menjadi 400 orang. Di samping adanya program Jaminan Kesehatan Nasional, juga karena masih minimnya fasilitas kesehatan tingkat lanjutan khusus kanker di Indonesia.

Bertolak dari sejumlah poin-poin terkait kanker yang disebutkan di atas, Omni Hospital Pulomas menghadirkan fasilitas Chemo Center atau Pusat Kemoterapi. Direktur Omni Hospital Polumas, dr Maria Theresia Yulita, mengatakan Chemo Center tersebut menjamin patient safety.

Layanan yang ditawarkan diklaim komprehensif, mulai dari diagnosis, konsultasi, hingga tindakan yang terintegrasi dalam satu fasilitas. Juga memiliki drug mixing room yang sangat steril, kedap suara, serta menggunakan interlock. Dilengkapi fasilitas penunjang diagnosis kanker berupa MRI 1,5 Tesla dan pembaharuan CT Scan 128 Slices serta Digital Mammografi.

"Dengan fasilitas ini tingkat akurasi akan terjamin, demikian juga dengan sterilitas dan kualitas saat pencampuran obat untuk pasien kanker, sehingga pelaksanaan kemoterapi sangat aman dan sesuai prosedur," kata Maria pada acara peluncuran Chemo Center bertepatan dengan HUT Omni Hospital Pulomas ke-42, di Jakarta, Selasa (9/9).

Onkolog Omni Hospital Pulomas dr Henry Naland menambahkan, ada beberapa prinsip yang disebut enam benar dalam tindakan kemoterapi, yaitu benar pasien, benar rute, benar dosis, benar obat, benar waktu, dan benar dokumentasi.

Selain itu, pemberian obat baik itu premedikasi, obat kemoterapi maupun pasca-medikasi harus sesuai dengan prosedur yang berlaku. Apalagi risiko mengalami efek samping saat kemoterapi tidak hanya pada pasien, melainkan juga petugas kesehatan.

"Jadi, harus hati-hati. Kalau obat itu kecipratan, harus langsung dicuci. Saat mencampurkan obatnya harus pakai masker, tetapi kami ada alat khusus, sehingga komplikasinya bisa diminimalisasi," kata Henry.

Hal yang perlu diperhatikan saat kemoterapi adalah aspek akurasi dosis, benar cara pencampuran dan cara penyimpanan. Dengan laboratorium khusus di Chemo Center, diharapkan tingkat akurasi obat pasien terjamin.

Tindakan kemoterapi di pusat layanan ini pun melibatkan berbagai multidisiplin spesialis, di antaranya spesialis onkologi, ahli bedah, penyakit dalam, anak, perawat dan ahli gizi. Kelebihan lain Chemo Center adalah memberikan kesempatan kepada pasien untuk memperoleh second opinion dari top role model doctors di Jepang yang telah bekerja sama dengan pihaknya.

Di antaranya dr Toshihiko Sato, yang merupakan President of Noguchi International Diagnostic Clinic. Semua informasi medis pasien dikirim melalui teleradiologi, sehingga dokter kanker di Jepang dapat menganalisis kondisi pasien.

"Setelah itu memberikan rekomendasi teknik pengobatan secara cepat dan tepat. Hasil second opinion dapat diberitahukan kepada pasien setelah lima hari kerja dari pengiriman data," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon