Archipelago Solidarity: Pemerintahan Baru Diharapkan Mampu Membangun Poros Maritim Berbasis Rute Rempah-Rempah

Jumat, 3 Oktober 2014 | 19:49 WIB
Y
B
Penulis: Yus | Editor: B1
Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden terpilih Joko Widodo meninjau Pelabuhan Tanjung Priok dari atas sebuah kapal Pilot Boat yang berlayar di Teluk Jakarta, Jakarta Utara, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut.
Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden terpilih Joko Widodo meninjau Pelabuhan Tanjung Priok dari atas sebuah kapal Pilot Boat yang berlayar di Teluk Jakarta, Jakarta Utara, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut. (Antara/Widodo S.Jusuf)

Jakarta - Presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) telah berkomitmen untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia abad ke-21. Untuk mewujudkan komitmen ini, Jokowi-JK didesak membangun poros maritim yang berbasis pada rute atau jalur rempah-rempah.

Hal ini disampaikan oleh pendiri Archipelago Solidarity Dipl-Oek, Engelina Pattiasina dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Relawan Indonesia Timur di Graha Bethel, Jakarta pada Jumat (3/10). Selain Engelina, diskusi yang bertemakan "Rute Rempah-Rempah: Poros Maritim Jokowi untuk Abad ke-21" juga dihadiri oleh Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Muchtar Pakpahan.

"Kita dorong Jokowi-JK untuk membangun poros maritim yang berbasis jalur rempah-rempah. Strategi ini dapat memberikan benefit ekonomi yang besar untuk bangsa Indonesia," ujar Engelina dalam diskusi tersebut.

Engelina menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memilik sejarah maritim yang kuat. Dalam sejarah maritim tersebut, jalur rempah-rempah terbukti berabad-abad lalu mampu mengontrol ekonomi dunia dan menghubungkan kota-kota utama di dunia dan di Nusantara. Namun jalur rempah-rempah ini terlupakan lantaran dominasi jalur sutra yang telah menjadi konsep dan strategi pembangunan maritim silk route (Rute Sutera Maritim) oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Oktober 2014.

"Jalur Sutera bukan milik Indonesia, tetapi kita mengadopsinya dalam pembangunan ekonomi, sehingga kita hanya menjadi instrumen kecil dari pembangunan. Sementara kalau kita menggunakan jalur rempah-rempah, itu merupakan milik Nusantara dan kita menjadi subyek pembangunan di dalamnya," urai Engelina.

Perdagangan rempah-rempah dan produk-produk ekosistem lainnya dalam jalur rempah-rempah ini, lanjut Engelina, akan meningkatkan regenerasi dan reproduksi ekosistem, khususnya lada, pala, cengkih, damar, cendana, kayu manis, hutan, bambu, lontar, jagung, sagu, enau, gaharu, pinang, kakao, kopra, vanili.

"Selain itu, upaya-upaya pemulihan dan penyehatan ekosistem kelautan dapat ditingkatkan. Sebagai negara kepulauan, pembangunan poros maritim berbasis rute rempah akan mengawal kedaulatan negara RI dan pemulihan atau penyehatan ekosistem negara RI, yang meningkatkan manfaat pembangunan ekonomi maritim," katanya.

Engelina mengharapkan agar strategi maritim jalur rempah-rempah ini dimulai dari kawasan timur Indonesia. Dia memaparkan enam nilai strategis yang akan diperoleh Indonesia dan KTI.

Pertama, poros maritim RI dan dunia dari Papua, Maluku, NTT, dan sekitarnya sangat bermanfaat bagi kawasan timur dan daya-saing negara RI. Luas KTI berkisar 68 persen dari luas wilayah negara RI, yang sangat sesuai strategi ekonomi pesisir dan kelautan.

Kedua, KTI memiliki tradisi maritim level dunia ratusan tahun. Penduduk di Maluku sangat kuat memiliki kearifan dan tradisi maritim. Sejak abad 4 masehi, KTI memasok kebutuhan-kebutuhan dunia seperti lada, pala, cengkih, damar, merica, kayu manis, cendana, kayu-kayu, dan berbagai komoditas lainnya. Penguasan maritim Nusantara dan perdagangan Asia-Afrika-Eropa selama 400 tahun oleh VOC, Belanda dan Inggris selama 1602-1945 berbasis zona Nusantara dari KTI saat ini.

Ketiga, hingga awal abad 21, sekitar 1.700 pulau besar dan kecil dari luas 705.645 km persegi Provinsi Maluku dan Papua memiliki titik geostrategis di Asia Pasifik. Maluku dan Papua adalah ruang terdepan Indonesia terhadap klaim tumpang-tindih dari enam negara terhadap Laut Tiongkok Selatan di Asia Pasifik.

Keempat, zona KTI memiliki kekayaan mineral strategis. Gerakan tektonik kerak lempengan Samudra Pasifik dan Australia jutaan tahun membuat Maluku dan Papua "terjepit" antara kedua lempengan raksasa ini. Instrusi batuan-batuan asidik menyebabkan mineralisasi logam-logam dasar, seperti tembaga, emas, batu bara, gambut, aluminium, nikel, kronium, kobalt, besi, timah, mangan, merkuri, timbel, tungsten, dan seng .

Kelima, secara historis, sejak abad 16 masehi, arsitektur, pelabuhan, benteng, dermaga, dan kamar dagang dibangun karena perdagangan rempah-rempah. Jalur kolonial dunia, yang mula-mula diberlakukan Inggris di Banda abad 16, menjual barang, jasa, pengetahuan, dan informasi di Batavia, Ambon, Malaka, Manila, Taiwan, Makau, Hong Kong, San Salvador, Deshima atau Nagasaki, Jepang. Bukti arkeologis menunjukkan sejak 3.000 tahun silam, rempah asal Maluku dijualbelikan ke Persia.

Keenam, menghidupkan kembali jalur-jalur maritim berbasis rute-rute rempah-rempah akan memulihkan ekosistem RI dan dunia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon