Pengungsi Sinabung Butuh Perhatian Jokowi

Sabtu, 11 Oktober 2014 | 09:22 WIB
AS
TT
B
Petugas membagikan masker kepada warga di Kabupaten Karo yang terdampak erupsi Gunung Sinabung. Lava pijar terus mengalir dan mengancam warga sekitar Gunung Sinabung.
Petugas membagikan masker kepada warga di Kabupaten Karo yang terdampak erupsi Gunung Sinabung. Lava pijar terus mengalir dan mengancam warga sekitar Gunung Sinabung. (AFP Photo / Sutanta Aditya)

Kabanjahe - Masyarakat korban bencana letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), mengharapkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) memberikan perhatian khusus untuk pemulihan pemukiman dan relokasi untuk pengungsi.

"Perhatian dari Jokowi - JK dibutuhkan masyarakat pengungsi, sebab ada pengungsi yang sudah sangat lama berada di pengungsian. Mereka bertahan hidup di tengah pengungsian akibat bencana," ujar tokoh pemuda asal Kabupaten Karo, Sastroy Bangun (35) pada SP di Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo, Sabtu (11/10).

Bangun mengatakan, Jokowi pernah mengunjungi pengungsi sebelum pemilihan presiden (Pilpres) kemarin. Saat itu, Jokowi berjanji akan memberikan perhatian buat masyarakat korban erupsi Gunung Sinabung tersebut. Hasilnya, masyarakat mengapresiasi kedatangan Jokowi.

"Kami sangat yakin bahwa Presiden terpilih bersama dengan pasangannya akan memberikan perhatian khusus buat korban letusan Gunung Sinabung. Semoga kepemimpinan Jokowi - JK semakin mempercepat pemulihan pemukiman penduduk, rehabilitasi dan relokasi masyarakat pengungsi, termasuk memperbaiki ekonomisi masyarakat di sini," katanya.

Ditambahkan, bencana letusan Gunung Sinabung di daerah tersebut sudah berlangsung sangat lama. Bencana itu mengakibatkan ribuan rumah penduduk dan ribuan hektare lahan pertanian mengalami kerusakan.

Hewan ternak milik masyarakat pun banyak yang mati. Bencana itu mengakibatkan ekonomi masyarakat mengalami keterpurukan.

Koordinator Posko Penampungan di Gereja Batak Karo Protestan, Pendeta Jenny Beru Keliat, mengatakan stok kebutuhan buat pengungsi semakin hari bertambah menipis.

Abu vulkanik yang menyelimuti daerah tersebut pun sangat mengganggu penglihatan masyarakat pengungsi. Masyarakat mengharapkan bantuan pemerintah.

"Bantuan makanan, obat-obatan dan air mineral sangat dibutuhkan. Obat tetes mata pun diperlukan pengungsi. Abu vulkanik juga mengganggu pernafasan. Kondisi ini dikhawatirkan semakin memburuk jika dibiarkan. Apalagi, aktivitas Gunung Sinabung semakin meningkat belakangan hari ini," jelasnya.

Kepala Pos Pemantau Gunung Api (PPGA) Sinabung, Armen, menyampaikan Gunung Sinabung masih erupsi. Jarak luncur masih ketinggian 3.000 meter. Selain ke Selatan, lontaran abu vulkanik juga ke arah Tenggara.

"Sampai sejauh ini, tingkat aktivitas Gunung Sinabung, belum terlalu meningkat jika dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Sehingga, warga di luar radius 3 sampai 5 kilometer (km) masih berstatus aman. Di luar dari jarak itu harus hati - hati," imbaunya.

Menurutnya, kawasan yang perlu direlokasi karena jaraknya berdekatan dengan kaki Gunung Sinabung yakni, Desa Bekerah, Simacen dan Sukameriah. Lokasi ini berjarak 3 kilometer dari kaki Gunung Sinabung.

"Desa yang lain juga perlu direlokasi karena memiliki radius 5 km dari kaki gunung merapi itu adalah Desa Kutatonggal, Guru Kinayan, Berastepu dan Gember. Aktivitas gunung masih terus dipantau," sebutnya.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, letusan pertama terjadi sekitar pukul 01.46 WIB, Minggu (5/10). Letusan itu disertai guguran awan panas.

"Luncuran awan panas mencapai 4.500 meter dengan ketinggian 2.000 meter, dan lama erupsi selama 263 detik. Kemudian, letusan kedua terjadi sekitar pukul 06.38 WIB," jelasnya.

Letusan ketiga terjadi pukul 07.30 WIB, dan jarak luncur awan panas mencapai 3.000 meter dan 25 menit kemudian Gunung Sinabung kembali meletus dengan jarak luncur 4.500 meter.

Berdasarkan data dari posko pengungsian, jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung, sebanyak 3.287 jiwa. Jumlah tersebut meliputi 1.019 kepala keluarga (KK).

Jumlah pengungsi itu terdiri dari 905 pria dan wanita sebanyak 906 orang. Kelompok rentan terdiri dari 138 jiwa dan ibu hamil sebanyak 17 orang. Selain itu, ada 62 orang bayi di pengungsian.

Seluruh pengungsi ditampung di 16 lokasi pengungsian. Pengungsi berasal dari beberapa desa di Kecamatan Simpang Empat, Kuta Tengah, Dunun Sukanalu, Desa Sigarang - garang. Kecamatan Namanteran. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon