Pulang
Selasa, 14 Oktober 2014 | 23:04 WIB
Jakarta - Delapan tahun silam, Happy Salma mengekpresikan wajahnya yang lain. Biasa dikenal sebagai aktris, Happy menunjukkan kebisaannya menulis cerpen. Kumpulan cerpennya dibukukan, ia beri judul Pulang. Pulang, di mata Happy, adalah kerinduan tak letih terhadap yang pernah. Happy mendeskripsikan cerita yang ia tulis sebagai ekspresi realita yang ada.
Dan realitanya, pulang hampir selalu menyenangkan. Jika tidak, buat apa jutaan manusia berebut tiket kereta api, bus, pesawat, dan kapal setiap Lebaran? Jika pulang tidak mengandung kerinduan, buat apa para pekerja kantoran ingin segera pulang? Buat apa para pengendara motor pukul 17.00 ke atas ugal-ugalan demi bisa segera menyentuh halaman rumah?
Realita pula bahwa pulang tidak ingin disegerakan. Tapi nasib memaksa hal itu disegerakan. Dan timnas sepak bola U-19 asuhan Indra Sjafri harus menerima nasib itu. Padahal sejak tahun lalu mereka ingin berlama-lama tinggal di Myanmar, memperjuangkan impian di Piala Asia U-19 2014. Perjuangan atas nama selembar tiket Piala Dunia U-20 di Selandia Baru.
Dihajar Uzbekistan 1-3 di laga pertama, disikat Australia 0-1 di laga kedua yang wajib dimenangkan. Kapten Evan Dimas Darmono menangis. Indra Sjafri menjadi orang paling sibuk menenangkan para pemainnya. Mereka menangisi impian yang terkubur.
Impian yang bukan monopoli tim berjuluk Garuda Jaya, diciptakan oleh Indra sendiri tahun lalu, melainkan seluruh pecinta sepak bola di Nusantara. Laga ketiga sekaligus terakhir tak lagi menggairahkan, digebuk Uni Emirat Arab 1-4 tak berpengaruh pada jadwal pulang Garuda Muda.
Sedikit orang yang menduga Garuda Muda akan pulang seawal ini. Banyak orang yang optimis mereka bisa melaju hingga semifinal, fase wajib jika ingin mendapatkan tiket Piala Dunia. Optimisme yang dihadirkan oleh gelar juara Piala AFF U-19 tahun lalu, kemudian diperkuat oleh kemenangan atas Korea Selatan di babak kualifikasi Piala Asia U-19.
Kapan lagi tim sepak bola Indonesia mempermalukan Pejuang Taeguk? Tim bulu tangkis melakukannya tidak akan jadi berita besar, tapi beda cerita di sepak bola.
Publik Indonesia sudah biasa disuguhi pesimisme akibat permainan timnas senior. Bola yang mudah lepas dari kaki, umpan yang tidak akurat, dan pergerakan tanpa bola yang statusnya antara ada dan tiada. Keluhan, "Alah palingan kalah," sudah menjadi mainstream. Jamak didengar.
Lalu timnas U-19 hadir dengan permainan yang (berniat) meniru filosofi Barcelona, penguasaan bola dan umpan pendek kaki ke kaki, bukan kaki ke kepala seperti peragaan senior-senior mereka.
Tahun lalu formula itu flamboyan di lapangan dan sedap dipandang di koran. Siapa yang tak tergugah saat Indra mengatakan timnya sudah harus mendongak ke level dunia, bukan lagi Asia? Siapa yang tak kagum dengan kalimat, "Tidak ada yang tak bisa dikalahkan kecuali orangtua dan Tuhan,"?
Jika ada kewajiban merevisi, maka kalimat itu kini menjadi, "Tidak ada yang tak bisa dikalahkan kecuali orangtua, Tuhan, Barcelona B, Atletico Madrid B, Real Madrid C, Uzbekistan U-19, Australia U-19, dan Uni Emirat Arab U-19.".
Tapi apalah arti revisi. Jika boleh melunjak, mungkin sebaiknya meminta Tuhan agar waktu dikembalikan ke Oktober 2013. Waktu diputar kembali agar kesalahan, entah siapa dan apa biang keladinya, bisa dicegah.
Siapa tahu Evan dan kawan-kawan bisa lebih berprestasi jika mereka disembunyikan dari sorotan publik sehingga sepenuhnya fokus dengan tujuan mereka, seperti yang dilakukan Korea Utara. Siapa tahu dengan tidak menayangkan laga uji coba mereka bisa membuat lawan kekurangan data permainan Garuda Muda untuk dianalisis. Siapa tahu dengan tidak adanya beragam publikasi berlebihan beban pasukan Indra Sjafri lebih ringan dijinjing.
Tapi manusia tidak pernah tahu persis kapan mereka akan pulang. Tidak ada yang tahu apa maunya Tuhan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




