Inflasi September Tiongkok Melambat Dekati Angka Terendah dalam Lima Tahun

Rabu, 15 Oktober 2014 | 23:49 WIB
AW
B
Penulis: AFP/ WYU | Editor: B1
Ilustrasi Inflasi
Ilustrasi Inflasi (Istimewa/Istimewa)

Beijing – Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menyatakan tingkat inflasi mereka turun menjadi 1,6 persen pada September. Angka ini di bawah perkiraan analis dan paling terendah di ekonomi terbesar kedua di dunia selama hampir lima tahun.

Angka dalam indeks harga konsumen (CPI) yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok mewakili perlambatan inflasi dari tahun ke tahun (YoY) dari 2,0 persen pada Agustus.

Itu merupakan angka terendah sejak Januari 2010. Analis yang disurvei oleh Dow Jones Newswires memprediksi inflasi tersebut sebesar 1,7 persen.

Angka-angka jatuh jauh di bawah target tahunan 3,5 persen yang ditetapkan pemerintah Tiongkok pada Maret lalu dan menjadi tanda bahwa tekanan deflasi meningkat.

Inflasi yang moderat bisa menjadi hal positif untuk konsumsi karena mendorong konsumen untuk membeli sebelum harga naik, ketika penurunan harga mendorong pembeli menunda pembelian dan perusahaan menunda investasi, yang sama-sama dapat membebani pertumbuhan.

Angka-angka tersebut memberikan otoritas lebih banyak ruang untuk mengambil langkah-langkah stimulasi ekonomi, pada saat statistik menunjukkan bahwa ekspansi Tiongkok yang mencapai 7,7 persen tahun lalu, yang mempertahankan kecepatan paling lambat dalam lebih dari satu dekade, tengah melemah.

"Profil inflasi lunak Tiongkok mempertinggi risiko deflasi, sehingga membutuhkan pelonggaran kebijakan moneter lanjutan," kata Analis ANZ dalam catatan penelitiannya, Rabu (15/10).

Hal itu menyebabkan kenaikan harga untuk melawan korupsi yang sedang berlangsung di negara itu dan mendorong penghematan pemerintah.

"Kampanye antikorupsi bisa secara signifikan mengurangi tekanan ke atas pada harga. Terutama ... harga tembakau dan minuman keras telah turun ke wilayah negatif sejak September 2013," kata mereka, mengacu pada dua hadiah yang paling populer di negeri ini.

- Kekhawatiran Pertumbuhan -

Data Bea Cukai Tiongkok awal pekan ini menunjukkan ekspor dan impor Tiongkok naik lebih dari yang diproyeksi pada September, dalam sinyal positif, tetapi analis memperingatkan bahwa fundamental masih lemah.

Sedangkan data resmi bulan lalumenunjukkan pertumbuhan produksi industri melambat tajam pada Agustus ke level terendah selama lebih dari lima tahun, sementara harga rumah telah jatuh selama lima bulan berturut-turut.

Pejabat menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 7,5 persen tahun ini, sama seperti target tahun lalu.

Target biasanya melebihi proyeksi, namun para pejabat senior telah berulang kali berusaha mengecilkan signifikansinya tahun ini.

Angka produk domestik bruto (PDB) Tiongkok kuartal ketiga diumumkan minggu depan.

Minggu lalu Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan Tionhkok menjadi 7,4 persen untuk 2014 dan 7,2 persen untuk tahun 2015. Dana Moneter Internasional (IMF) tidak berubah prediksinya pada 7,4 persen dan 7,1 persen, namun memperingatkan "risiko pertumbuhan jangka pendek", terutama di real estate.

Sektor properti yang luas dan penting di Tiongkok tengah berjuang dalam menghadapi kelebihan pasokan.

NBS mengatakan penurunan tajam dalam kenaikan harga pangan, dari 3,0 persen pada Agustus menjadi 2,3 persen pada September, mendorong penurunan inflasi. Tetapi beberapa ekonom kurang peduli tentang deflasi.

Analis perusahaan riset Capital Economics Julian Evans Pritchard berpendapat inflasi di Tiongkok tetap sangat sensitif terhadap harga daging babi, yang akan meningkat.

"Kami masih memperkirakan inflasi naik tipis lagi selama kuartal mendatang, meskipun tidak mungkin cukup naik untuk menjadi perhatian kebijakan," katanya dalam laporannya.

Sebelumnya dalam kesempatan terpisah, NBS mengatakan Indeks harga produsen Tiongkok (PPI), ukuran biaya untuk barang-barang di pintu gerbang pabrik dan indikator utama dari tren untuk CPI, turun 1,8 persen YoY pada September.

Peningkatan PPI terakhir adalah pada Januari 2012, ketika naik 0,7 persen. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon