11,2% Warga di DKI Mengalami Masalah Kejiwaan

Jumat, 17 Oktober 2014 | 12:29 WIB
DP
B
Penulis: Deti Mega Purnamasari | Editor: B1
Perawat merapikan tempat tidur pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat, Kamis (10/4). Rumah sakit tersebut siap menerima dan merawat calon legislatif yang mengalami gangguan jiwa karena gagal terpilih menjadi anggota legislatif.
Perawat merapikan tempat tidur pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat, Kamis (10/4). Rumah sakit tersebut siap menerima dan merawat calon legislatif yang mengalami gangguan jiwa karena gagal terpilih menjadi anggota legislatif. (Antara/Zabur Karuru)

Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama cukup terkejut ketika mendengar pernyataan dari Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial 11,2% warga DKI mengalami masalah kejiwaan. Solusi punn segera dicara untuk mengatasi masalah ini.

Yaitu dengan membuat Unit Informasi dan Layanan Sosial (UILS) untuk mereka yang menyandang masalah kejiwaan di DKI. Lokasinya di daerah Tebet, Jakarta Selatan bernama Rumah Kita. Adanya UILS Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) di DKI ini merupakan perintis dan juga pertama ada di Jakarta maupun Indonesia.

Dibentuknya UILS ODMK tidak terlepas dari kenyataan bahwa ada orang yang ekonominya lemah dan menyandang gangguan kejiwaan dipastikan mengalami kesulitan. Atas inisiasi Basuki beberapa waktu lalu, maka terbentuklah UILS ODMK yang pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta di bawah pengawasan Kementerian Sosial RI.

"Kalau ada rumah seperti ini, dia kumpul sama teman-teman seperti ini. Ini kan dunianya masing-masing, bukan dunia seperti kita sehingga ini jadi menolong," kata Basuki usai melakukan kunjungan di UILS ODMK Rumah Kita, Jalan Tebet Barat Dalam II, Jakarta Selatan, Jumat (17/10).

Dengan UILS ODMK seperti Rumah Kita ini, kata Basuki, maka mereka yang ekonominya lemah bisa menitipkan anak dan saudaranya di rumah tersebut. Meskipun kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya jumlah sumber daya manusia yang akan membantu ODMK di sana.

"Paling penting, mengapa kita tidak membuka langsung banyak, karena kita butuh pekerjanya. Nanti ini bisa berkembang lagi dan lagi," katanya.

Saat ini, sumber daya yang ikut mengurusi UILS ODMK Rumah Kita terdapat psikolog, dokter, dan beberapa mahasiswa Psikologi. Namun keinginannya, kata Basuki, pihaknya ingin ekspansi ke seluruh Jakarta.

"Kita tidak bisa katakan mau rencana ada berapa, seribu pun saya setuju. Asal pekerjanya cukup," ujarnya.

Maka dengan ada UILS ODMK pertama ini, kata Basuki akan menjadi inkubator untuk sumber daya di tempat lainnya nanti. Termasuk juga mereka yang diurusi bisa menjadi sekaligus pekerja di sana.

Pemprov DKI sendiri belum menganggarkan langsung untuk membangun UILS ODMK seperti ini. Kekhawatiran itu, kata Basuki karena ketersediaan tenaga kerja yang belum ada sehingga sejauh ini baru ada Rumah Kita saja yang menampung ODMK.

"Makanya kita khawatir kalau langsung kita anggarkan yang kerja bagaimana. Saya bilang, kalau Kemensos tidak ada anggaran, saya bayarin tapi tes dulu. Saya khawatir ada rumah tidak ada yang kerja, nah kalau ini kan sudah jelas. Kalau sudah jelas ya dianggarkan saja," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon