OGI Terus Mendorong Keterbukaan Pemerintah
Rabu, 29 Oktober 2014 | 21:27 WIBJakarta - Keterbukaan informasi sanggup menekan potensi terjadinya kecurangan. Itulah yang kini terus didorong oleh tim Open Government Indonesia.
OGI merupakan hasil kerja bersama banyak pihak, antara lain Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Luar Negeri, juga Transparency International Indonesia.
"Sekarang ini semua informasi terbuka kecuali yang dirahasiakan, seperti pertahanan. Kan enggak mungkin juga kasih tahu kalau mau nyerang lokasi ini jam segini," kata Agus Rachmanto dari UKP4 di acara seminar "Teknologi dan Transparansi Partisipasi Orang Muda dalam Memonitor Kinerja Pemerintah di Universitas Indonesia", Depok, Rabu (29/10).
Agus menceritakan apa yang terjadi di Ambon. OGI mendorong adanya Open School. Sekolah didorong untuk terbuka tentang hal-hal seperti penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), jumlah siswa saat pendaftaran masuk serta perkembangannya, dan berapa biaya masuk sekolah. Pihak sekolah membuka informasi tersebut di internet atau setidaknya lewat pengumuman yang ditempel di dinding.
Hal ini dinilai bisa mengurangi potensi kecurangan seperti mengaku kuota murid baru sudah penuh, padahal masih ada kursi kosong.
Ada pula cerita unik di sebuah sekolah di Kalimantan Timur. Pendekatan yang digunakan untuk mendorong keterbukaan terbilang unik: majalah dinding (mading). Siswa-siswi ditantang untuk mengikuti lomba mading dengan juri independen. Pemenangnya adalah mading dengan konten dan pengemasan paling apik,
Salah satu informasi yang dikulik adalah tentang penggunaan dana BOS. Sekolah kemudian membuka informasi tersebut karena siswa datang mewawancarai pihak sekolah. Tapi bagaimana kalau dia tak mau buka suara?
"Ya bisa itu siswanya menulis di mading kalau yang diwawancara enggak mau kasih informasi. Semacam ada rasa malu di sana kalau nggak terbuka. Jadi semua bisa tahu dana dipakai apa saja karena siswa mewawancara sekolah," kata alumni Universitas Gajah Mada ini.
Inovasi OGI yang paling banyak dipakai saat ini adalah: Lapor!. Ini adalah inovasi dalam hal sistem pelaporan. Agus menjelaskan, dulu untuk melaporkan sesuatu, katakanlah jalan berlubang, masyarakat harus datang ke kelurahan, membuat dokumen, dan tidak tahu kapan laporan akan ditindak lanjuti. Dengan Lapor! itu semua hanyalah cerita suram masa lalu.
Lewat Lapor!, baik di website maupun aplikasi mobile, masyarakat bisa dengan mudah melaporkan apa pun permasalahan pembangunan. Dan karena sudah bekerja sama dengan dinas terkait, maka laporan yang disampaikan tidak akan berakhir dicampakkan begitu saja. Semua laporan yang dinilai penting diteruskan ke dinas terkait dan bisa dilacak.
"Merah berarti belum ditindak lanjuti, hijau berarti sedang dikerjakan, dan biru artinya sudah beres. Karena enggak mungkin juga kan ada laporan jembatan rubuh, besoknya udah bener lagi jembatannya," ucap Agus.
Inovasi lainnya adalah Satu Pemerintah, sebuah portal yang menyajikan data dan informasi mengenai profil, kebijakan dan keuangan dari kementerian, lembaga non-kementerian, provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Juga Data Indonesia, kumpulan data-data sektor instansi pemerintahan yang bisa digunakan secara bebas, seperti ekonomi dan keuangan, pendidikan, kependudukan dan ketenagakerjaan, kesehatan, dan pengadaan.
"Pemerintah kita semakin terbuka walaupun memang belum ideal. Memang harus ada titik untuk memulainya," ucap Agus yang pernah mengikuti program Indonesia Mengajar angkatan pertama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




