Basuki Ragukan Proyek Tanggul Raksasa

Kamis, 30 Oktober 2014 | 12:58 WIB
DP
B
Penulis: Deti Mega Purnamasari | Editor: B1
 Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama
Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Suara Pembaruan/Deti Mega)

Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama meragukan proyek National Coastal Integrated Capital Development (NCICD), tipe B. Tipe B adalah proyek NCICD yang berupa pembangunan tembok bergambar garuda di laut dalam. Basuki meragukan itu berdasarkan tinjauannya ke tanggul laut Saemangeum di Korea Selatan beberapa waktu lalu.

Di tanggul raksasa yang dikunjunginya itu, tanggul dibangun dengan bahan pasir yang berada di bukit-bukit pasir sekitar lokasi pembangunan tanggul. Dengan demikian, tidak membutuhkan waktu dan jarak yang lama untuk mendapatkan bahannya. Selain itu, tanggul tersebut juga ternyata tidak mampu mendorong air kotor berlumpur saat pintu tanggul dibuka dengan ketinggian 2,5 meter.

"Itu saja gagal, sehingga terpaksa mereka menjamin air yang masuk ke bendungan ini bersih. Saya tidak terbayang Jakarta kalau dipasang 2,8 meter di atas muka laut gimana dorongnya?" ujar Basuki saat menjadi pembicara di Seminar Solusi Mengatasi Banjir Jakarta yang diselenggarakan di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (30/10).

Untuk dapat melakukan pembangunan NCICD tipe B ini, pihaknya harus mampu memindahkan 6.000 kapal nelayan ke pelabuhan yang baru. Belum lagi ada Pelabuhan Muara Angke serta PLTU Muara Baru yang kemungkinan dengan dibangunnya tanggul itu suplaynya bisa tertutup.

"Soal tipe A saja jadi masalah. Dari data yang ada tambah 4 meter (ketinggian). Ini butuh Amdal lagi," ujarnya.

Karenanya, dirinya pun berpikir bahwa lebih baik pembangunan tipe A untuk memperkuat saja yang sudah ada dan membantu waduk-waduk serta pompa air yang sudah ada. Basuki mengakui jika NCICD tipe B ini memang masih diperdebatkan dari sisi sosial, teknis, dan lainnya. Menurutnya, harus ada kajian yang lebih mendalam lagi tentang hal itu.

"Saya tidak tahu, tapi secara awam saya lihat kalau (pintu tanggul) ditutup, 13 sungai kotor yang masuk ini bagaimana cara memompa dan buang lumpurnya semua nanti?" tanyanya.

Menurutnya, tanggul laut Saemangeum saja bisa dibuka hingga 5 meter tidak bisa mendorongnya. Termasuk juga masih ada permasalahan antara nelayan dengan dibangunnya tanggul laut tersebut.

"Makanya memindahkan nelayan saja bisa jadi masalah di Jakarta, karena sampai sekarang Saemangeum masih persoalan dengan nelayan yang dipindahkan. Makanya saya bilang banyak hal mesti dikaji," ujarnya.

Ia mengatakan, di Korea Selatan saja mereka fokus pembenahan sungai dan justru tidak fokus di tanggul sebab tanggul merupakan masalah teknis, tetapi cara untuk membuang lumpur belum terpecahkan.

"Korea punya 2 sungai utama, dia pun beresin di sungainya akhirnya. Berarti kita ada 13 sungai dong yang diberesin, ini ada hubungannya dengan normalisasi sungai," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon