Taliban: Tak Ada Pembicaraan Rahasia dengan AS

Selasa, 20 Desember 2011 | 02:39 WIB
D
B
Penulis: DAS | Editor: B1
Ilustrasi--Gerilyawan Taliban sedang berjuang di bagian selatan Afghanistan
Ilustrasi--Gerilyawan Taliban sedang berjuang di bagian selatan Afghanistan (AFP)
"Posisi kami tentang pembicaraan tetap sama. Semua pasukan pendudukan harus meninggalkan Afghanistan, baru kita bisa bicara."

Seorang komandan senior Taliban di Afghanistan, pada Senin waktu setempat membantah terdapat pembicaraan rahasia dengan Amerika Serikat.

"Bagaimana mungkin pembicaraan berada di titik terang, ketika bahkan belum mulai," kata komandan itu, melalui telepon, kepada Reuters.

Sebelumnya, seorang pejabat senior AS di Afghanistan mengatakan pembicaraan rahasia dengan gerilyawan Taliban, yang sudah berlangsung sepanjang 10 bulan, mulai menemui titik terang bagi penghentian perang di negeri itu.

Peperangan di Afghanistan sudah berlangsung sepanjang 10 tahun terakhir, dihitung dari penyerbuan tentara AS terhadap Taliban yang berkuasa melalui pemilihan umum yang sah.

Pejabat senior AS mengatakan, sebagai bagian dari diplomasi,  AS sedang mempertimbangkan pemindahan sejumlah tahanan Taliban dalam jumlah yang belum ditentukan, dari penjara militer di Guantanamo ke penjara pemerintah Afghanistan.

Tak Ada Negoisasi Jika Masih Ada Tentara Asing
Taliban secara terbuka pernah menyatakan tidak akan masuk ke dalam setiap negosiasi, jika pasukan asing masih bercokol di Afghanistan.

Komandan senior Taliban itu mengaku khawatir berita tentang pembicaraan rahasia dengan AS itu akan memukul semangat tempur pasukannya.

"Posisi kami tentang pembicaraan tetap sama. Semua pasukan pendudukan harus meninggalkan Afghanistan, baru kita bisa bicara," kata komandan Taliban itu, dari sebuah lokasi yang dirahasiakan.

Ada preseden bagi Taliban untuk merespons peristiwa-peristiwa berdasarkan motif politik daripada peran mereka yang sebenarnya.

Baru-baru ini, juru bicara Taliban pada awalnya mengklaim bertanggungjawab atas pembunuhan Burhanuddin Rabbani, utusan perdamaian dan mantan presiden, pada September lalu, namun kemudian membantahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon