Bongkar Sendiri Rumahnya, Warga Waduk Pluit Raup Untung

Kamis, 6 November 2014 | 15:29 WIB
CF
B
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: B1
Pemborong bongkaran rumah warga waduk Pluit, nampak sibuk membongkar kayu rumah warga yang sudah pindah ke rusun Muara Baru, Jakata, Kamis (6/11).
Pemborong bongkaran rumah warga waduk Pluit, nampak sibuk membongkar kayu rumah warga yang sudah pindah ke rusun Muara Baru, Jakata, Kamis (6/11). (Suara Pembaruan/Carlos)

Jakarta - Normalisasi sisi timur waduk Pluit yang dikerjakan swadaya oleh masyarakat sekitar dan tanpa menggunakan alat berat Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta membuat sejumlah warga yang semula berprofesi sebagai nelayan dan buruh kasar beralih profesi menjadi pemborong bongkaran rumah warga yang sudah pindah ke blok 11 rumah susun Muara Baru.

Seperti Panuntung (45) misalnya, warga Makssar yang tinggal di blok C RW17, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara sejak tahun 2000 tersebut mengatakan sebelumnya ia bekerja sebagai buruh kasar untuk proyek penggalian ataupun bangunan, namun karena ada kesempatan usaha saat pembongkaran rumah warga ia pun bergegas menawarkan jasa bongkar rumah dengan sistem borongan. "Untuk satu rumah yang saya bongkar biasanya saya bayar ke pemilik rumahnya antara 1 sampai 2 juta rupiah dan itu dia nanti terima beres rumahnya sudah rampung dibongkar," ujar Panuntung, Kamis (6/11) siang.

Panuntung mengaku dalam memberikan layanan bongkar ia hanya memilih rumah yang terbuat dari kayu dan bukan yang permanen. "Kalau yang dari kayu harga jualnya bisa lebih tinggi dibanding yang dinding batu bata, kalau dinding batu bata paling jadi puing urukan, tapi kalau dari kayu harga ekonomisnya masih lebih tinggi," lanjut Panuntung.

Panuntung mengungkapkan dirinya bekerja secara berkelompok untuk membongkar bangunan warga kemudian hasil bongkaran kayu diangkut dengan mobil pick up yang ia sewa. "Untuk sekali antar mobil pick up saya menyewa Rp 100.000, sedangkan untuk lima kenek yang saya perbantukan masih harus mengeluarkan biaya Rp 70.000 per hari untuk satu kenek," tambah Panuntung.

Panuntung mengaku menjual kayu-kayu yang ia kumpulkan ke pengepul di Muara Angke dengan harga bervariasi antara Rp 500.000 hingga 1.000.000 tergantung ukuran kayu dan kualitasnya. "Saya bersyukur dinas PU membiarkan pembongkaran dilakukan secara mandiri dan manual, karena itu menguntungkan bagi pemilik rumah dan masyarakat sekitar yang bisa mendapat profesi baru, soalnya kalau dibongkar menggunakan beko pasti kayunya tidak akan bisa dipakai lagi," tandas Panuntung.

Sementara itu, Hermat (48) salah satu pemborong bongkaran rumah permanen mengaku bisa mendapat omzet Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Sisa bangunan kemudian dijual ke pengepul puing di Cilincing. "Memang lebih kecil omzetnya bila di bandingkan membongkar rumah kayu, tapi ya namanya juga ada peluang usaha ya dijalani saja," ujar Hermat yang sebelumnya buruh nelayan.

Sebelumnya saat pengundian kunci Rusun Muara Baru Blok 11 tahap pertama yang dilakukan di Kecamatan Penjaringan, Herianto selaku Koordinator Normalisasi Waduk dan Kali DKI Jakarta mengatakan akan memberi kesempatan waktu beberapa minggu bagi warga yang sudah menempati unit rusun Muara Baru untuk membongkar bangunannya sendiri. "Kita beri kesempatan pada masyarakat untuk membongkar bangunannya, jadi mereka bisa memanfaatkan bongkaran rumah mereka sendiri," ujar Herianto. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon