Mengintip Keseharian Ibu Menlu AS di Serial "Madam Secretary"
Kamis, 6 November 2014 | 20:53 WIB
Singapura - Saluran televisi dari Sony Pictures Television Networks, Sony Channel, mengajak pemirsa setianya menyaksikan serial drama "Madam Secretary" yang mengisahkan tentang kehidupan Elizabeth McCord, perempuan cerdas dan berdeterminasi tinggi yang baru saja dilantik sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Tayangan ber-genre drama ini, menyajikan bagaimana dirinya memimpin diplomasi internasional, menghadapi politik di kantor, memangkas aturan protokoler, demi kesuksesan negosiasi krisis domestik dan global, baik di Gedung Putih dan di rumahnya sendiri.
Serial ini mengajak penonton memahami secara mendalam dan detil, tentang peran dan keseharian Menteri Luar Negeri, apa yang terjadi di balik pemberitaan media, tantangan dan keseharian yang dijalaninya, hingga bagaimana anggota keluarganya menyesuaikan diri dengan kehidupan baru mereka.
Daya tarik inilah yang menjadikan "Madam Secretary" sebagai salah satu tayangan televisi yang paling banyak ditonton di Amerika Serikat saat ini, dengan lebih dari 17 juta penonton pada episode perdana, dan rata-rata lebih dari 13,5 juta penonton di setiap episodenya.
Dibintangi oleh aktris cantik, Tea Leoni(Jurassic Park III, Flirting with Disaster, Fun with Dick and Jane), yang berperan sebagai Elizabeth McCord, serial ini digarap oleh tim Produser Eksekutif, Morgan Freeman (aktor pemenang Academy Award), Barbara Hall, Lori McCreary, dan David Semel.
Tayangan ini bisa dibilang memiliki penokohan yang kuat, alur kisah yang menegangkan, drama yang cerdas, bertempo cepat dan berkualitas, sehingga akan membuat penonton terpikat, dan menantikan episode-episode selanjutnya.
Elizabeth sendiri digambarkan sebagai seorang profesor, dan mantan analis CIA. Dirinya kembali menjalani tugas negara atas permintaan mantan bos dan mentornya di CIA, yang kini menjabat Presiden AS (Keith Carradine), setelah Menteri Luar Negeri sebelumnya tewas dengan misterius.
Elizabeth dipilih karena sang Presiden mengapresiasi sikap apolitiknya, pemahaman mendalam tentang Timur Tengah, kemahiran berbicara multi bahasa, dan kemampuannya untuk berpikir out of the box, dan terkadang, kenaifannya.
"Elizabeth tidak memiliki latar belakang politik, tidak sinis atau ambisius. Ia sangat optimis dan percaya (pada kekuatan diplomasi). Serial ini menghadirkan sisi optimistik terhadap apa yang bisa dilakukan pemerintah. Seperti versi optimistis dari serial politik seperti 'West Wing', berbeda dengan penggambaran politik dan politisi yang biasa dihadirkan di tayangan televisi, atau persepsi publik," kata mantan istri dari aktor David Duchovny ini.
Serial ini merupakan peran utama pertama yang didapatkan Tea sepanjang karir di dunia hiburan, dan penampilan pertamanya di televisi setelah 16 tahun rehat. Tea sendiri melakukan riset untuk persiapan perannya, mulai dari mewawancarai staf Kementerian Luar Negeri di Washington, membaca buku-buku karya mantan Menlu, Madeleine Albright, dan Hillary Clinton. Bahkan, dirinya sempat ngopi bareng Madelaine, untuk meminta saran langsung dari Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Amerika tersebut.
"Tiap minggu, penonton dapat menyaksikan bagaimana Elizabeth mencoba menjalani semua tantangan serta menyeimbangkan hidup dan karirnya, sebuah permasalahan politik internasional, atau hubungan luar negeri. Politik dengan koleganya di Washington, dan Gedung Putih, kasus tewasnya mantan Menteri Luar Negeri yang terkait dengan konspirasi besar, serta permasalahan di rumah. Ibaratnya, ia harus berhadapan dengan Presiden Amerika di pagi hari, Presiden Komite Sekolah di siang hari, dan anaknya yang beranjak remaja dan mulai membangkang di malam hari," ujar Lori McCreary, produser eksekutif serial ini.
Dalam menjalankan tugasnya, Elizabeth dibantu Kepala Staf Kementerian Luar Negeri Nadine Tolliver (pemenang Emmy Award, Bebe Neuwirth), penulis naskah pidato Matt Mahoney (Geoffrey Arend), koordinator media Daisy Grant (Patina Miller) dan asisten pribadinya, Blake Moran (Erich Bergen).
Berdebat untuk menyelesaikan masalah di negara dunia ketiga dan berdiplomasi dengan para diplomat asing, hanyalah pemanasan terhadap apa yang ia hadapi di rumah bersama suaminya Henry (Tim Daily) dan ketiga anak mereka Stevie, Alison and Jason (Wallis Currie-Wood, Katherine Herzer dan Evan Roe), dimana "politik" dan "kompromi" punya makna berbeda.
Tea sendiri menyatakan, serial ini tidak hanya melulu soal politik. Bahkan, kisahnya sangat dekat dengan keseharian orang banyak, khususnya kalangan perempuan.
"Ini adalah kisah bagaimana perempuan membesarkan anak-anak, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan bernegosiasi di kantor, serta pasang surut dalam kehidupan. Hal itu sangat dekat dengan kehidupan para penonton, bahkan jika pekerjaan mereka sama sekali tidak terkait dengan negosiasi penyelamatan dua remaja Amerika yang disandera di Suriah, atau merancang strategi sebelum kunjungan pemimpin negara Afrika. Tanggung jawab Elizabeth mungkin lebih besar, pekerjaannya mungkin lebih berat, tapi intinya sama. Dirinya merupakan sosok wanita yang berusaha menyeimbangkan karir dan keluarga," kata aktris yang masih cantik di usia kepala empat ini.
Kalau masih penasaran dengan kisah Elizabeth McCord, baiknya saksikan langsung serial "Madam Secretary" yang tayang pertama dan eksklusif di Asia, setiap Kamis pukul 19.50 WIB, di saluran Sony Channel (BiG TV ch 229, Indovison ch 70, Transvision ch 506 dan Innovate ch 70).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




