Golkar Harus Punya Figur Kuat untuk Pilpres 2019

Kamis, 13 November 2014 | 14:06 WIB
HR
B
Penulis: Hizbul Ridho | Editor: B1
Ribuan simpatisan partai Golkar mengikuti kampanye akbar Partai Golkar di Medan, Sumut, Kamis (20/3). Dalam kampanye yang diikuti ribuan simpatisan dan kader partai Golkar tersebut mengajak simpatisan untuk memberikan suaranya memenangkan pemilu legislatif dan presiden 2014.
Ribuan simpatisan partai Golkar mengikuti kampanye akbar Partai Golkar di Medan, Sumut, Kamis (20/3). Dalam kampanye yang diikuti ribuan simpatisan dan kader partai Golkar tersebut mengajak simpatisan untuk memberikan suaranya memenangkan pemilu legislatif dan presiden 2014. (Antara/Septianda Perdana)

Jakarta - Kurangnya figur kuat dalam Partai Golongan Karya (Golkar) membuat partai ini melulu hanya berhasil memasukkan kadernya ke parlemen tanpa pernah memunculkar figur kuat kandidat calon presiden.

Padahal partai berlambang beringin tersebut merupakan salah satu partai yang "selamat" bertransformasi dari partai berbau orde baru.

Musyawarah nasional Golkar yang digelar awal tahun depan menjadi kesempatan mereka untuk memunculkan figur kuat yang menjadikannya partai presidensial, yang bisa memunculkan figur kuat untuk pemilihan presiden 2019.

Hasil survei Poltracking dari 173 pakar dan tokoh yang memiliki pengaruh opini di publik menemukan, rata-rata figur yang mencalonkan diri untuk munas Golkar 2015 tidak melewati poin tujuh, diukur dari poin satu sampai 10.

"Memang kualitas figur di partai Golkar demikian yang disampaikan pakar. Saya pikir ini menjadi kritik kita bersama untuk Partai Golkar meningkatkan kapasitasnya," kata Agung Baskoro, Peneliti dan Analis Poltracking Instite pada rilis survei mereka di Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (13/11).

Analisis dan Peneliti Poltracking lain, Arya Budi, menyebutkan kurangnya figur kuat di Golkar disebabkan kader-kader Golkar lebih mementingkan kinerja politik dibanding kinerja publik.

"Ditambah dengan adanya konstelasi politik sekarang ini, meskipun menjadi partai penentu di Koalisi Merah Putih (KMP), Golkar menunjukkan kinerja politik yang tidak produktif, yang tidak linear dengan kebutuhan publik," ujarnya.

Kalau figur-figur Golkar yang mencalonkan diri tersebut tidak meningkatkan kualitasnya, lanjut Arya, dikhawatirkan ketika disandingkan dengan kandidat lain dalam pilpres 2019, Golkar akan kembali terpuruk.

"Intinya bagaiamana partai ini menjelma dari partai parlementer ke presidensial, yang punya figur kuat di Pilpres 2019. Secara politik Golkar diakui memiliki partai dan infrastrukur yang kuat. Namun Golkar selalu dianggap gagal mengajukan kandidat kuat dalam pilpres," katanya.

Hal tersebut menunjukkan ada masalah di dalam partai Golkar yang harus dikaji lebih dalam, tidak hanya oleh eksternal tetapi juga internal partai.

Munas 2015 yang direncanakan digelar Februari merupakan momentum Golkar untuk pembaruan kepemimpinan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon