Tuntut UMP DKI, Buruh Tutup Akses Pelabuhan Tanjung Priok

Kamis, 20 November 2014 | 21:49 WIB
CF
WP
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: WBP
Ratusan buruh dari berbagai serikat pekerja menutup akses jalan ke Terminal peti kemas Tanjung Priok menuntut UMK Rp 2,7 juta.
Ratusan buruh dari berbagai serikat pekerja menutup akses jalan ke Terminal peti kemas Tanjung Priok menuntut UMK Rp 2,7 juta. (Suara Pembaruan/Carlos Ray Fajarta)

Jakarta - Ribuan massa buruh dari berbagai serikat pekerja melakukan aksi penutupan akses jalan menuju pelabuhan peti kemas Tanjung Priok di pos 9, Jalan Sulawesi, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Kamis (20/11) sore.

Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2015 hanya sebesar Rp 2,7 juta. Angka tersebut dianggap tidak realistis dengan biaya hidup di Jakarta, pascakenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Akibat ditutupnya akses pos 9, truk kontainer terpaksa dialihkan menuju pos 8 di Jalan Enggano, depan Rumah Sakit Pelabuhan dan pos 1 di Jalan R.E Martadinata, depan terminal bus dan stasiun kereta Tanjung Priok. Truk dari arah Cilincing atau Cakung, terpaksa memutar melalui Plumpang Semper dan Jalan Yos Sudarso.

Buruh yang ikut dalam aksi tersebut di antaranya Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin (FSP-LEM), Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (SBTPI), Serikat Pekerja Nasional (SPN), Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Federasi Perjuangan Buruh Indonesi (FPBI).

Ketua Umum SBTPI, Ilhamsyah, mengatakan penetapan UMP DKI Jakarta di tengah kenaikan BBM bersubsidi secara tidak langsung membuat harga-harga kebutuhan pokok merangkak. "Dimana hati nurani Ahok dan Jokowi, apa tidak kasihan pada nasib buruh di Jakarta. Mau makan apa keluarga kami? Mau disekolahkan dengan apa anak-anak kami?" ujar Ilhamsyah, Kamis (20/11) sore.

Ilhamsyah membandingkan UMP kota Bekasi 2015 yang mencapai Rp 2,9 juta. Padahal biaya hidup di Bekasi lebih rendah dibandingkan Jakarta. "Dimana logikanya, Pemprov DKI jangan hanya memikirkan para pemilik modal, kami para buruh yang sudah hidup dengan bekerja keras dan keringat belum bisa membiayai kehidupan keluarga," lanjut Ilhamsyah.

Menurut hasil pemantauan SP di lapangan, para buruh melakukan penutupan di dua titik, yakni dari arah ujung jalan Yos Sudarso (Jalan Sulawesi) menuju pos 9 pelabuhan serta dari ujung Jalan Cilincing Raya (jalan Jampea) menuju pos 9. Menggunakan lima mobil orasi, ratusan sepeda motor milik buruh nampak memainkan putaran mesin dan menyalakan klakson.

Buruh juga sempat membakar dua buah anyaman jerami yang dibungkus kain putih berbentuk pocong dengan muka Ahok dan Jokowi ditambah beberapa ban bekas sebagai bentuk pelampiasan kekesalan mereka.

Meski ingin bertahan hingga larut malam, aksi simpatik 200 personel Polsek Tanjung Priok dan Polsek Koja yang dipimpin Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Mohammad Iqbal dapat membujuk para buruh untuk membubarkan diri karena batas aksi unjuk rasa pukul 18.00 WIB.

"Kami tetap melayani para buruh yang ingin menyampaikan aspirasi mereka, bentuk penjagaan kami adalah dengan mengayomi agar melaksanakan demo dengan tertib," ujar Iqbal.

Iqbal mengimbau aksi unjuk rasa buruh jangan sampai merugikan masyarakat. "Kita tetap jaga situasi dan menghargai aspirasi buruh, namun mereka juga harus tetap mematuhi peraturan yang berlaku dan tidak berbuat anarkis," tutup Iqbal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon