Putin: Barat Gunakan Sanksi untuk Lemahkan Rusia
Kamis, 4 Desember 2014 | 23:53 WIB
Moscow – Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (4/12) menuduh pihak Barat mengeksploitasi krisis Ukraina untuk melemahkan negaranya. Ia juga menyebut Crimea memiliki arti penting yang sakral bagi Rusia. Hal tersebt ia sampiakan dalam pidato di depan anggota parlemen di Kremlin. Putin mengatakan bahwa Rusia tidak akan memutuskan hubungan dengan Barat meskipun tensi hubungan politik dengan Brussels dan Washington terkait konflik Ukraina memanas.
"Setiap kali seseorang percaya bahwa Rusia menjadi terlalu kuat dan mandiri maka instrumen-instrumen ini bisa diterapkan dengan segera," kata Putin, mengacu pada sanksi.
Tapi tokoh kuat Rusia ini menepis masalah perekonomian Rusia yang memuncak karena tergelincirnya ekonomi ke dalam resesi di bawah tekanan sanksi Barat dan turunnya harga minyak mentah.
"Kami siap menanggung segala tantangan dan memenangkannya," kata Putin.
Dengan menggunakan istilah bahasa yang sangat emosional, Putin mengatakan bahwa Crimea, yang direbut Moskow dari Ukraina pada Maret, memiliki arti penting yang sakral bagi Rusia, dibandingkan dengan Temple Mount di Yerusalem.
"Seperti itulah kami akan memperlakukan ini. Mulai sekarang dan selamanya," ungkap dia.
Dia mengatakan Rusia tidak akan menurunkan hubunganya dengan Barat meskipun ada konfrontasi pahit atas krisis Ukraina yang membuat Brussels dan Washington memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap Moskow di tahun ini.
"Tanpa didasarkan dengan situasi apapun, kami akan kembali menimbang hubungan dengan Eropa, Amerika dan pada saat yang bersamaan kami akan kembali menghidupkan serta memperluas hubungan tradisonal dengan wilayah benua Amerika selatan dan akan melanjutkan kerjasama dengan Afrika, dengan negara-negara di Timur Tengah," ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa Rusia tidak akan terjebak dalam perlombaan senjata yang baru tapi bersikeras bahwa militer negaranya siap untuk menangkis setiap serangan.
Sementara itu, militer Ukraina pada Kamis mengatakan bahwa mereka bertempur dengan lebih dari 30.000 tentara pemberontak di bagian timur negara itu, termasuk lebih dari 10.000 tentara Rusia dan tentara bayaran yang datang dari wilayah jauh seperti Brasil.
"Hari ini di wilayah Donbass, ada 32.400 pejuang, dimana 6.000 hingga 10.000 orang merupakan tentara angkatan bersenjata Rusia. Sisanya merupakan tentara bayaran dan anggota kelompok paramiliter ilegal," ujar juru bicara militer Ukraina Oleksandr Rozmaznin, seperti dilansir dari Interfax Ukraina.
Ia mengatakan pihak militer juga telah menahan tentara-tentara bayaran dari Israel, Serbia, Spanyol, Italia dan bahkan Brasil.
Angka yang dia sampaikan, dimana angka tepatnya dikeluarkan oleh Ukraina sampai saat ini, tidak dapat diverifikasi secara independen.
Rozmaznin kerap mengklaim Rusia sering melakukan rotasi prajurit di dalam dan luar Ukraina karena mereka tidak tahan dengan tekanan psikologis.
Rusia sendiri sudah berulang kali membantah memberikan bantuan militer langsung kepada pemberontak di Ukraina timur, ketika mengklaim bahwa tentara Rusia yang ada di wilayah ini adalah para sukarelawan yang sedang berlibur. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik itu telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan 93.000 pengungsi sejak dimulai pada April.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




