Keterbatasan Lahan, Reklamasi Pantai Menjadi Alternatif
Jumat, 5 Desember 2014 | 07:45 WIB
Jakarta - Keterbatasan lahan untuk pengembangan properti di Jakarta mendorong developer melakukan reklamasi pantai menjadi daratan.
Direktur Agung Podomoro Land (APL) Matius Jusuf mengatakan, salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya adalah dengan melakukan reklamasi pantai. Khusus di Jakarta, katanya, untuk mengembangkan proyek di Jakarta Selatan sudah tidak mungkin lagi karena menjadi daerah resapan air dan penahan banjir.
Langkah melakukan reklamasi, kata Matius, juga dilakukan oleh 20 negara lainnya, seperti Singapura dan Tingkok. Di sisi lain, percepatan penduduk yang tinggi membuat kebutuhan akan properti seperti hunian juga terus meningkat. Padahal, di bagian lainnya, ketersediaan lahan semakin lama semakin habis.
"Saya kira reklamasi pantai adalah salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan, di kota besar seperti di Jakarta, begitu juga terlihat di Kalimantan dan lainnya," kata Matius dalam acara diskusi Outlook Property 2015, Geliat Investasi di Tengah Kelangkaan Lahan, oleh Majaah Property and Bank, di Hotel Grand Sahid Jakarta, Kamis (4/12).
Menurut dia, reklamasi dilakukan karena lahan terbatas. Di sisi lain, Indonesia adalah negara kepulauan dan 75 persen wilayahnya adalah lautan. Hanya sebanyak 25 persen wilayahnya yang berupa daratan. Di satu sisi jumlah penduduk Indonesia cukup besar sehingga kebutuhan hunian juga sangat besar. "Reklamasi laut ini terpicu terbatasnya ketersediaan tanah di kota-kota besar," kata dia.
Dia mengatakan, Jakarta merupakan ibukota pemerintahan sekaligus juga sebagai pusat bisnis yang terus mengalami pertumbuhan. Dimana setiap jengkal tanah berubah menjadi gedung perkantoran dan juga hunian.
"Memang kawasan potensial adalah kawasan Jakarta Selatan tetapi wilayah tersebut sebagai kawasan resapan air, Jakarta Barat penuh, Jakarta Timur pertumbuhannya masih lamban dibandingkan wilayah lain di Jakarta," jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, dari segi ekonomis, wilayah utara merupakan potensial setelah Jakarta untuk dikembangkan menjadi kota baru. APL sendiri, kata dia, berencana membangun Pluit City di atas lahan reklamasi pantai utara Jakarta. Di proyek ini nantinya diluncurkan produk-produk properti yang terdiri atas ruko, vila, perkantoran, pusat belanja, apartemen.
Properti yang disiapkan Agung Podomoro tersebut terdiri atas lebih dari 10 blok seluas 160 hektare dan akan mencakup perumahan, perkantoran, mal, dan ruko lebih dari 10 blok. Pada tahap pertama, mereka menyiapkan dana investasi sebesar Rp 10 triliun untuk membangun residensial.
Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan REI, Preadi Ekarto mengatakan, salah satu yang menyebabkan kelangkaan lahan untuk sektor properti adalah karena pemerintah masih lamban untuk pembangunan infrastruktur baru di suatu daerah. Akibatnya, kata dia, pertumbuhan ekonomi masih terpusat di beberapa titik.
"Karena pemerintah lamban bangun infrastrukturnya, sehingga penciptaan kota-kota baru juga terbatas, wajar bila harga tanah juga naik tinggi karena infrastruktur di daerah lain tidak terbangun," kata dia.
Preadi masih optimistis, pertumbuhan properti kedepan masih cukup bagus dan 2016 bisa menjadi puncaknya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




