Rakyat Kuba Sambut Gembira Normalisasi Hubungan dengan AS

Kamis, 18 Desember 2014 | 05:23 WIB
YS
B
Penulis: Yuliantino Situmorang | Editor: B1
Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan Presiden Kuba Raul Castro saat melayat Nelson Mandela di stadion FNB di Soweto, Afrika Selatan, 10 Desember 2013.
Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan Presiden Kuba Raul Castro saat melayat Nelson Mandela di stadion FNB di Soweto, Afrika Selatan, 10 Desember 2013. (Istimewa)

Havana – Rakyat Kuba di ibu kota Havana menyambut gembira pengumuman yang disampaikan Presiden Raul Castro terkait normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat, Rabu (17/12). Sebab, permusuhan setengah abad antara dua negara itu kini berakhir.

Dengan mengenakan seragam militer lengkap termasuk lima bintang, Raul Castro, pemimpin berusia 83 tahun itu mengumumkan bahwa kedua negara akan bekerja untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada, "tanpa menyangkal satu pun dari prinsip-prinsip kami." 

Warga Havana berkumpul di depan televisi di rumah mereka untuk menyaksikan siaran nasional tentang pidato pengumuman dari Presiden Kuba Raul Castro.

Bahkan, sekolah-sekolah dan perkantoran berhenti beraktivitas sejenak untuk mendengar siaran nasional bersejarah itu.

Pengumuman itu bersamaan dengan pidato Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih, Washington, AS.

Anak-anak sekolah berseragam di Havana terlihat bertepuk tangan mendengar berita itu.

Sementara itu, di Universitas San Geronimo, di pusat ibukota, pengumuman itu diwarnai dentang lonceng yang bergema hingga terdengar ke seantero kota. Rasa euforia menyebar hingga seluruh ibu kota.

"Bagi rakyat Kuba, saya pikir ini seperti suntikan oksigen, keinginan yang datang. Sebab, ini menghilangkan perbedaan-perbedaan kita," kata Carlos Gonzalez, seorang spesialis TI berusia 32 tahun.

"Ini merupakan kemajuan yang akan membuka jalan untuk masa depan yang lebih baik bagi kedua negara," tambahnya.

Hal serupa dikatakan Guillermo Delgado, seorang pensiunan berusia 72 tahun. Ia menyambut pengumuman itu sebagai "berita besar."

"Ini adalah kemenangan bagi Kuba karena dicapai tanpa kebobolan prinsip-prinsip dasar," kata Delgado. "Untuk Obama, saya pikir itu adalah langkah spektakuler. Semua negara harus mengubah kebijakan irasional ini."

Fidel dan Raul Castro memimpin pemberontakan tahun 1959 yang menggulingkan kediktatoran Fulgencio Batista. AS awalnya mengakui pemerintah baru itu. Namun, pada 1961, AS memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Kuba. Soalnya, Kuba berbelok tajam ke kiri dan menasionalisasi perusahaan milik AS.

Setelah Kuba berbalik ke arah Uni Soviet, AS kemudian memberlakukan embargo perdagangan sejak tahun 1962.

Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, Kuba menghadapi banyak masalah besar. Mereka sangat kekurangan minyak, makanan dan bahan kebutuhan pokok. Hal itu memaksa mereka untuk membatasi jatah segalanya mulai dari kacang hingga  susu bubuk.

Pemerintah Kuba menuding parahnya ekonomi itu karena embargo, sedangkan Washington menyebutnya karena kesalahan kebijakan ekonomi komunis Kuba.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon