Mensos: 304 Kabupaten/Kota Rawan Bencana Alam

Minggu, 21 Desember 2014 | 03:25 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Tim gabungan dari regu penyelamat, TNI dan Tim SAR dibantu warga membersihkan tubuh salah satu korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia saat dievakuasi dalam bencana tanah longsor di desa Jemblung, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (14/12).
Tim gabungan dari regu penyelamat, TNI dan Tim SAR dibantu warga membersihkan tubuh salah satu korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia saat dievakuasi dalam bencana tanah longsor di desa Jemblung, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (14/12). (AFP/Agus Fitrah)

Jambi - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa kembali mengingatkan bahwa sebanyak 304 Kabupaten/kota di Indonesia rawan bencana alam pada musim hujan.

Ketika dikonfirmasi Antara usai menghadiri puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) di Jambi, Sabtu (20/12), menteri mengatakan, untuk mengantisipasi tingginya ancaman bencana, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan risiko bencana, kemudian katanya membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana dan petanya harus ada.

"Di Indonesia itu ada 304 Kabupaten/kota yang rawan bencana, 274 Kabupaten/kota itu rawan tanah longsor, jadi sisanya ada yang rawan banjir, rawan kemungkinan merapi, gunung-gunung berapi yang rawan erupsi lagi dan lainnya," kata Khofifah.

Dia menyebut kehidupan harmonis itu menjadi penting, karena dengan itu masyarakat kemudian akan ramah dengan lingkungan yang kadang-kadang kurang bersahabat, mereka sudah harus siap siaga sebelumnya dan memang harus ada proses deteksi dini yang menyatu dengan masyarakat.

Menurutnya, jika masing-masing daerah itu sudah terdeteksi rawan bencana, hendaknya dilakukan persiapan-persiapan yang komprehensif agar masyarakat bisa menjalankan antisipasi bencana tersebut.

"Maka saat bencana mereka akan bisa menjalankan antisipasi-antisipasi secara mandiri, itu yang memang harus dikembangkan, makanya petugas Tanggap Bencana (Tagana) itu langsung turun jika ada bencana dan setiap Kabupaten/kota sudah ada Tagananya," katanya.

Terkait masyarakat yang ramah lingkungan, Khofifah yang berkesempatan berkunjung ke kampung Bantar (Bersih, Aman, dan Pintar) di Liposos II, Kelurahan Eka Jaya, Kecamatan Jambi Selatan, Jambi, mengungkapkan, bahwa salah satu bentuk living harmony itu ia temukan di Kampung yang dicanangkan sebagai kawasan Lingkungan Sosial Terpadu ini.

"Saya menemukannya disini, jadi living harmony itu bagaimana masyarakat itu bisa hidup harmoni dengan lingkungannya, masyarakat bisa hidup harmonis dengan masyarakat yang lain, dan bagaimana masyarakat mencoba membangun kebersamaan di antara perbedaan yang ada. Ini adalah kota Jambi, tapi saya menangkap bahwa penduduk disini juga banyak dari Jawa, jadi saya melihat ada living harmony di kampung Bantar ini," ungkapnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon