Pertama Kali, Kemkes Gelar Parade Penelitian Kesehatan

Senin, 29 Desember 2014 | 06:26 WIB
DM
B
Penulis: Dina Manafe | Editor: B1
Ilustrasi peneliti.
Ilustrasi peneliti. (Nadia Felicia/Beritasatu.com)

Jakarta - Menjelang akhir tahun, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemkes) menggelar parade penelitian kesehatan 2014 sekaligus meluncurkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

Kegiatan yang baru pertama kali digelar oleh Kemkes tersebut akan dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek pada hari ini, Senin (29/12).

Kepala Balitbangkes Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, dalam parade ini akan disajikan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan tahun 2014 kepada masyarakat, pengambil keputusan, akademisi, media massa dan peneliti.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermaanfaat bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus sebagai bagian dari akuntabilitas kinerja yang dilakukan Balitbangkes Kemkes sepanjang tahun ini.

"Baru pertama kali ini dilakukan dan kami juga mencoba bentuk baru, di mana hasil penelitian di sajikan dalam bentuk film dan penjelasan singkat oleh pimpinan peneliti, lalu dikomentari oleh akademisi seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor dan kalangan bisnis serta komentator ke dua dari masyarakat yang diwakili para wartawan," kata Tjandra, di Jakarta, Minggu (28/12).

Hasil penelitian yang akan disajikan kepada peserta, menurut Tjandra, adalah informasi mengenai enam hal yang dilakukan Kemkes. Perama, adalah hasil riset Studi Diet Total (SDT).

Studi ini terdiri dari dua sub kegiatan berupa Studi Kosumsi Makanan Individu (SKMI) dan Analisis Cemaran Kimia Makanan (ACKM). Namun pada parade kali ini hanya menampilkan SKMI.

SKMI merupakan studi yang mensurvei kosumsi makanan individu sebagai gambaran wilayah nasional dan provinsi atas makanan penduduk berupa asupan gizi terutama energi, protein, lemak, natrium yang mempresentasikan gambaran.

Juga akan dipaparkan hasil riset khusus vektor dan reservoir penyakit (Rikus Vektora). Riset ini bertujuan untuk mendapatkan data dasar atau peta penyebaran vektor dan reservoir penyakit, dalam rangka mendukung tata laksana program pengendalian penyakit menular khususnya zoonosis di Indonesia.

Ada pula hasil riset khusus budaya (etnografi kesehatan). Riset ini untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh aspek potensi budaya terkait dengan kesehatan dari setiap etnik di Indonesia.

Sampai sekarang telah dilakukan penelitian terhadap 32 dari 1.068 etnik di Indonesia. Dari setiap etnik akan diketahui dampak positif dan negatif terhadap kesehatan, sehingga intervensinya tepat sasaran, memperkuat yang positif dan menghilangkan yang negatif.

Selanjutnya, mengenai perkembangan riset kohort tumbuh kembang anak dan Penyakit Tidak Menular (PTM). Riset ini akan mengikuti perkembangan dari kehamilan anak sampai remaja. Namun saat ini yang baru dilakukan hanya sampai usia 2 tahun. Sedangkan untuk PTM diikuti dari usia 25 tahun sampai akhir kehidupan.

Dalam parade ini juga akan dipaparkan kesiapan laboratorium Balitbangkes dalam menghadapi kejadian luar biasa, wabah dan pandemi, khususnya ‎new emerging diseases atau reemerging diseases. Kemudian soal saintifikasi jamu, yaitu riset yang membuktikan secara ilmiah manfaat jamu. Riset ini perlu dilanjutkan karena dari hasil riset tanaman obat dan jamu tahap pertama telah diindentifikasi 15.332 tanaman obat dan 1.889 spesies tanaman obat.

"Selain enam penelitian di atas, selama tahun 2014 Badan Litbangkes juga sudah menghasilkan 174 penelitian," kata Tjandra.

Dalam kesempatan ini juga diluncurkanIPMK yang di buat dari hasil analisa mendalam data Riskesda 2013. Seperti diketahui, Riskesdas 2013 sampelnya meliputi 300.000 rumah tangga dengan 1.027.763 anggotaya di 497 kabupaten/kota di 33 provinsi. Lalu, dilakukan pengumpulan data status kesehatan dan berbagai indikator kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun individu.

Riskesdas 2013 sendiri kaya akan informasi dan data kesehatan serta hasilnya dapat merepresentasikan kabupaten/kota. Selain itu, menghasilkan gambaran status dan keberhasilan pembangunan kesehatan di suatu daerah sekaligus dapat melihat adanya disparitas pembangunan kesehatan antar kabupaten/kota.

Keberhasilan pembangunan di suatu negara atau daerah ditentukan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), yaitu komposit dari tiga pilar utama pembangunan manusia, yaitu pendidikan, daya beli masyarakat dan umur harapan hidup (UHH).

UHH yang merupakan indikator keberhasilan pembangunan kesehatan adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dari sejak dilahirkan dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.

Namun dalam operasional di lapangan belum ada arah intervensi yang jelas khususnya di bidang kesehatan untuk meningkatkan UHH, sehingga diperlukan penjabaran yang lebih rinci dari indikator kesehatan terkait dengan UHH.

"Untuk itulah Balitbangkes Kemkes menyusun IPKM, dan diharapkan dapat menjadi acuan dan pertimbangan dalam penyusunan prioritas pembangunan kesehatan, baik yang dilakukan oleh daerah maupun oleh pusat," kata Tjandra.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon