Pengamat: Jokowi Pusing karena KIH, Khususnya PDI-P

Sabtu, 17 Januari 2015 | 10:39 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait polemik pengajuan calon tunggal Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (14/1).
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait polemik pengajuan calon tunggal Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (14/1). (Antara/Andika Wahyu)

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai sedang terbelit masalah yang membuatnya berada dalam kondisi sulit terkait penunjukkan Komjen (Pol) Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri.

Dinilai hal itu disebabkan oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mendukungnya, di mana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai yang memimpinnya.

"Karut marut ini tak terlepas gerakan politik, di-drive motif politik. Parpol yang terbesar, tentu dia ingin men-drive sesuai kepentingan mereka, dalam hal ini PDI-P. Mungkin ada kepentingan subjektif," kata Nico Harjanto dari Populi Center dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (17/1).

Akibatnya, Nico menilai Polri sebenarnya belum butuh pergantian pimpinan dan Jenderal Sutarman masih bisa menjabat beberapa bulan lagi.

"Walau Polri belum butuh pergantian pimpinan, malah dibikin. Jadi alasan butuh pergantian itu tidak ada," kata dia.

"Kepentingan politik itu yang membuat posisi presiden terjepit di antara empat penjuru, yakni istana, DPR, KPK, dan Teuku Umar."

Akibatnya, kata Nico, sangat bisa dipahami kalau Presiden Jokowi menjadi terlihat pusing dan tak tenang.

"Sudah jelas PDI-P menyusahkan dia. Bahkan ada istilah 'Jas Merah'. Kalau dulu Bung Karno itu artinya 'Jangan sekali-kali melupakan sejarah'. Tapi sekarang namanya jadi 'Jangan sampai Mega marah'," ujar Nico.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon