Pembinaan Dini dan 'Sports Science' jadi Fokus PSSI
Rabu, 4 Januari 2012 | 22:25 WIB
Mengambil model Belanda dan Jepang, PSSI serius ingin mengembangkan sports science sebagai bagian dari pembentukan timnas yang tangguh.
Dengan syarat garis besar program yang sudah dirancang dan kini mulai dijalankan bisa terlaksana, PSSI yakin target tampilnya tim nasional (timnas) minimal di Piala Dunia (PD) 2026 bisa tercapai. Dua di antara garis besar program yang dimaksud adalah pembinaan usia dini, serta peningkatan SDM dengan pengembangan sports science.
Menurut Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, program-program yang ia maksud dan segera dijalankan oleh PSSI itu, pada dasarnya mengacu kepada keberhasilan negara-negara lain yang sudah lebih maju sepakbolanya.
"Belanda misalnya, itu kuat dengan pembinaan usia dini serta berkelanjutan. Dan terbukti mereka selalu mampu masuk di Piala Dunia, serta selalu melahirkan pemain hebat. Begitu juga Jepang untuk ukuran Asia," papar Djohar, Rabu (4/1), di Jakarta.
Lebih jauh, Djohar pun menjelaskan pentingnya salah satu elemen yang ingin dikembangkan serius, yaitu sports science, dalam rangka pencapaian prestasi sepakbola nasional tersebut. Di mana menurutnya, negera-negara yang sepakbolanya maju saat ini, rata-rata memang sudah menggunakan berbagai pendekatan ilmu pengetahuan (sains) dalam mengembangkan sepakbola.
"Untuk ukuran kemampuan (fisik) seorang pemain saja misalnya, itu di Eropa sudah ada patokan angkanya, yaitu minimal 62, untuk mampu bersaing dengan pemain lainnya. Ukuran itu berdasarkan perhitungan banyak hal, mulai dari bobot tubuh, usia, tarikan nafas, dan lain-lain. Kalau pemain kita, sekarang ini rata-rata belum sampai di angka 50," ungkap Djohar, sambil bercerita pula bagaimana di Jepang misalnya, selain gizi makanan pemain yang diatur sedemikian rupa, keberadaan fasilitas semacam pengatur tekanan udara di penginapan pemain pun sudah tak mengherankan.
Yang dimaksud Djohar dengan patokan angka itu agaknya adalah VO2max, ukuran kebugaran aerobik seseorang. Termasuk bagian dari penggunaan sports science, ukuran ini lazimnya secara standar dihitung berdasarkan serapan oksigen per milimeter ke dalam tubuh, per kilogram berat tubuh, per menit.
Sehubungan dengan itu, salah satu wujud dari pelaksanaan garis besar program PSSI itu nantinya, menurut Djohar lagi, adalah keberadaan setidaknya enam sentra pembinaan atau semacam akademi pemain usia muda di seluruh Indonesia.
"Di setiap akademi itu nanti, dalam bayangan kita, akan ada empat lapis pemain (44 pemain) untuk tiap kategori, mulai dari U-23, U-21, U-19 dan seterusnya. Mereka diseleksi dan dibina terus-menerus. Jika ada yang menurun kemampuannya akan keluar, dan berganti dengan yang lain yang lebih baik," paparnya.
Sekjen PSSI, Tri Goestoro, menambahkan bahwa dalam hal ini PSSI memang ingin mengarah pada perubahan mendasar paradigma pembinaan sepakbola Indonesia. Di mana menurutnya, jika selama ini istilahnya lebih berupa "menemukan pemain" --yang terbentuk secara alamiah-- untuk memperkuat timnas, maka ke depan haruslah "menciptakan" pemain yang andal untuk timnas.
"Jadi, bukan lagi seperti sekarang, di mana dari 240-an juta penduduk, kita harus temukan 11 pemain yang kalau boleh saya sebut ukurannya 'lumayan bagus', untuk memperkuat timnas. Tidak bisa begitu lagi. Justru dari sekarang, kita harus sudah ciptakan dan siapkan pemain-pemain andalan itu. Itulah yang sama-sama kita inginkan," jelasnya.
Dengan syarat garis besar program yang sudah dirancang dan kini mulai dijalankan bisa terlaksana, PSSI yakin target tampilnya tim nasional (timnas) minimal di Piala Dunia (PD) 2026 bisa tercapai. Dua di antara garis besar program yang dimaksud adalah pembinaan usia dini, serta peningkatan SDM dengan pengembangan sports science.
Menurut Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, program-program yang ia maksud dan segera dijalankan oleh PSSI itu, pada dasarnya mengacu kepada keberhasilan negara-negara lain yang sudah lebih maju sepakbolanya.
"Belanda misalnya, itu kuat dengan pembinaan usia dini serta berkelanjutan. Dan terbukti mereka selalu mampu masuk di Piala Dunia, serta selalu melahirkan pemain hebat. Begitu juga Jepang untuk ukuran Asia," papar Djohar, Rabu (4/1), di Jakarta.
Lebih jauh, Djohar pun menjelaskan pentingnya salah satu elemen yang ingin dikembangkan serius, yaitu sports science, dalam rangka pencapaian prestasi sepakbola nasional tersebut. Di mana menurutnya, negera-negara yang sepakbolanya maju saat ini, rata-rata memang sudah menggunakan berbagai pendekatan ilmu pengetahuan (sains) dalam mengembangkan sepakbola.
"Untuk ukuran kemampuan (fisik) seorang pemain saja misalnya, itu di Eropa sudah ada patokan angkanya, yaitu minimal 62, untuk mampu bersaing dengan pemain lainnya. Ukuran itu berdasarkan perhitungan banyak hal, mulai dari bobot tubuh, usia, tarikan nafas, dan lain-lain. Kalau pemain kita, sekarang ini rata-rata belum sampai di angka 50," ungkap Djohar, sambil bercerita pula bagaimana di Jepang misalnya, selain gizi makanan pemain yang diatur sedemikian rupa, keberadaan fasilitas semacam pengatur tekanan udara di penginapan pemain pun sudah tak mengherankan.
Yang dimaksud Djohar dengan patokan angka itu agaknya adalah VO2max, ukuran kebugaran aerobik seseorang. Termasuk bagian dari penggunaan sports science, ukuran ini lazimnya secara standar dihitung berdasarkan serapan oksigen per milimeter ke dalam tubuh, per kilogram berat tubuh, per menit.
Sehubungan dengan itu, salah satu wujud dari pelaksanaan garis besar program PSSI itu nantinya, menurut Djohar lagi, adalah keberadaan setidaknya enam sentra pembinaan atau semacam akademi pemain usia muda di seluruh Indonesia.
"Di setiap akademi itu nanti, dalam bayangan kita, akan ada empat lapis pemain (44 pemain) untuk tiap kategori, mulai dari U-23, U-21, U-19 dan seterusnya. Mereka diseleksi dan dibina terus-menerus. Jika ada yang menurun kemampuannya akan keluar, dan berganti dengan yang lain yang lebih baik," paparnya.
Sekjen PSSI, Tri Goestoro, menambahkan bahwa dalam hal ini PSSI memang ingin mengarah pada perubahan mendasar paradigma pembinaan sepakbola Indonesia. Di mana menurutnya, jika selama ini istilahnya lebih berupa "menemukan pemain" --yang terbentuk secara alamiah-- untuk memperkuat timnas, maka ke depan haruslah "menciptakan" pemain yang andal untuk timnas.
"Jadi, bukan lagi seperti sekarang, di mana dari 240-an juta penduduk, kita harus temukan 11 pemain yang kalau boleh saya sebut ukurannya 'lumayan bagus', untuk memperkuat timnas. Tidak bisa begitu lagi. Justru dari sekarang, kita harus sudah ciptakan dan siapkan pemain-pemain andalan itu. Itulah yang sama-sama kita inginkan," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




