Kopenhagen, Surganya Pesepeda
Jumat, 30 Januari 2015 | 18:28 WIB
Jakarta - Senang bersepeda? Jika iya, liriklah ibukota Denmark, Kopenhagen. Di samping Amsterdam, itulah kota yang layak disebut surga pesepda.
Tengok data dari Kedutaan Besar Denmark dan Danish National Travel Survey. Tidak ada angka yang diberikan, tapi populasi sepeda di Kopenhagen lima kali lipat daripada mobil! Jalur khusus sepeda, benar-benar khusus karena tidak boleh dilewati mobil dan pejalan kaki, di Kopenhagen panjangnya 400an kilometer untuk sekitar 600.000 jiwa.
Banyaknya populasi sepeda di Kopenhagen ditegaskan oleh laporan BBC yang menyebutkan ada 18.000 sepeda dicuri tahun 2013 lalu.
Angka-angka berikut ini bisa semakin menguatkan betapa ramahnya Kopenhagen bagi pesepeda:
20 - jumlah perusahaan (di Kopenhagen saja) yang mendesain dan memproduksi sepeda.
55 - persentase jumlah sepeda yang digunakan untuk berangkat kerja atau sekolah.
130 - jumlah taksi sepeda di Kopenhagen.
289 - jumlah toko sepeda.
Rata-rata penduduk Kopenhagen mengayuh sepeda sejauh 1,5 kilometer tiap harinya. Dan catatan menarik lain adalah, sejumlah 63% anggota parlemen berangkat ke kantor naik sepeda. Satu hal yang sangat sulit ditemui di kawasan Senayan, dimana gedung Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat berlokasi.
"Sepeda sudah menjadi keseharian kami. Orang-orang mengayuh sepeda untuk pergi kerja, ke sekolah, belanja di toko dekat rumah, dan urusan bisnis. Itu dilakukan setiap hari, tidak cuma di akhir pekan," kata Dubes Denmark untuk Indonesia Casper Klynge di Jakarta Pusat, Jumat (30/1).
"Warga Kopenhagen memilih sepeda karena menganggap itulah moda transportasi paling cepat, lebih murah, dan sekaligus berolahraga," tuturnya.
Kendati begitu, surga itu tidak muncul begitu saja. Klynge bercerita, Kopenhagen butuh lebih dari 20 tahun untuk menjadi seperti sekarang. Sepeda sudah dikenal puluhan tahun lalu di Denmark, tapi penggunannya belum semassal sekarang.
Salah satu faktor pendorongnya adalah dukungan penuh dari pemerintah. Yang paling menonjol tentu saja dibuatnya jalur khusus sepeda. Biayanya jauh lebih murah daripada membangun jalur khusus bus, US$ 2,45 juta berbanding US$ 152,4 juta untuk setiap kilometernya.
Evolusi itu bermula pada dekade 1960an saat mobil mulai menggeser sepeda di jalanan kota. Tapi krisis minyak, lingkungan, dan sejumlah proyek jalan yang kontroversial mengubah tren.
Kota berhasil menciptakan kondisi aman dan nyaman bagi pesepeda, maka perlahan dan pasti warga pun tertarik memakai sepeda.
"Di Denmark bahkan pertanyaan begini sudah umum, 'kok naik mobil ke tempat kerja sih?'," ujar Klynge.
Dubes Norwegia untuk Indonesia Stig Travik bercanda bahwa hanya orang gila yang bersepeda di Jakarta. Namun Klynge, yang sesekali bersepeda ke tempat kerjanya, yakin Indonesia bisa berubah.
"Itu pekerjaan berat tapi bukan hal yang mustahil. Selalu ada titik untuk memulai. Tinggal bagaimana bisa mempengaruhi political will dari pemerintah dan juga pelaku bisnis untuk membuat peraturan dan menyediakan fasilitas pendukung," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




