Akademi Indonesia Bisa Terbangkan 11 Bibit ke Old Trafford

Jumat, 30 Januari 2015 | 20:56 WIB
SA
YD
Penulis: Shesar Andriawan | Editor: YUD
Konferensi pers gerakan CLEAR Ayo! Indonesia bisa Academy di Jakarta, Jumat (30/1).
Konferensi pers gerakan CLEAR Ayo! Indonesia bisa Academy di Jakarta, Jumat (30/1). (Beritasatu.com/Febianca Putri)

Jakarta - Jika punya benang merah di tangan, apa yang bisa dihubungkan dari Yabes Roni, Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, Sahrul Kurniawan, dan Ricky Kayame? Ketiganya adalah pesepakbola muda potensial yang berasal dari pelosok. Yabes ditemukan di Alor, Ramdani dan Alfin berasal dari Tulehu, Sahrul asalnya dari Ngawi, dan Ricky adalah anak gunung tanah Papua.

Mau mengakui atau tidak, banyak bibit pesepakbola berbakat tersebar di pelosok Nusantara. Apa yang dilakukan Indra Sjafri dengan berkeliling negeri mencari pemain, serta ucapannya bahwa bakat-bakat terbaik Indonesia ada di lapangan kampung adalah penegas pernyataan tadi.

Sakitnya, itu sekaligus penanda bahwa sistem pencarian bakat di Indonesia masih payah. Jika tidak, Indra Sjafri bersusah-susah ke sana ke mari naik ojek takkan perlu terjadi.

Alternatif dari 'blusukan' ala Indra tentu ada. Menggelar kompetisi misalnya. Inilah satu dari beberapa magnet untuk menarik bakat-bakat terbaik keluar dari kabut. Apalagi jika diikuti iming-iming berlatih di Old Trafford, stadion kesohor kepunyaan Manchester United.

Persis itulah yang sedang dilakukan Clear dengan program Ayo! Indonesia Bisa Academy. Produk sampo itu menggandeng tangan United untuk melaksanakan program. Tujuannya adalah mencari 11 pemain usia 16-17 tahun terbaik dari seluruh Indonesia untuk diboyong ke 'Teater Impian'.

Di antara banyak klub, mengapa memilih United? Johan mengatakan, United sudah dikenal luas punya akademi mumpuni penghasil pemain-pemain berbakat. Legenda United Dennis Irwin mengamininya.

"Kami di Manchester United sejak lama punya perhatian besar pada pemain muda. Tentu kita sudah kenal pemain-pemain jebolan akademi seperti Nicky Butt, Gary dan Phil Neville, Paul Scholes, Ryan Giggs, dan tentunya David Beckham," kata Irwin.

Sejumlah 16 kota yang ada di sekujur Nusantara, dari Banda Aceh sampai Jayapura, akan didatangi oleh tim pencari bakat. Dua diantaranya adalah Kurniawan Dwi Yulianto, mantan pemain tim nasional, dan satu staf pencari bakat dari klub Setan Merah.

"Betul kalau dibilang kami terinspirasi oleh Indra Sjafri. Kami melihat di Indonesia banyak pemain berbakat yang sayang jika potensi mereka tidak terpantau. Program ini berusaha membantu sepak bola Indonesia dengan cara itu," tutur Senior Brand Manager Clear Johan Lie dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (30/1).

Kurniawan pernah mencicipi Liga Italia, tapi semasa kecil dulu tak pernah terlintas sama sekali kesempatan itu bisa menghampirinya. Jangankan ke Italia, pria kelahiran Magelang itu saja tak berani bermimpi bisa masuk timnas.

"Saya berasal dari desa di Magelang. Waktu itu sama sekali tidak punya mimpi bisa masuk timnas. Saya tahu akses bisa masuk timnas susah sekali, makanya tidak pernah berharap bisa gabung timnas," pemain yang punya julukan Si Kurus itu bercerita.

Old Trafford jelas bukan stadion remeh. Butuh usaha keras untuk sampai ke sana. Paling awal, para pemain muda harus mengikuti kompetisi babak kota sekunder yang diadakan di 16 kota/kabupaten yang terbagi ke empat wilayah. Keenambelas lokasi itu adalah Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Tangerang (DKI-Banten), Bandung, Sumedang, Bekasi, Bogor (Jawa Barat), Semarang, Solo, Pekalongan, Kudus (Jawa Tengah), Surabaya, Malang, Mojokerto, dan Sidoarjo (Jawa Timur).

Pada setiap wilayah, ada 128 tim yang bersaing. Jika satu tim berisi 16 pemain sesuai aturan yang berlaku, maka babak wilayah diikuti 8.192 pemain. Di babak selanjutnya yaitu putaran provinsi, Aceh dan Papua diikutsertakan dengan masing-masing diisi 16 tim. Maka, total jenderal program pencarian bakat ini bisa menjaring 8.704 pemain muda.

Kompetisi tentu saja memunculkan eliminasi. Tersingkir adalah keniscayaan. Hanya 11 pemain, atau sekitar 0,1%, yang berhak mendapatkan kesempatan berlatih selama seminggu di Manchester United Soccer School pada Mei 2015. Di sana, pemain terpilih juga akan dipantau oleh pencari bakat United.

"Mereka yang terpilih akan belajar teknik dan taktik. Saya tahu sepak bola sangat digemari di Indonesia, olahraga nomor satu. Kita tahu sepak bola adalah olahraga global. Sudah banyak pemain asing di berbagai liga, jadi tidak ada alasan untuuk tidak percaya nanti ada pemain dari Indonesia (di United dan Liga Primer Inggris). Kita tak pernah tahu, semoga saja," ucap Direktur Komersial Manchester United Jamie Reigle.

Andaipun bakat mereka tidak memikat United, kesempatan mereka menjadi pemain profesional masihlah terbuka.

"Kami akan memberi mereka eksposure ke klub-klub terdepan di Indonesia. Harapannya tentu saja agar mereka bisa menjadi pemain profesional, syukur-syukur ada yang masuk ke timnas," Johan berharap.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon