Akses Tol Lingkar Luar Jakarta Harusnya Diperbanyak

Rabu, 4 Februari 2015 | 13:11 WIB
SH
YD
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: YUD
Proyek jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) W2 Utara
Proyek jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) W2 Utara (Investor Daily / DAVID GITA ROZA)

Jakarta - Pemerintah berencana segera merealisisasikan pembangunan enam ruas tol dalam kota Jakarta pada Juli 2015, sebagaimana tertera dalam dokumen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) tentang "Pengusahaan Jalan Tol di Indonesia".

Namun rencana ini dikritik pengamat kebijakan publik Hilmi Rahman Ibrahim. "Itu kebijakan yang perlu ditinjau ulang, mestinya tol dalam kota justru harus dibatasi, sementara akses tol lingkar luar Jakarta yang perlu segera diselesaikan dan bila perlu diperbanyak untuk memudahkan aktivitas orang keluar masuk Jakarta," kata Hilmi di Jakarta, Rabu (4/2).

Keenam ruas tol dalam kota Jakarta yang direncanakan akan direalisir pemerintah dalam tiga tahap yakni, pertama, Sunter - Semanan sepanjang 20,23 km (Juli 2018) dan Sunter-Pulo Gebang sepanjang 9,44 km (Januari 2019). Kedua, Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 12,65 km (Januari 2021) dan Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,6 km (Januari 2021).

Ketiga, Ulujami-Tanah Abang sepanjang 8,7 km (Juli 2022) dan Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,157 km (Juli 2022).

Hilmi Rahman yang juga dosen Fisip di Universitas Nasional, Jakarta itu menuturkan, untuk tol dalam kota Jakarta, pemerintah semestinya konsisten untuk mengurangi kepadatan lalu lintas kendaraan pribadi, dengan memperbaiki sarana dan akses transportasi publik, seperti memperluas jalur busway atau memperbanyak kendaraan umum yang layak dan sebagainya.

Penambahan jalan tol dalam kota, bagi Hilmi, hanya akan menambah peredaran jumlah kendaraan pribadi di jalan-jalan Jakarta. Sehingga ujung-ujungnya, hanya akan menambah kesemrawutan jalur di luar tol dalam kota, atau bahkan di tol dalam kota itu sendiri sebagaimana yang terjadi saat ini pada ruas tol Cawang-Tomang-Cengkareng.

Menurut Hilmi, akan lebih baik jika pemerintah mempercepat jalan tol lingkar luar Jakarta yang merupakan akses keluar masuk Jakarta,sebagaimana yang terjadi pada.

Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) saat ini, karena terbukti mempercepat arus pengiriman barang dari dan ke luar Jakarta serta pengurangan arus lalu lintas tol dalam kota Jakarta.

"Pembangunan Tol Lingkar Luar Jakarta, seperti JORR W2 Utara yang dikelola oleh PT Marga Lingkar Jakarta (PT MLJ), menghubungkan Bandara Soekarno Hatta – Ulujami – Tol JORR terbukti cukup efektif serta mampu mengatasi kemacetan di ruas tol dalam kota Jakarta, sekaligus mempermudah akses keluar masuk kota Jakarta," kata Hilmi.

Pemerintah juga seharusnya mempercepat pembangunan jalan tol lingkar luar luar Jakarta (JORR 2) untuk meningkatkan kelancaran distribusi barang dan jasa di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) maupun distribusi barang dan jasa dari pulau Sumatera ke Jawa atau sebaliknya serta mendukung peningkatan tata guna lahan pada wilayah Jabodetabek yang merupakan buffer ibukota Jakarta.

Sementara Usaman, warga Cengkareng yang sehari-harinya mengirim pasokan barang ke Bandung, mengaku sangat terbantu dengan adanya jalan tol lingkar JORR W2 Utara yang penyelesaiannya lebih cepat dari rencana sehingga dari Soekarno Hatta tembus Ulujami dan JORR.

"Selisih waktunya beda jauh jika kita masuk tol dalam kota Jakarta karena tidak bisa diperkirakan berapa lama kemacetannya. Kami berterima kasih kepada pihak Jasa Marga yang telah bekerja keras menyelesaikan JORR yang dulunya dikenal sebagai Jalan Ora Rampung Rampung," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon