Pakar: Jokowi Bukan Boneka Mega, Tapi Boneka "Trio Macan"
Jumat, 6 Februari 2015 | 08:34 WIB
Jakarta - Sinyalemen keberadaan "Trio Macan" di ring satu Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin menguat. Terbukti dengan munculnya sejumlah kebijakan blunder yang dilakukan Presiden Jokowi dalam memutuskan persoalan-persoalan strategis, yang tidak terlepas dari pengaruh personel "Trio Macan".
Menurut pakar politik Ari Junaedi, nama-nama seperti Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan merupakan orang-orang di dekat Presiden Jokowi.
Dikatakan Ari, penataan sektor energi tidak terlepas dari polesan tangan Rini Soemarno dan kakaknya Ari Soemarno. Akibatnya, tekad untuk lepas dari cengkeraman mafia migas sulit dilakukan di era Jokowi.
"Demikian juga di sektor BUMN, Rini demkian berkuasa untuk mengutak-atik BUMN dengan dana PMN sebesar Rp 70-an triliun yang kini tengah diajukan pemerintah," kata Ari, di Jakarta, Jumat (6/2).
Sebaliknya, Luhut Pandjaitan juga dinilai makin leluasa mengendalikan bisnisnya dengan berlindung di balik kepentingan Istana. Sementara Andi Widjajanto, makin kuat menanamkan pengaruh Amerika Serikat di lingkaran Istana.
Ari Junaedi menilai, pengaruh "Trio Macan" dalam kebijakan-kebijakan yang ditempuh Jokowi seperti "bau kentut". Mudah tercium tetapi susah untuk dilacak kebenarannya karena pasti disangkal oleh Jokowi atau oleh orang-orang yang dianggap sebagai anggota "Trio Macan".
"Langkah terbaik yang harus dilakukan Jokowi adalah menyadari keterpilihan dirinya sebagai presiden bukan karena semata jasa Andi Widjajanto, Luhut Panjaitan atau Rini Soemarno. Jika memang belakangan mereka membuat negatif bahkan menjatuhkan citranya, tidak ada cara lain selain harus mencopot orang-orang tersebut. Jokowi harus berani dan tegas menghadapi 'kecoa-kecoa' yang merusak reputasinya," jelasnya.
Kata Ari, kepuasan publik terhadap Jokowi, berdasar hasil jajak pendapat sebuah lembaga, jauh di banding era SBY dulu. Artinya, pemilih Jokowi mulai jengah dengan kebijakan-kebijakan Jokowi yang ragu-ragu, tidak tegas dan terkesan disetir "Trio Macan".
Menurut pengajar mata kuliah Humas Politik di Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) itu, keberatan PDIP terhadap sepak terjang "Trio Macan" ada benarnya. Sebagai partai pengusung utama Jokowi, PDIP jelas dirugikan karena ulah "Trio Macan".
"Justru bukan PDIP yang menikmati buah kemenangan Jokowi tetapi individu-individu di "Trio Macan". Andi, Rini dan Luhut bisa masuk ke lingkaran Istana bukan karena rekomendasi dari PDIP, tetapi justru dari mengerdilkan PDIP," ungkapnya.
"Publik awam yang tidak mengerti konstelasi politik di Istana, tahunya Jokowi hanya jadi boneka PDIP. Padahal Jokowi lebih mendengar bisikan trio macan."
Dia melanjutkan, sejarah mencatat bahwa hampir di setiap era kepresidenan di Indonesia, keberadaan tim pembisik dan berpengaruh seperti "Trio Macan" tersebut malah merontokkan presiden.
Soeharto pernah punya tim ahli yang beranggotakan Soejono Humardani dan Ali Murtopo. Gus Dur pernah percaya betul dengan tukang pijatnya Suwondo.
"Dan kini Jokowi mengulang sejarah dengan percaya betul dengan "Trio Macan". Sekali lagi, masih banyak putra terbaik bangsa untuk menggantikan Rini Soemarno, Luhut Panjaitan atau Andi Wijayanto. Jokowi harus berani mengambil langkah berani," bebernya.
"Ada baiknya PDIP bersama partai-partai pengusung termasuk partai di Koalisi Merah Putih untuk mendorong terjadinya pergantian personel di Istana," pungkas Ari Junaedi, yang juga dosen Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro, serta Univercidade Timor Leste itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




