Demi Bayi Ryuji, Rieke Siap Gadaikan Rumah
Jumat, 6 Februari 2015 | 08:44 WIB
Jakarta – Dukungan terhadap bayi Ryuji Marhaenis Kaizan (5 bulan) terus mengalir. Politisi PDI-P yang juga anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka mengaku rela menggadaikan rumahnya, jika diperlukan, untuk membiayai pengobatan bayi yang menderita kelainan hati atau atresia bilier itu.
Rieke pun berjanji akan memperjuangkan upaya pengobatan bayi Ryuji. "Saya siap untuk menggadaikan rumah saya jika memang diperlukan," ujar Rieke di gedung DPR, Jakarta, Jumat (6/2).
Namun, dia berharap agar langkah menggadaikan rumah itu tidak terjadi. Sebab, dia yakin pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi warga negara seperti bayi Ryuji dan keluarganya.
Bayi Ryuji harus menjalani transplantasi hati agar bisa sembuh dari penyakitnya. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sangat besar, mencapai Rp 1,2 miliar. Orangtua Ryuji yang adalah karyawan swasta tak mampu mencari dana sebesar itu. Sebelumnya, Ferry Yunizar, ayah Ryuji, berharap banyak pada program BPJS Kesehatan. Namun, pihak BPJS Kesehatan hanya mampu menanggung biaya pengobatan sebesar Rp 250 juta.
Menurut Rieke, pengobatan Ryuji tidak bisa dilakukan di Indonesia sehingga harus mencari rujukan ke luar negeri. Dia pun mengaku telah menghubungi Direktur Utama BPJS Kesehatan, pihak Kementerian Kesehatan, dan RSCM.
"Saya mendapat kabar kalau Ryuji mendapat pantauan medis dan telah dipindahkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sebab, bangsal anak di RSCM sudah penuh," ujarnya. Dia pun memastikan, jika Ryuji harus melakukan transplantasi, maka negara yang seharusnya menanggung biayanya.
Atresia bilier adalah suatu keadaan yang terjadi pada bayi yang baru lahir, di mana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Penyebab penyakit ini tidak diketahui tetapi kondisi tersebut ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.
Salah satu bayi penderita penyakit ini yang sempat menarik perhatian publik adalah Bilqis Anindya Passa. Di Indonesia, penderita penyakit ini cukup banyak dan sebagian besar tidak tertolong karena tidak memiliki dana untuk melakukan transplantasi hati.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




