Dinas Tata Air DKI Fokus Keringkan 8 Daerah Rawan Banjir

Rabu, 11 Februari 2015 | 06:35 WIB
LT
B
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: B1
Pengendara moto mengantri di jalur busway untuk menghindari banjir di kawasan Jalan Daan Mogot Km 14, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (10/2).
Pengendara moto mengantri di jalur busway untuk menghindari banjir di kawasan Jalan Daan Mogot Km 14, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (10/2). (Suara Pembaruan/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Untuk penanganan banjir di tiga aliran air Jakarta, yakni aliran barat, aliran tengah dan aliran timur secara total membutuhkan anggaran sebesar Rp 118 triliun. Mengingat alokasi anggaran penanganan banjir yang diberikan kepada Dinas Tata Air DKI Jakarta pada tahun 2015 hanya sebesar Rp 2,7 triliun, maka Dinas Tata Air hanya akan fokus untuk mengeringkan 8 daerah rawan banjir.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Agus Priyono Jendro membenarkan untuk menangani seluruh banjir di DKI Jakarta dari aliran barat, tengah dan timur secara total membutuhkan anggaran yang sangat besar.

"Namun sebenarnya bukan soal anggaran yang menjadi masalah. Tapi pelaksanaannya di lapangan yang membuat kita tidak mungkin melaksanakannya dalam waktu singkat. Seperti diketahui ada beberapa lokasi yang harus dilakukan penertiban dan relokasi hunian," kata Agus di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (11/2).

Anggaran yang tersedia sebanyak Rp 2,75 triliun, dengan pembagian Rp 750 miliar untuk pembebasan tanah dan Rp 2 triliun untuk pembangunan fisik. Pihak Dinas Tata Air mengungkap akan mengoptimalkan anggaran tersebut untuk membebaskan delapan daerah rawan banjir yang berada di tiga daerah aliran tersebut.

Seperti di aliran barat, ada tiga daerah yang akan diupayakan bebas dari banjir, yaitu kawasan Universitas Trisakti, tepatnya Jalan S Parman, depan Universitas Tarumanegara, Grogol, Jakarta Barat.

"Kita prioritaskan di aliran barat adalah kawasan Trisakti, depan Jalan S Parman, depan Untar. Kita akan coba, mudah-mudahan tahun ini bisa terkendali banjirnya," kata Agus yang merupakan mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI ini.

Kemudian daerah Jelambar yang merupakan daerah cekungan. Jelambar dikelilingi tiga kali yaitu Kali Sekretaris, Kali Angke dan Kali Grogol. Akibatnya, daerah ini rawan genangan dan banjir. Selanjutnya, daerah Greenville, tepatnya di Taman Ratu, Jalan Panjang. Untuk daerah di aliran tengah, Dinas Tata Air akan berkonsentrasi mengendalikan banjir di kawasan Mampang, Kebon Baru dan Bidara Cina.

"Penanganan banjir di kawasan Mampang agak berbeda. Kita akan buat sumur resapan yang banyak. Dengan begitu kita harapkan bisa mengurangi ramp off air hujan. Sehingga debit aliran sungai ke arah Jakarta bisa dikurangi. Daerah Kebon Baru langganan banjir kalau Kali Ciliwung tinggi, begitu juga Bidara Cina," kata Agus.

Lalu di aliran timur, pihaknya mengupayakan pengendalian banjir di kawasan Kelapa Gading Barat dan Cawang. Untuk kawasan Kelapa Gading Barat, akan ditambahkan tiga pompa air, yaitu akan diletakkan di Jalan Boulevard Barat, Artha Gading dan Saluran Kali Betik.

Selain fokus di delapan daerah banjir itu, Agus mengungkapkan pihaknya juga akan terus melakukan normalisasi sungai dari hilir ke hulu. Setelah normalisasi kali dan sheet pile dilakukan, maka pengerjaan pengerukan dimulai.

"Kemudian kita akan laksanakan pembuatan polder. Itu akan dilaksanakan di wilayah belahan utara Jakarta yang 40 persen dataran rendah. Di belahan selatan, 60 persen wilayah dengan kontur yang cukup tinggi, kita akan laksanakan drainase horisontal dan vertikal, yaitu dengan menggunakan sumur resapan di beberapa tempat," kata Agus.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon