Hallyu: Kualitas Tinggi Harga Terjangkau
Sabtu, 7 Januari 2012 | 21:23 WIB
Ekspor industri hiburan Korea pada 2011 menghasilkan pemasukan US$3,8 miliar, 14 persen naik dari tahun lalu.
Terjangan Hallyu tentu saja tidak merusak dan membahayakan seperti halnya terjangan tsunami. Namun efeknya bisa dibilang mampu mengubah gaya hidup dan selera masyarakat kita dan sebagian sisi dunia.
Hallyu adalah terminologi Korea untuk mendeskripsikan fenomena Korean Wave (Gelombang Korea) yang dipopulerkan pertama kali oleh jurnalis-jurnalis di Beijing, China pada pertengahan 1999. Tentu saja Hallyu di sini merujuk pada pengaruh budaya pop Korea Selatan, bukan Korea Utara. Beberapa pihak bahkan memlesetkannya menjadi "Hallyu-wood".
China memang salah satu negara yang sangat terkena dampak Hallyu. Salah satu dampak itu terjadi ketika akhir Mei tahun lalu, band asal Korea Selatan, Super Junior tampil di Shanghai World Expo. Tiket gratis akan diberikan bagi siapa pun yang datang paling awal di hari pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Mei.
Sehari sebelumnya, ratusan penggemar, kebanyakan perempuan muda China, mengantre tiket. Keesokan paginya, jumlahnya sudah mencapai 10 ribu orang, menyebabkan kekacaukan sehingga polisi kesusahan mengatur mereka.
Di Indonesia, hallyu ini sudah beberapa kali menerpa. Dari sejak salah satu stasiun televisi swasta kita memutar serial Winter Sonata, Full House, hingga My Name is Kim San Soon yang booming pada awal tahun 2000.
Saat itulah penggemar film dan budaya pop Indonesia jadi ngeh dengan dunia hiburan Korea. Dvd serial drama Korea laris di pasaran, terutama yang bajakan. Bahkan untuk serial-serial yang tidak ditayangkan di TV-TV lokal. Sepertinya penggemar film Korea sudah update sendiri terhadap serial apa yang tengah ditayangkan di negaranya.
Tak hanya mengejar serialnya, fashion Korea juga ikut digemari. Tak terhitung perempuan-perempuan Indonesia yang berlomba-lomba ingin tampil seperti Han Ji-eun yang diperankan aktris cantik Song Hye-kyo. Gaya busana romantik-melankolis-feminin yang menjadi kecenderungan fashion Korea diikuti banyak perempuan Indonesia.
Banyak gerai-gerai penjualan di mal-mal dan trade center di Jakarta mengimpor busana-busana jenis ini. Juga perhiasan-perhiasan imitasi dari Korea yang berpusat di pasar pagi Mangga Dua. Kosmetika pun tak ketinggalan. Mal-mal mulai memiliki gerai-gerai kosmetika dari Face Shop hingga Etude yang sempat menjadikan Song Hye-kyo sebagai duta label tersebut.
Sebagian besar pengaruh fashion Korea memang lebih banyak pengaruhnya pada kaum hawa. Meski kosmetika Face Shop dari Korea memasang aktor-aktor Korea sebagai model utamanya. Salah satunya Won Bin. Toh tetap saja tak banyak kaum lelaki yang menggunakan kosmetika dari Korea.
Barulah saat hallyu periode kedua datang--yang ini lebih terlihat dari sisi musikal--mulai banyak selebriti pria di Indonesia mengadopsi gaya dandanan penyanyi-penyanyi pria Korea. Salah satunya kelompok Super Junior yang sangat ditiru oleh Sm*sh.
Ya, hallyu di Indonesia memang menerpa dalam dua periode yang berbeda jenis terpaannya. Gelombang pertama lebih banyak membawa pengaruh dalam hal sinematografi atau tontonan visual. Periode ini muncul sejak era Winter Sonata pada 2002 hingga lima tahunan setelahnya. Kemudian dua tahun terakhir ini, gelombang kedua lebih menerpa dalam bidang musikal lewat munculnya Super Junior, 2NE1, dan Big Bang.
Format musikal Korea yang lebih suka tampil rombongan (boyband, girlband), ikut menginspirasi munculnya boyband Indonesia Sm*sh dan girlband Cherry Belle. Bahkan penyanyi Ayu Ting Ting yang mengusung genre dangdut, juga mengadopsi dandanan Korea.
Terpaan Hallyu juga mulai memasuki ranah buku. Penerbit buku Gramedia mulai banyak menerbitkan komik-komik Korea sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, terbit graphic novel untuk dewasa Trilogi Warna (Warna Tanah, Warna Air, Warna Langit) karya Kim Dong Hwa laris hingga cetakan kedua. Begitu pula novel Please Look After Mom karya Shin Kyung-sook sudah mencapai cetak ulang yang ketiga, dengan sekali cetakan 5000 eksemplar.
Wajar saja jika pemasukan Korsel dari segi hallyu sangat memuaskan. Pada 2005, KBS (Korean Broadcasting System) mencapai nilai ekspor US43 juta. Tahun lalu, ekspor mereka mencapai US$65 juta, dari 38 negara.
Pantas jika selebriti pria Korea adalah aktor berbayaran tertinggi setelah aktor-aktor Hollywood. Bae Yong Joon, aktor pemeran utama di Winter Sonata, sekarang mematok harga US$5 juta untuk satu film?tertinggi di Asia. Setidaknya ada sembilan bintang pria Korea yang mendapatkan penghasilan lebih dari US$10 juta per tahun.
Lantas apa sih penyebab hallyu ini sangat menerpa terutama untuk negara-negara di Asia. Menurut Sung Tae-Ho, senior manager di KBS, salah satu alasannya adalah Korea berhasil memberikan hiburan yang berkualitas tinggi namun dengan harga murah, dibandingkan harga hiburan dari negara lain, misalnya dari Barat?Amerika misalnya.
Kualitas tinggi ini berkat persaingan yang juga tinggi di negara tersebut. Selebriti di Korea terkenal berdisiplin dan sangat memacu dirinya untuk maju. Lihat saja Rain yang tak hanya andal berakting tapi juga bernyanyi dan selalu memberi aksi panggung prima. Begitu tingginya tuntutan skill untuk menjadi bintang di Korea, wajar jika angka bunuh diri di kalangan selebriti di sana cukup tinggi.
Selain itu, penyebab lainnya mengapa hiburan Korea Selatan sangat digemari, karena dekatnya kebudayaan yang diusung dengan negara-negara di Asia lainnya. Budaya ketimuran masih sangat kental muncul di serial-serial drama Korea. "Meski bahasanya berbeda, kami membagikan mentalitas Timur. Kami masih menghormati orangtua dan masih memiliki sistem masyarakat yang hierarkis," ujar Sung saat diwawancara CNN.
Jadi pantas saja hallyu masih terasa pengaruhnya di negara-negara Asia, terutama Indonesia. Kuncinya memang kualitas dalam menyuguhkan hiburan. Seharusnya industri hiburan Indonesia bisa meniru hal ini. Jika ciri khas ketimuran masih ditampilkan dipadukan kualitas, bukan tidak mungkin kita bisa menciptakan "gelombang" lainnya.
Terjangan Hallyu tentu saja tidak merusak dan membahayakan seperti halnya terjangan tsunami. Namun efeknya bisa dibilang mampu mengubah gaya hidup dan selera masyarakat kita dan sebagian sisi dunia.
Hallyu adalah terminologi Korea untuk mendeskripsikan fenomena Korean Wave (Gelombang Korea) yang dipopulerkan pertama kali oleh jurnalis-jurnalis di Beijing, China pada pertengahan 1999. Tentu saja Hallyu di sini merujuk pada pengaruh budaya pop Korea Selatan, bukan Korea Utara. Beberapa pihak bahkan memlesetkannya menjadi "Hallyu-wood".
China memang salah satu negara yang sangat terkena dampak Hallyu. Salah satu dampak itu terjadi ketika akhir Mei tahun lalu, band asal Korea Selatan, Super Junior tampil di Shanghai World Expo. Tiket gratis akan diberikan bagi siapa pun yang datang paling awal di hari pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Mei.
Sehari sebelumnya, ratusan penggemar, kebanyakan perempuan muda China, mengantre tiket. Keesokan paginya, jumlahnya sudah mencapai 10 ribu orang, menyebabkan kekacaukan sehingga polisi kesusahan mengatur mereka.
Di Indonesia, hallyu ini sudah beberapa kali menerpa. Dari sejak salah satu stasiun televisi swasta kita memutar serial Winter Sonata, Full House, hingga My Name is Kim San Soon yang booming pada awal tahun 2000.
Saat itulah penggemar film dan budaya pop Indonesia jadi ngeh dengan dunia hiburan Korea. Dvd serial drama Korea laris di pasaran, terutama yang bajakan. Bahkan untuk serial-serial yang tidak ditayangkan di TV-TV lokal. Sepertinya penggemar film Korea sudah update sendiri terhadap serial apa yang tengah ditayangkan di negaranya.
Tak hanya mengejar serialnya, fashion Korea juga ikut digemari. Tak terhitung perempuan-perempuan Indonesia yang berlomba-lomba ingin tampil seperti Han Ji-eun yang diperankan aktris cantik Song Hye-kyo. Gaya busana romantik-melankolis-feminin yang menjadi kecenderungan fashion Korea diikuti banyak perempuan Indonesia.
Banyak gerai-gerai penjualan di mal-mal dan trade center di Jakarta mengimpor busana-busana jenis ini. Juga perhiasan-perhiasan imitasi dari Korea yang berpusat di pasar pagi Mangga Dua. Kosmetika pun tak ketinggalan. Mal-mal mulai memiliki gerai-gerai kosmetika dari Face Shop hingga Etude yang sempat menjadikan Song Hye-kyo sebagai duta label tersebut.
Sebagian besar pengaruh fashion Korea memang lebih banyak pengaruhnya pada kaum hawa. Meski kosmetika Face Shop dari Korea memasang aktor-aktor Korea sebagai model utamanya. Salah satunya Won Bin. Toh tetap saja tak banyak kaum lelaki yang menggunakan kosmetika dari Korea.
Barulah saat hallyu periode kedua datang--yang ini lebih terlihat dari sisi musikal--mulai banyak selebriti pria di Indonesia mengadopsi gaya dandanan penyanyi-penyanyi pria Korea. Salah satunya kelompok Super Junior yang sangat ditiru oleh Sm*sh.
Ya, hallyu di Indonesia memang menerpa dalam dua periode yang berbeda jenis terpaannya. Gelombang pertama lebih banyak membawa pengaruh dalam hal sinematografi atau tontonan visual. Periode ini muncul sejak era Winter Sonata pada 2002 hingga lima tahunan setelahnya. Kemudian dua tahun terakhir ini, gelombang kedua lebih menerpa dalam bidang musikal lewat munculnya Super Junior, 2NE1, dan Big Bang.
Format musikal Korea yang lebih suka tampil rombongan (boyband, girlband), ikut menginspirasi munculnya boyband Indonesia Sm*sh dan girlband Cherry Belle. Bahkan penyanyi Ayu Ting Ting yang mengusung genre dangdut, juga mengadopsi dandanan Korea.
Terpaan Hallyu juga mulai memasuki ranah buku. Penerbit buku Gramedia mulai banyak menerbitkan komik-komik Korea sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, terbit graphic novel untuk dewasa Trilogi Warna (Warna Tanah, Warna Air, Warna Langit) karya Kim Dong Hwa laris hingga cetakan kedua. Begitu pula novel Please Look After Mom karya Shin Kyung-sook sudah mencapai cetak ulang yang ketiga, dengan sekali cetakan 5000 eksemplar.
Wajar saja jika pemasukan Korsel dari segi hallyu sangat memuaskan. Pada 2005, KBS (Korean Broadcasting System) mencapai nilai ekspor US43 juta. Tahun lalu, ekspor mereka mencapai US$65 juta, dari 38 negara.
Pantas jika selebriti pria Korea adalah aktor berbayaran tertinggi setelah aktor-aktor Hollywood. Bae Yong Joon, aktor pemeran utama di Winter Sonata, sekarang mematok harga US$5 juta untuk satu film?tertinggi di Asia. Setidaknya ada sembilan bintang pria Korea yang mendapatkan penghasilan lebih dari US$10 juta per tahun.
Lantas apa sih penyebab hallyu ini sangat menerpa terutama untuk negara-negara di Asia. Menurut Sung Tae-Ho, senior manager di KBS, salah satu alasannya adalah Korea berhasil memberikan hiburan yang berkualitas tinggi namun dengan harga murah, dibandingkan harga hiburan dari negara lain, misalnya dari Barat?Amerika misalnya.
Kualitas tinggi ini berkat persaingan yang juga tinggi di negara tersebut. Selebriti di Korea terkenal berdisiplin dan sangat memacu dirinya untuk maju. Lihat saja Rain yang tak hanya andal berakting tapi juga bernyanyi dan selalu memberi aksi panggung prima. Begitu tingginya tuntutan skill untuk menjadi bintang di Korea, wajar jika angka bunuh diri di kalangan selebriti di sana cukup tinggi.
Selain itu, penyebab lainnya mengapa hiburan Korea Selatan sangat digemari, karena dekatnya kebudayaan yang diusung dengan negara-negara di Asia lainnya. Budaya ketimuran masih sangat kental muncul di serial-serial drama Korea. "Meski bahasanya berbeda, kami membagikan mentalitas Timur. Kami masih menghormati orangtua dan masih memiliki sistem masyarakat yang hierarkis," ujar Sung saat diwawancara CNN.
Jadi pantas saja hallyu masih terasa pengaruhnya di negara-negara Asia, terutama Indonesia. Kuncinya memang kualitas dalam menyuguhkan hiburan. Seharusnya industri hiburan Indonesia bisa meniru hal ini. Jika ciri khas ketimuran masih ditampilkan dipadukan kualitas, bukan tidak mungkin kita bisa menciptakan "gelombang" lainnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




