Ilmuwan Khawatir CIA Kembangkan Teknologi Rekayasa Cuaca Untuk Senjata
Kamis, 19 Februari 2015 | 14:19 WIB
Sejumlah ilmuwan lingkungan dunia mengkhawatirkan proyek CIA yang punya keinginan untuk merekayasa cuaca sebagai senjata. Rekayasa tersebut dikenal dengan istilah Geoengineering yang tujuan utamanya untuk mengatasi pemanasan global dengan cara menghilangkan atau mengurangi kandungan karbondioksida di atmosfer.
Dalam tujuan yang sebenarnya rekayasa tersebut hanya dilakukan di sejumlah titik di permukaan bumi. Namun apa yang akan dikembangkan CIA jauh lebih besar dan dampaknya, menurut para ilmuwan, sangat mengerikan.
Alan Robock, seorang ilmuwan yang mempelajari dampak dari radiasi nuklir di tahun 1980-an, memperingatkan CIA yang mendanai Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional untuk penelitian tentang tujuan yang berbeda dari rekayasa cuaca.
Menjadikan cuaca sebagai senjata memang bukan hal baru. Dokumen pemerintah Inggris menyatakan 99 tahun lalu, satu dari enam percobaan militer di Statsiun Orford Ness di Suffolk dilakukan untuk membuat awan buatan. Tujuannya untuk mengganggu serangan udara Pasukan Jerman di Perang Dunia I.
Namun percobaan itu gagal. Tapi konsep tersebut akhirnya menjadi kenyataan pada tahun 1967, ketika Pemerintah Amerika Srikat (AS) melalui Operasi Popeye berhasil membuat awan buatan. Dalam perang Vietnam, AS berhasil meningkatkan curah hujan di negara bekas komunis tersebut sebanyak 30 persen dengan awan buatan. Hal itu sebagai usaha untuk menghambat gerak pasukan Vietkong.
Robock mengingatkan rekayasa cuaca seharusnya digunakan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kelangsungan hidup manusia bukan sebagai senjata.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




