Menanti Keberanian Regulator Penerbangan

Sabtu, 21 Februari 2015 | 04:51 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ratusan orang menunggu penerbangan yang terlambat di ruang tunggu terminal 3 Bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (18/2).
Ratusan orang menunggu penerbangan yang terlambat di ruang tunggu terminal 3 Bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (18/2). (Antara/Lucky. R)

Jakarta - Rabu (18/2) malam itu Menteri Perhubungan Ignasius Jonan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sekitar pukul 19.30 WIB.

Didampingi sejumlah pejabat Kementerian Perhubungan, Jonan tiba di Terminal 2 untuk mengantarkan istrinya yang akan terbang ke Praha, Republik Ceko.

Usai mengantar istri, Jonan melakukan aksi blusukan dan menggelar pertemuan dengan pengelola Bandara, PT Angkasa Pura II dan penyelenggara lalu lintas penerbangan, PT AirNav Indonesia. Jonan melakukan blusukan hingga lewat tengah malam.

Sejumlah persoalan mulai dari penerangan, layanan penumpang hingga keamanan bandara diperiksa oleh mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia tersebut.

Selain di Terminal 2, Jonan blusukan sampai ke Terminal 1A. Namun anehnya, Jonan tak menyadari ada masalah yang terjadi di Terminal 1 Bandara Soetta.

Sejak siang menjelang sore, sejumlah penumpang Lion Air sudah mulai terlantar akibat penundaan yang terjadi sejak siang hari.

Penumpang Lion Air dengan penerbangan JT342 dan JT 332 tujuan Palembang, JT 606 tujuan Jambi dan JT218 tujuan Medan tak kunjung diberangkatkan sejak sore hari.

Menariknya, setelah Jonan menerima laporan mengenai kejadian ini, menteri yang biasanya bertindak cepat tidak turun langsung ke lapangan.

Jonan memilih menurunkan dua pejabat dari Ditjen Perhubungan Udara, yakni Direktur Keselamatan dan Direktur KUPPU.

Hingga akhirnya kemarahan penumpang memuncak di hari Jumat (20/2), Menhub Jonan masih bersikap tenang.

Usai melakukan pendatanganan MoU dengan Panglima TNI, Jonan menyatakan pihaknya tidak akan memberikan izin rute baru kepada Lion Air. Komentar para pejabat Kemhub lainnya juga datar dan tidak tegas.

Kondisi ini membuat banyak kalangan bertanya-tanya. Pasalnya, masih jelas dalam ingatan langkah Menhub Jonan kala menangani kasus AirAsia di penghujung tahun 2014 lalu.

Jonan langsung melakukan kunjungan mendadak, memutasi sejumlah pejabat dan mengeluarkan sejumlah regulasi. Bahkan saking semangatnya, sejumlah kebijakan dinilai berlebihan dan tidak mengakomodir best practice di dunia penerbangan internasional.

Namun kali ini, Jonan bersikap lain. Pria asal Surabaya yang terbiasa bicara blak-blakan ini memilih berhati-hati.

"Saya kenal baik Jonan. Dia pribadi yang nothing to lose, berintegritas, berani menghadapi siapapun dan situasi apa pun. Tapi kali ini kenapa dia tidak berani saat menghadapi Lion? Ini jadi pertanyaan. Siapa sebenarnya yang ada di balik Lion ini?" ujar mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu saat berbincang dengan SP.

Pertanyaan serupa juga dilontarkan banyak kalangan, termasuk anggota harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi yang mengaku bingung dengan sikap Kementerian Perhubungan.

Mereka melihat seolah ada ketakutan regulator terhadap Lion Air. Di banyak media sosial seperti Twitter dan Facebook, pertanyaan sama menyeruak.

Said Didu bahkan berani berujar bahwa Lion merupakan anak emas yang berbuat sesuka hatinya. Lion Air merupakan penguasa pangsa pasar penerbangan Indonesia.

Sebanyak 43 persen penumpang angkutan udara Indonesia terbang dengan Lion Air. Posisi kedua yang ditempati Garuda Indonesia hanya 23 persen.

Namun melihat ke belakang, maskapai milik Rusdi Kirana ini memang sering bermasalah. Selain terkenal suka melakukan delay, maskapai berlambang Singa ini kurang memberikan pelayanan yang baik kepada penumpangnya.

Belum lagi sejumlah insiden mulai dari tergelincir hingga yang paling menghebohkan jatuh di laut saat hendak mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Namun, berbagai masalah tersebut tidak pernah ditindak tegas Kementerian Perhubungan. Kejadian yang paling menonjol terjadi pada tahun 2011 lalu.

Saat itu pesawat Lion Air mengalami insiden tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru pada 14 Februari 2011.

Pada 17 Februari 2011, pesawat Lion bersenggolan dengan pesawat Lion lainnya di Bandara Soekarno Hatta. Yang menghebohkan, pesawat yang bersenggolan tersebut adalah pesawat yang sama dengan pesawat yang tergelincir tiga hari sebelumnya di Pekanbaru.

Pesawat dengan nomor registrasi PK LHH yang masih di-grounded tersebut untuk diperiksa ternyata sudah terbang kembali.

Pascakejadian tersebut, Direktur Sertifikasi dan Kelaikan Udara Yurlis Hasibuan dipindah tugas menjadi Kepala STPI Curug.

Setelah Jonan naik menjadi Menhub, Yurlis kembali ke kantor pusat dan menduduki Direktur Keamanan Penerbangan.

Kemarin Yurlis telah ada di Bandara untuk membantu penangan persoalan. Yurlis juga tampil di media dan menjawab pertanyaan publik.

Padahal dilihat dari masalahnya, sebenarnya masalah ini lebih tepat ditangani Direktur Angkutan Udara sebab berkaitan dengan layanan maskapai.

Kali ini Lion kembali berulah. Delay berkepanjangan, membiarkan penumpang terlambat hingga tak sanggup membayar kompensasi.

Padahal publik berharap ketegasan regulator. Menhub Jonan yang dikenal pemberani menjadi tumpuan masyarakat untuk melihat keadilan.

"Kita berharap pemerintah berani tegas. Merpati saja yang punya negara pemerintah tegas, apalagi ini swasta. Harusnya berani," harap Said yang menjabat Sekretaris Menteri kala Jonan diangkat menjadi Dirut KAI.

Akankah Menhub Jonan berani dan memutus mata rantai buruknya pelayanan Lion Air?

Ataukah regulator akan kembali tak berdaya dan masalah ini berlalu tanpa ada perbaikan. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon