Metode Baru Lacak Pesawat Diuji, Indonesia Terpilih

Senin, 2 Maret 2015 | 02:30 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Pesawat Airbus A330-300 terbaru milik Garuda Indonesia sedang melakukan take-off, 25 September 2013.
Pesawat Airbus A330-300 terbaru milik Garuda Indonesia sedang melakukan take-off, 25 September 2013. (Airbus)

Sydney — Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang akan memimpin pengujian metode baru pelacakan pesawat terbang di wilayah lautan terpencil, menyusul tragedi hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH 370 yang belum ditemukan hingga sekarang.

Uji coba ini juga akan melibatkan Australia dan Malaysia.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Menteri Transportasi Australia Warren Truss, Minggu (1/3), hanya sepekan menjelang peringatan satu tahun hilangnya MH 370 yang mengangkut 239 orang dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

Airservices Australia, sebuah badan milik negara yang mengelola wilayah udara Australia, akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga serupa di Malaysia dan Indonesia untuk menguji metode baru yang bisa melacak keberadaan pesawat setiap 15 menit, kata Truss.

Jika terjadi penyimpangan rute, alat pelacak akan otomatis bekerja setiap 5 menit sekali atau kurang. Dalam metode yang lama, pelacakan dilakukan setiap 30 sampai 40 menit.

Uji coba ini akan menggunakan teknologi positioning berbasis satelit yang sudah terpasang pada 90 persen pesawat jarak jauh, dan akan mengirim transmisi posisi pesawat terkini dan dua posisi berikutnya, kata Kepala Airservices Australia Angus Houston, yang ikut membantu pencarian MH 370.

Uji coba yang dilakukan akan meningkatkan frekuensi yang dipakai pesawat secara otomatis untuk melaporkan posisinya, sehingga petugas pengawas udara atau air traffic controllers bisa lebih mudah melacak, kata Houston.

"Ini bukanlah sebuah silver bullet (solusi paling efektif). Namun ini merupakan langkah penting untuk bisa segera membawa perbaikan dalam cara kita melacak pesawat, sembari mengembangkan solusi-solusi yang lebih komprehensif," kata Houston di Canberra.

Saat ini belum ada ketentuan tentang metode pelacakan terus menerus, namun sejak hilangnya MH 370 para regulator penerbangan serta maskapai mulai membahas seberapa jauh metode pelacakan ini bisa dilakukan.

Pesawat Boeing 777 milik Malaysia Airlines itu diketahui menyimpang dari rutenya dan hilang dari radar pada 8 Maret 2014.

Sebuah tim penyidik yang terdiri dari para pakar telah menganalisis transmisi antara pesawat dan satelit dan kemudian menyimpulkan bahwa pesawat itu terbang hingga selama tujuh jam sebelum jatuh di wilayah terpencil Samudera Hinda di area seluas 60.000 kilometer persegi. Upaya pencarian selama berbulan-bulan tidak membuahkan hasil sama sekali.

Menurut Houston, alat yang akan segera diuji ini tidak akan efektif seperti dalam kasus MH 370 jika transponder dan alat pelacak lainnya dimatikan selama penerbangan.

"Menurut saya, kita harus sangat hati-hati karena Anda tetap bisa mematikan sistem ini," ujarnya.

"Jika ada yang mematikan sistemnya, kita akan berada dalam situasi yang sama seperti yang dialami dalam penerbangan MH 370."

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon