IPO Mitra Keluarga, PER Tinggi Tapi Kurang Ekspansif
Senin, 2 Maret 2015 | 13:11 WIB
Jakarta - Harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Mitra Keluarga Karyasehat pada kisaran Rp 14.500-18.000 yang mencerminkan price to earning ratio (PER) 35–42 kali dinilai kelewat tinggi karena tidak didukung ekspansi bisnis yang optimal.
Dengan target dana IPO sebesar Rp 3,7-4,7 triliun namun hanya akan membangun tujuh rumah sakit dalam empat tahun mendatang, unit usaha Grup Kalbe itu dianggap kurang agresif membangun bisnisnya.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang berpendapat, harga awal penawaran IPO saham PT Mitra Keluarga Karyasehat pada kisaran Rp 14.500-18.000 terlalu mahal. Penilaian tersebut didasarkan pada potensi gain dan dividennya, terutama jika dibandingkan rumah sakit selevel seperti PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).
"Harga Mitra Keluarga Rp 14.500-18.000 itu terlalu mahal. Bandingkan dengan SILO yang masih ditutup Rp 12.225 akhir pekan lalu. Jadi, idealnya kalau pun mau beli, harga ideal saham Mitra Keluarga adalah Rp 12.000. Pada akhirnya, harga saham Mitra Keluarga akan ditentukan ketika book building dan premarketing kepada para pemilik modal, termasuk dana pensiun dan asuransi," ujar Edwin kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Hal senada dikemukakan Kepala Riset NongHyup Korindo Securities Reza Priyambada, analis Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, dan analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee.
Mitra Keluarga membidik dana hasil IPO senilai Rp 3,7–4,7 triliun. Jika terealisasi, IPO saham Mitra Keluarga akan menjadi yang terbesar setelah penawaran perdana PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada 2011 senilai Rp 4,75 triliun. Mitra Keluarga akan menawarkan hingga 261,9 juta saham atau setara 18 persen dari modal ditempatkan. Jumlah itu terdiri atas 72,7 juta (5 persen) saham baru dan 189,1 juta (13 persen) saham divestasi induk usaha. Adapun harga indikasi ditetapkan pada kisaran Rp 14.500–18.000.
Mitra Keluarga menunjuk PT Kresna Graha Sekurindo Tbk sebagai penjamin pelaksana emisi (lead underwriter). Perseroan juga menunjuk PT Deutsche Securities Indonesia, PT Morgan Stanley Asia Indonesia, dan PT UBS Securities Indonesia sebagai penjamin emisi efek. Masa penawaran awal digelar pada 27 Februari, 2–6 Maret, dan 9 Maret 2015, masa penawaran umum pada 17–18 Maret 2015, penjatahan pada 20 Maret 2015, dan distribusi saham secara elektronik pada 23 Maret 2015. Saham Mitra Keluarga rencananya dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 Maret 2015.
Chief Executive Officer (CEO) Kresna Graha Sekurindo Michael Stevens sebelumnya mengakui, dengan PER 35–42 kali, harga IPO Mitra Keluarga termasuk premium. "Tapi harga premium pantas karena pertumbuhan per tahun Mitra Keluarga mencapai lebih dari 20 persen," ujar Michael.
Pada 2013, Mitra Keluarga membukukan pendapatan Rp 1,7 triliun, terdiri atas pendapatan rawat jalan Rp 569 miliar (32,7 persen) dan rawat inap Rp 1,1 triliun (67,3 persen). Laba bersih perseroan pada 2013 mencapai Rp 412 miliar. Hingga kuartal III–2014, Mitra Keluarga meraih pendapatan Rp 1,4 triliun, naik 11,1 persen dengan laba bersih Rp 406 miliar, tumbuh 25,9 persen dibandingkan periode sama 2013.
Sulit Diserap
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menjelaskan, harga ideal saham Mitra Keluarga sekitar Rp 12.000 agar menarik dan tidak terlalu jauh dengan SILO Rp 12.225 pada penutupan akhir pekan lalu. Dalam jangka pendek, jika harga saham Mitra Keluarga dipaksakan misalnya pada Rp 14.500 per saham kemungkinan sulit terserap pasar. "Sebab, harga sahamnya diperkirakan sulit bergerak menguat dalam jangka pendek, sehingga investor kurang menyukainya," tutur dia.
Dibanding Siloam, kata Edwin, Mitra Keluarga kalah agresif dalam rencana ekspansinya. "Mitra Keluarga memang akan menambah tujuh rumah sakit baru dari saat ini 11 rumah sakit, tapi itu akan dilakukan hingga 2019," tandas dia.
Karena itu, menurut Edwin Sebayang, Siloam menjadi lebih menarik karena akan menambah dan membuka lebih dari 30 rumah sakit baru hingga 2017. Saat ini, Siloam telah mengoperasikan sekitar 20 rumah sakit. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis, pendapatan, dan laba Siloam lebih prospektif. Dampaknya, harga sahamnya pun berpotensi ikut terangkat lebih cepat dan memberikan potensi dividen lebih besar kepada investor.
Meski demikian, Edwin mengakui, ada hal yang cukup menarik pada Mitra Keluarga. Selama periode 2009–2013, Mitra Keluarga mencatatkan pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 20,3 persen untuk pendapatan, 28,7 persen untuk laba operasional, dan 33,2 persen untuk laba bersih. Apalagi Mitra Keluarga disebut tidak memiliki utang signifikan.
"Tapi, kalau kemudian Mitra Keluarga menawarkan harga saham IPO Rp 14.500-18.000, saya kira itu terlalu mahal. Kalau melihat rencana bisnisnya, saya pun lebih merekomendasikan beli SILO karena dilihat dari prospeknya menjadi lebih menarik," ucap dia.
Edwin juga membandingkan bahwa dilihat dari brand-nya, Siloam memiliki embel-embel internasional, sehingga terlihat lebih berkelas, dan layanannya juga lebih baik dibandingkan Mitra Keluarga. Sebaliknya, tarif layanan Mitra keluarga tergolong mahal, walaupun di beberapa lokasi memiliki keunggulan peralatan.
Kurang Optimal
Kepala Riset NongHyup Korindo Securities Reza Priyambada juga berpendapat harga saham yang ditawarkan Mitra Keluarga pada kisaran Rp 14.500-18.000 terlalu mahal. Pasalnya, penentuan harganya kurang diimbangi rencana ekspansi yang agresif, sehingga prospek pertumbuhan bisnis menjadi kurang optimal, sekalipun potensi perkembangan bisnisnya ke depan sangat bagus.
"Harga mahal atau tidak terkadang menjadi relatif. Sebab, ketika membeli saham, investor berharap potential gain dan dividen. Itu bisa didapatkan jika perusahaan ekspansif. Kalau Mitra Keluarga dapat uang Rp 3,7-4,7 triliun, tapi hanya akan membangun tujuh rumah sakit hingga 2019, itu menjadi kurang menarik karena kurang agresif membangun bisnisnya," papar dia.
Reza memperkirakan, dengan penawaran Rp 14.500-18.000, harga saham yang disepakati pada masa book building pun diharapkan pada kisaran tersebut. Hal itu pun diyakini kurang diminati para investor karena prospek pertumbuhan bisnisnya kurang dioptimalkan oleh perseroan. Pada akhirnya, para calon investor akan berpikir jernih, apakah harga yang ditawarkan itu sepadan.
"Kalau boleh membandingkan, saya merekomendasikan wait and see untuk saham Mitra Keluarga. Kita perlu menunggu pada harga berapa sahamnya akhirnya disepakati, apakah komposisi investor institusi dan ritel yang membeli sahamnya berimbang. Kalau terlalu tinggi harganya dan ternyata investornya lebih banyak institusi, saham Mitra Keluarga menjadi kurang likuid dan harganya sulit naik," tutur dia.
Menurut dia, masalah penentuan harga saham dan besaran PER suatu emiten sebenarnya masih bisa diperdebatkan. "Orang-orang pada awalnya akan berpikir, mungkin ini saham terlalu tinggi. Tapi kemudian mereka akan melihat, apakah sebuah emiten memiliki prospek pertumbuhan bisnis yang bagus, yang tercermin pada prospek dan rencana ekspansinya. Itu menjadi acuan keputusan investasi investor," ucap Reza.
Dia pun memberikan perbandingan ketika SILO melangsungkan IPO pada 2013 dengan menawarkan harga Rp 9.000. Waktu itu, para investor akhirnya realistis dengan menerimanya karena perseroan memiliki rencana bisnis yang bagus, terutama dalam pengembangan rumah sakit. Bahkan, sahamnya sempat mencapai Rp 15.000-an akhir tahun lalu.
"Kalau saya, melihat prospek bisnis, rencana ekspansi, dan historis sahamnya pernah Rp 15.000-an, saya merekomendasi buy SILO. Bukan tak mungkin harganya bisa kembali rebound ke harga tertinggi yang pernah dicapainya karena prospek bisnisnya yang menarik," kata Reza.
Analis Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengungkapkan, dengan PER 35 kali - 42 kali, harga saham IPO Mitra Keluarga terlalu mahal. "Ruang margin bagi investor menjadi sempit. Seharusnya tidak setinggi itu," tutur dia.
Satrio mengakui, potensi saham Mitra Keluarga untuk terkoreksi cukup besar. "Bagi investor dalam posisi trading, saham Mitra Keluarga bisa langsung dilepas dalam perdagangan hari pertama. Namun, jika dalam posisi investasi jangka panjang bisa dilihat dahulu pergerakan sahamnya," papar dia.
Satrio menjelaskan, beberapa tahun sebelumnya pernah ada perusahaan yang menawarkan sahamnya dengan valuasi tinggi saat IPO. Salah satunya perusahaan dari Grup Bakrie. "Selepas IPO, harga sahamnya sempat menyentuh PER 100 kali. Namun, setelah itu turun," ucap Satrio.
Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, ruang margin saham Mitra Keluarga sangat sempit. Itu karena valuasinya sudah sangat tinggi. "Investor yang membeli sahamnya menjadi berisiko," ujar dia.
Investor, menurut dia, harus berhati-hati jika membeli saham IPO yang valuasinya terlalu tinggi. Dalam menghadapi risiko tersebut, investor sebaiknya tetap mengingat prinsip membeli saham IPO. "Investor harus mulai siaga jika dalam pemesanan atau penjatahan mendapat porsi yang besar, karena sebaran sahamnya berarti terbatas. Sebaliknya, jika porsi saham yang didapatkan lebih sedikit, itu menandakan penawaran yang terjadi cukup banyak," tutur dia.
Direktur Utama Mitra Keluarga Rustiyan Oen saat paparan publik di Jakarta, pekan lalu, mengungkapkan, sekitar Rp 1,3 triliun dana IPO akan digunakan untuk mendanai pembangunan tujuh gedung rumah sakit di Jabodetabek hingga 2019. Sisanya antara lain bakal digunakan untuk membeli peralatan medis, membangun infrastruktur teknologi informasi, dan meningkatkan kapasitas tempat tidur existing hospitals. Dengan demikian, perseroan bakal memiliki total 18 rumah sakit dalam empat tahun mendatang.
Saat ini, menurut Rustiyan, Mitra Keluarga mengoperasikan 11 rumah sakit yang tersebar di Jabodetabek dan daerah sekitar Surabaya, dengan total kapasitas tempat tidur 1.900 unit. Jaringan ini didukung sekitar 1.000 dokter umum dan spesialis, 2.600 perawat, dan 1.060 staf medis untuk melayani hingga 2 juta volume pasien per tahun.
Rustiyan Oen mengungkapkan, pembangunan satu rumah sakit baru membutuhkan biaya Rp 200–300 miliar. Satu rumah sakit akan memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 200 unit. Dengan tambahan tujuh rumah sakit baru, kapasitas tempat tidur rumah sakit perseroan akan bertambah hampir dua kali lipat menjadi 3.300 unit pada 2019.
Saat ini, sebanyak 66 persen saham Mitra Keluarga dimiliki Lion Investments Partners BV, sedangkan 34 persen lainnya dikantongi PT Griyainsani Cakrasadaya. Setelah IPO, kepemilikan Lion Investments akan berkurang menjadi 49,7 persen. Adapun kepemilikan Griyainsani bakal terdilusi menjadi 32,3 persen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




