Bordir Khas Indonesia Berpotensi Dikembangkan untuk Pasar Luar Negeri

Rabu, 4 Maret 2015 | 23:53 WIB
NF
B
Penulis: Nadia Felicia | Editor: B1
Dua model memeragakan koleksi dari babak kedua pagelaran busana Embroidery of Life karya Oscar Lawalata di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (4/3).
Dua model memeragakan koleksi dari babak kedua pagelaran busana Embroidery of Life karya Oscar Lawalata di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (4/3). (Beritasatu.com/Nadia Felicia)

Jakarta - Bordir tangan dengan motif khas Indonesia dinilai berpotensi dikembangkan ke pasar luas pasar internasional. Hal tersebut dikatakan desainer senior Indonesia, Chossy Latu usai menyaksikan pagelaran busana karya Oscar Lawalata yang bertajuk "Embroidery of Life".

"Bordir tangan khas Indonesia sangat memungkinkan untuk dibawa ke pasar internasional. Banyak hal bisa diperindah dengan aplikasi bordir khas Indonesia. Sangat banyak barang yang bisa diaplikasikan dengan bordir. Pasarnya cukup luas asal pandai mengaplikasikan bordirnya di benda yang tepat," kata Chossy kepada Beritasatu.com, Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (4/3).

Komentar Chossy tersebut menanggapi pagelaran busana yang dilakukan Oscar Lawalata yang banyak menggunakan detail bordir tangan dan sulaman. Menurut Chossy, bordir adalah salah satu kerajinan Indonesia yang bernilai tinggi. Selain karena pengerjaan yang cukup rumit dan butuh ketelitian tinggi bila dibuat dengan tangan, tetapi juga punya nilai sejarah, karena ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki kerajinan bordir dengan ciri berbeda-beda.

"Ada bordir dari Manado, Padang, Garut, Jawa, dan sebagainya. Bordir mungkin awalnya datang dari Tionghoa, tetapi karena sudah berpadu dengan gaya lokal Indonesia di abad 14-16, maka gayanya jadi berbeda-beda," ungkapnya.

Selama ini, dunia internasional banyak mengenal kerajinan atau budaya Indonesia dalam bentuk batik, tenun ikat, atau tenun lainnya, seni bordir belum banyak diungkap. Bila pun ingin dipasarkan ke dunia internasional, tambah Chossy, harus ditemukan gaya yang mudah diaplikasikan dan digunakan sehari-hari. "Sebab, apa yang diusung Oscar dalam pagelaran kali ini sifatnya klasik dan sebagian avant-garde. Tetapi bordir khas Indonesia berpotensi dikembangkan," kata Chossy.

Dalam pagelaran kali ini, pada babak pertama Oscar menggunakan bordir di atas busana kebaya kurung dengan motif batik Pesisir dan Peranakan yang dibordir. Kesan klasik dan tradisional kental terasa di koleksi pertama. Sementara di babak kedua dan ketiga, Oscar menggunakan sedikit bordir, hanya sebagai aksen utama detail busana. Misalnya, bordir penuh motif burung atau garis-garis warna-warni khas Tionghoa pada kerah bergaya Cheongsam, sementara dress berbahan sifon menggunakan detail draping simpel.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon