Cheongsam dan Gaya Eropa dalam Sentuhan Sebastian Gunawan
Kamis, 12 Januari 2012 | 05:47 WIB
Berawal dari janji kepada diri untuk membantu gereja.
Kerah China, siluet memeluk tubuh, berlengan pendek, dan kadang memiliki detail bordir China. Kira-kira seperti itu penggambaran dasar busana Shanghai, atau dikenal juga dengan cheongsam.
Singkat dan unik. Namun, bagi seorang desainer senior, Sebastian Gunawan, dalam waktu 2 bulan, kriteria singkat seperti itu bisa menjadi 60 desain total look di panggung.
Menurut Seba, begitu ia akrab dipanggil, baju cheongsam itu layaknya baju kebaya dan little black dress, yang bisa diutak-utik untuk mendapatkan bentuk baru yang berbeda. Bisa pula disimpan untuk dipakai kembali di acara-acara yang berbeda. Beda karakter orang, bisa beda pula interpretasi gayanya terhadap cheongsam.
Di ballroom Hotel Mulia, Rabu (11/1), Seba menampilkan interpretasinya atas busana cheongsam di era 1920-an dalam panggung bertajuk Shanghai Swing.
"Koleksi ini terinspirasi dari musik Swing era 1920-an. Swing itu genit dan centil. Di tahun 1920-an, Shanghai adalah tempat menyatunya Eropa dan Oriental. Era itu perpaduan keduanya terasa sekali. Saya membayangkan, wanita-wanita Chinese berdandan cantik [dan gaya dandanannya] sudah ter-influence [budaya] Barat. Saya membayangkan dari musik-musik itu di era itu," kata Seba sesaat sebelum pertunjukkan.
Dituturkan pula oleh perancang yang juga pemilik label Sposa ini, banyak kreasinya yang merupakan perpaduan. Seba mengaku banyak mengulik cheongsam dengan cara berbeda. Ada yang ia buat gaya modern dengan garis klasik. Ada juga yang garisnya dibuat modern, dengan kerah dibuat berbeda dan unik.
Kreasi Seba selalu mengutamakan kefeminitasan dan glamor. Meski acara ini merupakan bentuk penggalangan dana, bukan alasan bagi Seba untuk menahan kreativitas. Begitu banyak siluet yang dibuat Seba dan membuat cheongsam terlihat berbeda.
"Saya melihat kemewahan dan pencampuran budaya yang sangat erat pada zaman itu. Di koleksi-koleksi busana ini, saya menggunakan detail-detail dari embroidery, payet, dan drapery. Sementara untuk bahan, saya menggunakan tille, brocade, damask, sutra, jacquard, dan lainnya. Saya banyak mencoba bereksperimen," jelas Seba lagi.
Eksperimen Seba terlihat dalam banyak hal, contoh; atasan cheongsam dari lace namun dibuat sedemikian rupa supaya menyerupai kemben dan ada twist. Ada pula cheongsam yang menyerupai baju balet. "Ada juga paduan kebaya encim dengan blus China, sayangnya hanya 1. Sebenarnya bisa dikembangkan lagi," tutur Seba bersemangat.
Busana-busana cocktail yang centil dan manis dengan permainan rok A-line, pencil skirt, lipit kain, crinoline, dan lainnya membuat nuansa berbeda pada cheongsam. Ada pula kreasi-kreasi cheongsam untuk evening gown panjang yang membuat kesan elegan, seperti tempelan bulu burung di sekujur busana, ada pula yang terbuat dari brokat seluruhnya, ada pula yang menggunakan detail rumit.
Warna-warna tipikal; merah, emas, silver, bronze, pastel, pastel, dan tak ketinggalan kesan jade (giok), mewarnai busana-busana yang melintas di panggung peragaan. Para model diberikan perhiasan unik kreasi Heliopolis. "Aksesorinya merupakan semacam bando (head piece) tetapi panjang hingga anting. Jadi bando dan anting jadi 1. Kesannya cantik dan kesannya sangan 1920-an," jelas Seba.
Ada alasan berbeda bagi Seba untuk peragaan kali ini. Bukan semata-mata untuk urusan bisnis. Tetapi ini merupakan perwujudan atas janji kepada dirinya sendiri.
"Ini berawal dari janji kepada diri sendiri. Ketika mulai kembali lagi ke gereja dan menemukan gereja yang nyaman untuk saya, saya berjanji harus berbuat sesuatu untuk membantu gereja yang sedang dalam tahap pembangunan itu. Itu sekitar bulan September [tahun lalu], saat saya masih sibuk mengerjakan untuk show Jakarta Fashion Week bulan November. Namun sudah banyak temanyang menanyakan koleksi baju cheongsam. Padahal Tahun Baru China bulan Januari. Mana mungkin, saya pikir. Tetapi dengan banyak teman-teman yang membantu seakan dipermudah semua," ceritanya.
Tak disangka Seba dalam 2 bulan bisa jadi 60 busana, "Padahal saya juga sekaligus buat [busana] untuk tamu," katanya. Dalam waktu 2 bulan itu pencarian sponsor, undangan sebanyak 500 buah pun terjual semua. Semua keuntungan dari tiket yang dijual seharga Rp 1-2 juta itu didonasikan untuk pembangunan gereja Gilgail di Pantai Indah Kapuk.
Kerah China, siluet memeluk tubuh, berlengan pendek, dan kadang memiliki detail bordir China. Kira-kira seperti itu penggambaran dasar busana Shanghai, atau dikenal juga dengan cheongsam.
Singkat dan unik. Namun, bagi seorang desainer senior, Sebastian Gunawan, dalam waktu 2 bulan, kriteria singkat seperti itu bisa menjadi 60 desain total look di panggung.
Menurut Seba, begitu ia akrab dipanggil, baju cheongsam itu layaknya baju kebaya dan little black dress, yang bisa diutak-utik untuk mendapatkan bentuk baru yang berbeda. Bisa pula disimpan untuk dipakai kembali di acara-acara yang berbeda. Beda karakter orang, bisa beda pula interpretasi gayanya terhadap cheongsam.
Di ballroom Hotel Mulia, Rabu (11/1), Seba menampilkan interpretasinya atas busana cheongsam di era 1920-an dalam panggung bertajuk Shanghai Swing.
"Koleksi ini terinspirasi dari musik Swing era 1920-an. Swing itu genit dan centil. Di tahun 1920-an, Shanghai adalah tempat menyatunya Eropa dan Oriental. Era itu perpaduan keduanya terasa sekali. Saya membayangkan, wanita-wanita Chinese berdandan cantik [dan gaya dandanannya] sudah ter-influence [budaya] Barat. Saya membayangkan dari musik-musik itu di era itu," kata Seba sesaat sebelum pertunjukkan.
Dituturkan pula oleh perancang yang juga pemilik label Sposa ini, banyak kreasinya yang merupakan perpaduan. Seba mengaku banyak mengulik cheongsam dengan cara berbeda. Ada yang ia buat gaya modern dengan garis klasik. Ada juga yang garisnya dibuat modern, dengan kerah dibuat berbeda dan unik.
Kreasi Seba selalu mengutamakan kefeminitasan dan glamor. Meski acara ini merupakan bentuk penggalangan dana, bukan alasan bagi Seba untuk menahan kreativitas. Begitu banyak siluet yang dibuat Seba dan membuat cheongsam terlihat berbeda.
"Saya melihat kemewahan dan pencampuran budaya yang sangat erat pada zaman itu. Di koleksi-koleksi busana ini, saya menggunakan detail-detail dari embroidery, payet, dan drapery. Sementara untuk bahan, saya menggunakan tille, brocade, damask, sutra, jacquard, dan lainnya. Saya banyak mencoba bereksperimen," jelas Seba lagi.
Eksperimen Seba terlihat dalam banyak hal, contoh; atasan cheongsam dari lace namun dibuat sedemikian rupa supaya menyerupai kemben dan ada twist. Ada pula cheongsam yang menyerupai baju balet. "Ada juga paduan kebaya encim dengan blus China, sayangnya hanya 1. Sebenarnya bisa dikembangkan lagi," tutur Seba bersemangat.
Busana-busana cocktail yang centil dan manis dengan permainan rok A-line, pencil skirt, lipit kain, crinoline, dan lainnya membuat nuansa berbeda pada cheongsam. Ada pula kreasi-kreasi cheongsam untuk evening gown panjang yang membuat kesan elegan, seperti tempelan bulu burung di sekujur busana, ada pula yang terbuat dari brokat seluruhnya, ada pula yang menggunakan detail rumit.
Warna-warna tipikal; merah, emas, silver, bronze, pastel, pastel, dan tak ketinggalan kesan jade (giok), mewarnai busana-busana yang melintas di panggung peragaan. Para model diberikan perhiasan unik kreasi Heliopolis. "Aksesorinya merupakan semacam bando (head piece) tetapi panjang hingga anting. Jadi bando dan anting jadi 1. Kesannya cantik dan kesannya sangan 1920-an," jelas Seba.
Ada alasan berbeda bagi Seba untuk peragaan kali ini. Bukan semata-mata untuk urusan bisnis. Tetapi ini merupakan perwujudan atas janji kepada dirinya sendiri.
"Ini berawal dari janji kepada diri sendiri. Ketika mulai kembali lagi ke gereja dan menemukan gereja yang nyaman untuk saya, saya berjanji harus berbuat sesuatu untuk membantu gereja yang sedang dalam tahap pembangunan itu. Itu sekitar bulan September [tahun lalu], saat saya masih sibuk mengerjakan untuk show Jakarta Fashion Week bulan November. Namun sudah banyak temanyang menanyakan koleksi baju cheongsam. Padahal Tahun Baru China bulan Januari. Mana mungkin, saya pikir. Tetapi dengan banyak teman-teman yang membantu seakan dipermudah semua," ceritanya.
Tak disangka Seba dalam 2 bulan bisa jadi 60 busana, "Padahal saya juga sekaligus buat [busana] untuk tamu," katanya. Dalam waktu 2 bulan itu pencarian sponsor, undangan sebanyak 500 buah pun terjual semua. Semua keuntungan dari tiket yang dijual seharga Rp 1-2 juta itu didonasikan untuk pembangunan gereja Gilgail di Pantai Indah Kapuk.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




