Investor Asing Tetap Incar RI (1)
Senin, 30 Maret 2015 | 10:10 WIB
Jakarta – Meski dibayangi ketidakpastian global terkait kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, masalah utang Yunani serta pelemahan ekonomi Tiongkok, investor asing tetap positif memandang Indonesia sebagai negara tujuan investasi, baik investasi portofolio maupun investasi langsung (foreign direct investment/FDI). Secara fundamental, investor asing masih optimistis terhadap pasar modal Indonesia. Minat pemodal asing untuk masuk ke Indonesia cukup tinggi mengingat Indonesia adalah pasar yang atraktif. Apalagi pemerintah terus meningkatkan kemudahan berinvestasi dengan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di BKPM.
Namun demikian, ada beberapa masalah klasik yang mesti dituntaskan pemerintah Indonesia agar minat atau komitmen pemodal asing bisa terealisasi. Masalah-masalah tersebut di antaranya soal pengadaan tanah, sinkronisasi dan konsistensi kebijakan baik di pusat dan daerah, kepastian hukum, kejelasan rencana tata ruang wilayah (RTRW), ketersediaan sarana infrastruktur, dan mengatasi masalah suku bunga tinggi.
Pemerintah juga mesti memberikan insentif fiskal maupun nonfiskal agar investasi asing bisa lebih banyak yang terealisasi, di samping segera mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat agar menciptakan kepastian kepada pemodal asing. Pemerintah sebaiknya duduk bersama pengusaha untuk membenahi semua permasalahan investasi dengan mengedepankan kepentingan nasional (national interest) dalam semangat Indonesia Incorporated.
Demikian rangkuman pandangan Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee, Ekonom Senior Center for Information and Development Studies (Cides) Umar Juoro, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, dan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Natsir Mansyur. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah, Sabtu (28/3).
Reza Priyambada mengatakan, aksi profit taking investor asing pekan lalu (23-27 Maret 2015) terjadi karena mereka ingin merealisasikan keuntungan (gain). Pada pekan lalu (23-27 Maret) terjadi net sell asing di portofolio saham sebesar Rp 2,6 triliun. Namun, sejak awal Januari hingga 27 Maret year to date (ytd) masih terjadi beli bersih (net buy) sebesar Rp 4,6 triliun. Sepanjang 2014 terjadi net buy asing sebesar Rp 42,6 triliun.
"Kami perkirakan target net buy tahun 2015 di kisaran Rp 45-47 triliun dengan asumsi kondisi global membaik," ujar Reza.
Sementara itu, hingga 26 Maret 2015 dana asing di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 500,63 triliun (outstanding), atau bertambah Rp 39,35 triliun dari posisi akhir 2014 sebesar Rp 461,35 triliun.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi penanaman modal asing (PMA) dalam tiga tahun terakhir terus meningkat. Pada 2012, realisasi PMA mencapai Rp 221 triliun, pada 2013 Rp 270 triliun Rp 272,6 triliun, tahun lalu mencapai Rp 307 triliun. BKPM menargetkan investasi pada 2015 sebesar Rp 519,5 triliun atau tumbuh 14%, meliputi PMDN Rp 175,8 triliun dan PMA Rp 343,7 triliun.
Reza mengatakan, secara umum, investor asing masih melihat positif berinvestasi di pasar modal Indonesia. Namun, yang perlu diwaspadai adalah kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak yang mulai naik, penyelesaian utang Yunani, dan perlambatan ekonomi Tiongkok.
Sedangkan dari internal, rupiah yang masih cenderung melemah dilihat oleh pemodal asing akan membebani emiten terutama untuk membayar utang dan membiayai impor. Apalagi banyak emiten yang tidak melakukan lindung nilai (hedging).
Di sisi lain, pemodal asing juga masih wait and see terhadap paket kebijakan pemerintah yang belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Sedangkan kebijakan harga BBM yang mengikuti harga pasar menciptakan ketidakpastian dan memberikan beban tambahan biaya bagi emiten.
Namun, secara umum, Reza menilai investor asing masih tertarik dengan pasar modal Indonesia, karena jumlah penduduk yang besar sehingga menciptakan pasar bagi emiten-emiten, terutama emiten konsumer.
Menurut dia, tren investasi sepanjang 2015 ini tidak jauh berbeda dengan 2014. "IHSG tahun ini bisa tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu, ke level 5.600-5.700 pada akhir tahun, dengan asumsi global membaik," ujar dia.
Sementara itu, Hans Kwee menjelaskan, secara fundamental, investor asing optimistis terhadap pasar modal Indonesia. Investor tidak melihat faktor internal ada masalah.
Dia menilai keluarnya dana asing pekan lalu dari pasar modal Indonesia karena investor asing cenderung menyeimbangkan portofolio mereka, akibat pengaruh rencana The Fed menaikkan suku bunga.
Hans melanjutkan, dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari bank di Amerika Serikar (AS), sehingga investor asing langsung menyesuaikan portofolionya sesuai dengan rencana kebijakan The Fed.
Menurut Hans, aksi jual asing masih akan terjadi hingga The Fed memberi kepastian soal tingkat suku bunganya yang baru. Selain The Fed, potensi naiknya harga minyak meningkatkan risiko ekonomi Indonesia.
Hans menilai, keluarnya dana asing dari pasar modal dapat memperburuk defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). "Langkah pemerintah untuk mengantisipasi keluarnya dana asing sebenarnya sudah tepat. Hal penting yang harus dilakukan pemerintah adalah menenangkan pelaku pasar," ucap dia.
Sementara itu, terkait dengan kondisi politik Indonesia saat ini, Hans menilai tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sejauh ini konflik yang terjadi hanya kekisruhan Partai Golkar dan rencana penggunaan hak angket terhada Menkumham. "Tidak ada tanda-tanda legislatif untuk menurunkan presiden," tutur dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




