Kaji Tank Leopard, Komisi I akan ke Belanda
Rabu, 18 Januari 2012 | 17:28 WIB
Selain akan bertemu parlemen Belanda untuk mempelajari aspek politisnya, Komisi I juga disebutkan akan mencoba melihat implikasi pembelian tank bekas itu.
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengirimkan tim kecil ke Belanda, pada akhir Januari ini, untuk mengkaji rencana pembelian tank Leopard yang diusulkan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan). Hal ini dikatakan oleh Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq, sesudah rapat kerja dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Rabu (18/01).
Menurut Mahfudz, hasil kunjungan tim itu akan menjadi dasar sikap dan keputusan Komisi I dalam rencana pembelian tank Leopard bekas milik Belanda tersebut. "Komisi I akan pelajari aspek politisnya. Sementara tim dari Kementerian Pertahanan dan TNI AD akan melihat dari segi teknisnya," ujar Mahfudz, sambil menambahkan bahwa tim utusan Komisi I itu juga akan bertemu dengan parlemen Belanda.
"Kita akan lihat, implikasi apa yang akan ada bila Indonesia jadi membeli," ujar Mahfudz, sambil menambahkan kemungkinan implikasi yang akan dipelajari oleh Komisi I adalah persyaratan-persyaratan politis tertentu dan kemungkinan embargo suku cadang.
Sebelumnya, pada rapat kerja Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dengan Komisi I pada hari Selasa, Menlu Marty Natalegawa sudah mengatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), yang dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam), adalah dengan memastikan tidak adanya persyaratan dan aman secara politis.
Sementara ini, antara Kemhan dan Komisi I disebutkan belum ada pembicaraan lebih lanjut soal rencana pembelian tank ini. Namun kedua pihak telah saling mengeluarkan pernyataan publik mengenai perdebatan ini. Menurut Mahfudz, hal ini justru dimulai sendiri oleh Kemhan, yang membuka wacana ini kepada publik tanpa sebelumnya pernah ada pembicaraan Komisi I.
"Memang, tidak akan baik bila ada perdebatan di publik soal ini. Maka itu, Komisi I dan Kemhan harus duduk bersama membahasnya," ujar politisi dari PKS ini.
Secara umum, Komisi I berpandangan bahwa spesifikasi tank berat seperti Leopard, tidak cocok dengan kondisi tanah di Indonesia. Sementara, Senin kemarin, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan, TNI AD memerlukan tank jenis berat seperti Leopard. Namun pihaknya masih mempelajari beberapa tawaran yang ada, dan belum memutuskan secara pasti akan membeli tank bekas dari Belanda.
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengirimkan tim kecil ke Belanda, pada akhir Januari ini, untuk mengkaji rencana pembelian tank Leopard yang diusulkan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan). Hal ini dikatakan oleh Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq, sesudah rapat kerja dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Rabu (18/01).
Menurut Mahfudz, hasil kunjungan tim itu akan menjadi dasar sikap dan keputusan Komisi I dalam rencana pembelian tank Leopard bekas milik Belanda tersebut. "Komisi I akan pelajari aspek politisnya. Sementara tim dari Kementerian Pertahanan dan TNI AD akan melihat dari segi teknisnya," ujar Mahfudz, sambil menambahkan bahwa tim utusan Komisi I itu juga akan bertemu dengan parlemen Belanda.
"Kita akan lihat, implikasi apa yang akan ada bila Indonesia jadi membeli," ujar Mahfudz, sambil menambahkan kemungkinan implikasi yang akan dipelajari oleh Komisi I adalah persyaratan-persyaratan politis tertentu dan kemungkinan embargo suku cadang.
Sebelumnya, pada rapat kerja Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dengan Komisi I pada hari Selasa, Menlu Marty Natalegawa sudah mengatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), yang dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam), adalah dengan memastikan tidak adanya persyaratan dan aman secara politis.
Sementara ini, antara Kemhan dan Komisi I disebutkan belum ada pembicaraan lebih lanjut soal rencana pembelian tank ini. Namun kedua pihak telah saling mengeluarkan pernyataan publik mengenai perdebatan ini. Menurut Mahfudz, hal ini justru dimulai sendiri oleh Kemhan, yang membuka wacana ini kepada publik tanpa sebelumnya pernah ada pembicaraan Komisi I.
"Memang, tidak akan baik bila ada perdebatan di publik soal ini. Maka itu, Komisi I dan Kemhan harus duduk bersama membahasnya," ujar politisi dari PKS ini.
Secara umum, Komisi I berpandangan bahwa spesifikasi tank berat seperti Leopard, tidak cocok dengan kondisi tanah di Indonesia. Sementara, Senin kemarin, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan, TNI AD memerlukan tank jenis berat seperti Leopard. Namun pihaknya masih mempelajari beberapa tawaran yang ada, dan belum memutuskan secara pasti akan membeli tank bekas dari Belanda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




