John Riady: ASEAN Siap Menuju Integrasi Regional

Selasa, 21 April 2015 | 18:06 WIB
AT
YD
Penulis: Antonia Timmerman | Editor: YUD
Executive Director Lippo Group John Riady (dua dari kanan) bersama (ki-ka): Chairman Boston Consulting Group Hans Paul Burkner, Director General International Organization for Migration (IOM) William Lacy Swing, Vice-Chairperson SM Investment Corporation Sy Coson, dan Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin (kanan), memberikan keterangan pers terkait kegiatan World Economic Forum yang di moderatori oleh Haslinda Amin (kiri), Jakarta, 20 April 2015.
Executive Director Lippo Group John Riady (dua dari kanan) bersama (ki-ka): Chairman Boston Consulting Group Hans Paul Burkner, Director General International Organization for Migration (IOM) William Lacy Swing, Vice-Chairperson SM Investment Corporation Sy Coson, dan Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin (kanan), memberikan keterangan pers terkait kegiatan World Economic Forum yang di moderatori oleh Haslinda Amin (kiri), Jakarta, 20 April 2015. (BeritaSatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta – Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) merasa semakin percaya diri dan optimistis terhadap masa depan. Meski mengalami berbagai tantangan dan perbedaan, ASEAN menjadi lebih siap menuju kawasan terintegrasi.

Dalam World Economic Forum (WEF) 2015, ada setidaknya tiga poin yang disepakati bersama oleh negara anggota. Pertama, ASEAN berkomitmen untuk memperkenalkan common visa yang berlaku di regional. Common visa ini mirip dengan kebijakan Schengen Area oleh Uni Eropa. Dengan kebijakan tersebut, jumlah pengunjung ASEAN diharapkan dapat semakin bertambah.

Direktur Eksekutif Grup Lippo John Riady mengatakan, ASEAN juga berniat memperkuat institusi sekretariat. Saat ini, modal kerja ASEAN per tahun hanya sebesar US$ 14 juta atau relatif kecil dibandingkan dengan tugas dan kewajiban yang diemban.

"Institusi ini harus diperkuat supaya bisa menjalankan tugas-tugas mereka, terutama dalam bidang implementasi kebijakan," kata John usai acara WEF 2015 di Jakarta, Selasa (21/4).

Menurut John, masih harus ada diskusi lebih jauh terkait porsi pendanaan institusi ASEAN yang akan dilakukan negara anggota. Pendanaan bisa dibagi rata atau disesuaikan secara proporsional oleh GDP masing-masing negara.

Terakhir, kata dia, negara ASEAN peserta WEF juga sepakat untuk meningkatkan branding. Misalnya, dengan mewajibkan kedutaan besar negara ASEAN dimanapun memasang bendera ASEAN. Hal ini meniru strategi branding yang juga dilakukan Uni Eropa.

John mengatakan, negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, percaya bahwa 2015 merupakan batu loncatan bersejarah. Dia berharap, kerja sama antara semua pihak baik pemerintah, perusahaan swasta, NGO's, dan rakyat akan semakin erat.

"Semua negara anggota sangat optimistis terhadap perkembangan kawasan ini. Sekarang, yang penting adalah follow up dan implementasi yang harus dikaji lebih jauh lagi," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon