Wika Beton Raih Kontrak Baru Rp 750 Miliar
Jumat, 24 April 2015 | 03:22 WIB
Jakarta - PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) anak usaha BUMN konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 750 miliar hingga April 2015. Setelah pada kuartal I tahun ini melambat, pertumbuhan kontrak sejak awal April mulai menanjak dan bertambah hingga Rp 200 miliar.
Direktur Keuangan Wika Beton Entus Asnawi mengatakan, kinerja perusahaan kuartal I tahun ini memang tidak sebaik tahun sebelumnya, karena penyaluran dana untuk proyek pemerintah pada tahun ini masih terhambat.
"Memang proyek-proyek infrastruktur belum banyak bergerak, untuk beton precast masih didominasi oleh proyek swasta dan BUMN. Pencairan dana juga terhambat karena ada merger Kementrian Pekerjaan Umum (PU) dengan Kementrian Perumahan Rakyat menjadi Kementrian PU-Pera. Sehingga, kami masih menunggu prosesnya selesai," jelas Entus pada acara Investor Day 2015 di Jakarta, Kamis (23/4).
Menurut Entus, saat ini dana sebesar Rp 118 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru cair sekitar 25 persen. Wika Beton kini tengah menggarap produksi pracetak tunnel segment untuk konstruksi bawah tanah jalur Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Tahap I.
Menurut Direktur Operasional Wika Beton Ferry Hendriyanto, kebutuhan tunnel segment tersebut ada tiga paket, yang nilai kontraknya sekitar Rp 150-175 miliar. Selain itu, perseroan juga membidik paket MRT jalan layang (elevated), yang nilai kontraknya lebih tinggi.
"Saat ini kami masih melakukan negosiasi dengan pemerintah terkait kontrak precast untuk elevated MRT," ungkap Ferry.
Entus menambahkan, perseroan optimistis mulai kuartal kedua pertumbuhan kontrak terus meningkat sehingga bisa meraih target kontrak baru tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Adapun kontrak carry over dari 2014 sebesar Rp 1 triliun, sehingga diharapkan pada akhir tahun total kontrak yang dikantongi Wika Beton menjadi Rp 5 triliun.
Entus mengharapkan, akan mulai banyak lagi bidding-bidding proyek baru seperti pelabuhan dan jalan tol. Selain itu, perseroan tetap mencari potensi ekspor untuk beton, yang saat ini porsinya masih kecil, hanya 5 persen dari total pendapatan.
Ferry menambahkan, perseroan juga akan ikut ambil bagian dalam pembangunan jalur kereta super cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Saat ini proyek tersebut masih digodok di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan sudah ada presentasi penawaran kerja sama dari perusahaan Jepang dan Tiongkok.
"Proses pembangunan jalur ini bisa sekitar 2-3 tahun, dan mungkin akan dimulai dua tahun ke depan, karena nanti juga akan menggandeng BUMN lokal," jelas dia.
Tahun ini, Wika Beton menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 550 miliar, yang dipenuhi dari sisa dana penawaran perdana saham (IPO) yang sekitar Rp 600 miliar.
Entus menjelaskan, capex tersebut akan digunakan untuk penyelesaian pabrik di Lampung, dengan kapasitas beton mencapai 250 ribu ton per tahun, yang ditargetkan memulai produksi massalnya pada Juni 2015. Selain itu, capex juga akan digunakan untuk maintenance dan pengembangan pabrik yang sudah ada.
Saat ini Wika Beton memiliki 10 pabrik di seluruh wilayah Indonesia dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton per tahun. Dengan selesainya pabrik di lampung, perseroan menargetkan kapasitas produksi menncapai 2,3 juta ton per tahun pada 2015. "Tahun 2018 kami targetkan kapasitas produksi mencapai 3,3 juta ton per tahun," tandas Entus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




