Pasar Surat Utang Belum Kondusif
Senin, 4 Mei 2015 | 02:26 WIB
Jakarta – Kondisi pasar obligasi yang belum kondusif akibat aksi jual investor asing bakal menekan harga sejumlah surat utang pada perdagangan pekan ini. Dengan tren pelemahan tersebut, laju harga obligasi kemungkinan bergerak pada rentang 20-45 basis poin (bps).
Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan, pelaku pasar pekan ini cenderung wait and see sambil mencermati jika ada peluang-peluang rebound bagi beberapa obligasi.
"Secara tren, memang laju pasar obligasi masih mungkin melemah jika sentimen yang ada kurang memberikan imbas positif," jelas Reza di Jakarta, akhir pekan lalu.
Akan tetapi, kata dia, seperti halnya di pasar saham, diharapkan tekanan jual pada pasar obligasi dapat diminimalisasi untuk memberikan kesempatan bagi harga bergerak naik. "Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada," tegas dia.
Pekan lalu, meski laju rupiah mampu berbalik positif, namun imbas melemahnya laju pasar surat utang global seiring penguatan dolar AS jelang pertemuan The Fed, membuat pasar obligasi dalam negeri ikut melemah. Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi pemerintah, masih bergerak negatif yang terefleksi dari kembali naiknya yield yang merata pada seluruh tenor.
Kenaikan yield rata-rata yang terbesar diraih oleh obligasi tenor panjang (8-30 tahun). Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan rata-data yield 14,70 bps, tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan yield sekitar 20,04 bps, dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami kenaikan yield hingga 21,01 bps.
"Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo 4 tahun melanjutkan pelemahan harganya hingga 64,83 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo 9 tahun turun harganya hingga 139,34 bps," jelas Reza.
Masih maraknya aksi jual dan sentimen negatif di pasar obligasi membuat minimnya permintaan lelang surat utang negara (SUN) di pekan kemarin. Dalam lelang kali ini, total permintaan yang masuk mencapai Rp 7,91 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang SUN periode sebelumnya, Selasa (14/4), yang mencapai Rp 10,01 triliun.
Pada lelang kali ini, penyerapannya Rp 4,85 triliun atau di bawah target indikatif yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp 10 triliun. Pemerintah memenangkan semua seri dari empat seri yang ditawarkan. Diantaranya, seri SPN12160204 (reopening) dengan permintaan yang masuk dari investor Rp 1,67 triliun. Yield terendah yang masuk sebesar 5,99 persen dan yield tertinggi 7 persen. Seri ini diserap Rp 1,45 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 6,18 persen dan tingkat imbalan diskonto.
Kemudian, seri FR0069 (reopening) mengalami permintaan Rp 1,78 triliun dengan yield terendah 7,61 persen dan yield tertinggi yang masuk 7,87 persen. Seri ini kemudian diserap Rp 650 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 7,63 persen dan tingkat imbalan 7,88 persen. Seri FR0071 mengalami permintaan Rp 1,55 triliun dengan yield terendah 7,91 persen dan yield tertinggi yang masuk 8,19 persen. Seri bertenor satu tahun ini diserap Rp 1,55 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 7,96 persen dan tingkat imbalan 9 persen.
Sementara itu, seri FR0067 mengalami permintaan Rp 1,37 triliun dengan yield terendah 8,24 persen dan yield tertinggi 8,45 persen. Permintaan untuk seri ini diserap oleh pemerintah sebesar Rp 1,2 triliun.
"Menurunnya angka permintaan akan lelang SUN memberikan gambaran bahwa pelaku pasar masih belum meningkatkan aktivitas transaksinya," imbuh Reza.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




