Wika Beton Raih Kontrak Baru Rp 1 T
Selasa, 19 Mei 2015 | 05:25 WIB
Jakarta - PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), anak usaha BUMN konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 1 triliun secara year to date (YTD). Perolehan kontrak tersebut seiring tingginya proyek pengembangan infrastruktur dari pemerintah.
Direktur Keuangan Wika Beton Entus Asnawi mengatakan, kontrak baru tersebut cukup bagus mengingat per Maret 2015, perseroan telah membukukan kontrak baru senilai Rp 550 miliar. "Artinya sepanjang 1,5 bulan kami sudah mendapat kontrak lebih dari Rp 400 miliar. Ini menunjukkan infrastruktur mulai menggeliat. Di kuartal kedua dana pemerintah untuk infrastruktur kemungkinan besar akan cair," kata Entus di Jakarta, baru-baru ini.
Dia menambahkan, perseroan optimistis mulai kuartal kedua pertumbuhan kontrak terus meningkat sehingga perseroan bisa meraih target kontrak baru tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Adapun kontrak carry over dari 2014 masih sebesar Rp 1 triliun, sehingga diharapkan pada akhir tahun total kontrak yang dikantongi Wika Beton menjadi Rp 5 triliun.
Entus memaparkan, pada kuartal II-2015 kucuran dana pemerintah untuk infrastruktur diprediksi sudah cair, dan proyek-proyek terutama dari BUMN sudah mulai berjalan, seperti pembangunan powerplant. "Apalagi dengan adanya rencana reshuffle kabinet dan penggabungan beberapa kementrian, semakin meningkatkan dukungan pemerintah terhadap BUMN," jelas dia.
Saat ini, Wika Beton tengah menggarap produksi pracetak tunnel segment untuk konstruksi bawah tanah jalur Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Tahap I. Menurut Direktur Operasional perseroan, Ferry Hendriyanto, kebutuhan tunnel segment tersebut ada 3 paket, yang nilai kontraknya sekitar Rp 150-175 miliar. Selain itu, perseroan juga membidik paket MRT jalan layang (elevated), yang nilai kontraknya lebih tinggi.
"Saat ini kami masih melakukan negosiasi dengan pemerintah terkait kontrak precast untuk elevated MRT," ungkap Ferry.
Ferry menambahkan, perseroan juga akan ikut ambil bagian dalam pembangunan jalur kereta super cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Saat ini proyek tersebut masih digodok di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan sudah ada presentasi penawaran kerjasama dari perusahaan Jepang dan Tiongkok.
"Proses pembangunan jalur ini bisa sekitar 2-3 tahun, dan mungkin akan dimulai 2 tahun ke depan, karena nanti juga akan menggandeng BUMN lokal," jelas dia.
Tahun ini, Wika Beton menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 550 miliar, yang dipenuhi dari sisa dana penawaran perdana saham (IPO) sekitar Rp 600 miliar.
Entus menjelaskan, capex tersebut akan digunakan untuk penyelesaian pabrik di Lampung, dengan kapasitas beton mencapai 250 ribu ton per tahun, yang ditargetkan memulai produksi massalnya pada Juni 2015. Selain itu, capex juga akan digunakan untuk maintenance dan pengembangan pabrik yang sudah ada. Saat ini Wika Beton memiliki 10 parik di seluruh wilayah Indonesia dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton per tahun. Dengan selesainya pabrik di lampung, perseroan menargetkan kapasitas produksi mencapai 2,3 juta ton per tahun pada 2015.
"Tahun 2018 kami targetkan kapasitas produksi mencapai 3,3 juta ton per tahun," tandas Entus.
Dia mengungkapkan, untuk pendanaan tahun ini perseroan sudah merasa cukup, sehingga belum ada rencana penggalangan dana lagi.
"Sementara pendanaan masih dari dana IPO. Perseroan juga masih memiliki treasury stock sekitar 4,3 persen, 370 juta lembar, nilainya kira-kira Rp 400 miliar. Kemungkinan dirilis tahun depan, untuk penggunaan mungkin kami akan lihat bagaimana ke depannya," ungkapnya.
Terkait ekspor di Timur Tengah, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk membangun pabri baru di sana.
"Di Arab sedang negosiasi, kami biasanya sesuai policy itu support induk usaha (Wijaya Karya), jika diperlukan, bisa pembangunan pabrik. Untuk investasinya, sebagai gambaran, di dalam negeri misalnya harga tanah di bawah 1 juta per meter persegi, untuk pabrik kapasitas 100 ribu ton/tahun kira-kira akan memakan Rp 100 miliar. Di luar negeri sangat dipengaruhi harga tanah, karena hanya bisa sewa," jelas dia.
Wika Beton saat ini sudah memiliki pabrik di Aljazair, dengan kapasitas 70 ribu ton per tahun, yang dibangun dengan dana sekitar Rp 40-50 miliar. "Kami selalu siap dengan kemungkinan yang ada, tidak harus bangun pabrik baru, bisa juga akuisisi pabrik yang sudah ada, seperti di Dubai, banyak pabrik precast yang sudah tidak beroperasi," ungkapnya.
Sementara untuk ekspansi regional Asia tenggara, perusahaan menyatakan tidak harus dengan pabrik baru. Perseroan akan mengoptimalkan anak usaha di Batam dan Surabaya untuk menjangkau regional, seperti Malaysia, Sngapura, Brunei dan Timor Leste.
Pada perdagangan kemarin, saham WTON ditutup di level Rp 1.085 per saham, dengan PER 26,99 kali. Return on assets (ROA) tercatat 0,45 persen, return on equity (ROE) 0,76 persen, dan debt to equity ratio (DER) 0,7 kali.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




